
🥰🥰Happy Reading🥰🥰
Hari ini adalah hari pertama Abi dan teman-temannya akan berkunjung ke tempat pembuatan tahu Sumedang, yang sudah sangat terkenal diseluruh Indonesia.
Disana mereka akan menyaksikan pembuatan tahu Sumedang, mulai dari proses awal hingga finising.
Mereka juga akan menguji, khalayak pembuatan tahu Sumedang secara klinis.
Mulai dari bahan dasar tahu, air yang digunakan, wadah untuk penyaringan hasil ampas kacang kedelai, perendaman dan pemanasan kacang kedelai, hingga hasil akhir pembentukkan tahu.
Mereka mulai mempelajari cara pembuatan tahu Sumedang, hingga menghasilkan makanan yang enak dan terkenal.
Sangatlah disayangkan, para pekerja pembuatan tahu Sumedang, tidak mendapatkan pelayanan jaminan kesehatan. Dikarenakan mereka hanyalah buru harian lepas, yang digaji oleh pemilik pabrik satu minggu sekali.
Meski demikian, para pekerja itupun sangat bersyukur masih bisa bekerja di pabrik tahu. Meski gaji kecil dan tidak mendapatkan jaminan kesehatan.
Masih banyak orang yang diluar sana, tidak memiliki penghasilan, karena sulitnya pekerjaan disana.
Abi dan teman-teman yang lain, mencoba ikut membuat tahu Sumedang. Mulai dari proses awal yaitu pencucian kacang kedelai dengan air bersih yang mengalir, hingga proses pembentukkan tahu yang kemudian dipotong-potong kecil berbentuk segi empat.
Jam sudah menujukkan angka 12 siang, Abi dan teman-temannya yang lain beristirahat sejenak untuk melaksanakan sholat dzuhur berjama'ah di surau terdekat. Usai sholat Abi dan yang lainnya beristirahat untuk makan siang dirumah Pak Syarif.
Selesai makam siang, mereka kembali ke tempat kerjanya. Disana, mereka disuguhi tahu Sumedang yang sudah digoreng dengan beraneka rasa bumbu, seperti rasa jagung bakar, balado, keju, namun ada juga yang masih original.
"Abi, belum satu hari kita disini, sudah bisa merasakan betapa susahnya proses pembuatan tahu ini. Namun, sekarang kita bisa menikmati hasilnya yang begitu enak." Tutur Zainap yang sedang menikmati tahu Sumedang.
"Yah begitulah Nap, usaha berat kita tidak akan menghianati hasil yang kita dapat. Dibalik kesukaran cara proses pembuatan tahu ini, ada hasil yang memuaskan."
"Iya Bie, saya jadi makin cinta dengan makanan asli Indonesia."
"Sama Nap, saya juga cinta Indonesia dari dulu hingga kini, he.. he.. he.."
"Iya dong, sebagai warga Negara Indonesia yang baik harus cinta tanah air Indonesia, apa lagi kita juga mencintai produk dalam negeri sendiri."
__ADS_1
"Ha.. ha.. ha.." Mereka tertawa bersama.
"Woooh.. teman kita ini lama-lama semakin akrab saja nih, kalian cocok banget tahu. Lebih baik kalian pacaran saja, kalau perlu langsung menikah, he.. he.. he.." Ledek Riko dengan guyonannya.
"Iissh.. kamu tuh Riko, memangnya kamu belum tahu kalau temanmu ini sudah menikah, hah..?" Decak Zainap sebal dengan memberikan pertanyaan.
"Engga.. saya benar-benar engga tahu Nap. Sorry Bie, saya engga tahu kalau kamu sudah menikah. Kenapa kamu engga undang kita, sih? Saya jadi engga enak nih, sama kamu." Tutur Riko merasa bersalah.
"It's Okay Riko, santai bro!" Ucap Abi tersenyum mengembang.
"He.. he.. he.. Bagaimana ceritanya kamu sudah menikah? Calon Dokter muda nan genius, ternyata sudah menikah. Otomatis banyak cewek kampus, pada patah hati berjama'ah, iya engga teman-teman?" Kekeh Riko saat berucap.
"Betul tuh kata Riko, banyak cewek-cewek kampus kita yang patah hati berjama'ah." Ucap Azhar setuju dengan Riko dan yang lainpun ikut mengiyakan ucapan .
"Ha.. ha.. ha.. kalian terlalu berlebihan. Banyak kali di kampus, cowok-cowok tampan lebih dari segalanya dibanding saya." Ujar Abi merendah.
"Banyak Bie, tapi tidak seperti kamu yang genius dan baik hati. Apa lagi kamu sangat modis dan keren dalam berpakaian, nyaris bikin orang iri. Meski baju yang kamu pakai tidak berharga mahal, tapi selalu nampak keren dan styles di badan kamu." Puji Yanto jujur sesuai fakta.
"Ck.. puji saja terus.. makin terbang tuh orang. Ck.. Nazis!" Decak Jhony sebal.
"Iish.. males saja liat tuh orang, gayaknya sok pintar, sok keren, sok sholeh dan sok paling ganteng! Ayo Nis kita pergi, malas gue disini." Hardik Jhony, lalu pergi meninggalkan mereka. Denispun mengikuti Jhony pergi.
"Aiish.. iri? Bilang Boss!" Ledek Yanto berteriak kearah Robby dan Denis.
"Tuh anak lagi kesambet apa sih? Kenapa ketus banget sama kamu, Bie?" Tanya Riko merasa heran.
"Engga tahu." Jawab Abi, lalu menggidikkan bahunya.
"Biasa lah Riko, kalau orang lebih unggul diatas si Jhoni, pasti dia merasa iri dan engga mau kesaing. Loe kayak baru kenal dia saja. Dari dulu 'kan sama Abi, dia engga pernah baik." Tutur Yanto benar adanya.
"Huus.. sudah.. sudah engga baik loh ngomongin orang yang sudah pergi. Namanya ghibah!" Tutur Zainap menghentikan obrolan tidak berpaedah.
"Baik Ibu Ustadzah Zainab, he.. he.. he.." Ucap Yanto terkekeh, lalu yang lainnya ikut tekekeh.
__ADS_1
"Abi.. saya gabung sama yang lain dulu yah, engga enak takut dicariin. Assalamu'alaikum..." Pamit Zainap mengucap salam.
"Iya Nap,Wa'alaikumussalam.." Sahut Abi dan yang lainnya menjawab salam.
"Bie, kamu belum jawab pertanyaan saya tadi?" Ujar Riko masih menagih jawaban Abi.
"Pertanyaan yang tadi, Ko? Kirain kamu sudah lupa? He.. he.. he.."
"Ayo lah Bie, cerita!" Bujuk Riko dan yang lainpun mengiyakan.
Abipun akhirnya menceritakan tentang cinta pertamanya, bagaimana dia sampai terpisah dan bertemu lagi dengan wanita yang begitu sangat dia cintai. Lalu diapun mengambil keputusan, untuk segera menikahi wanita itu.
"Cerita kamu sungguh unik Bie! Memang kalau jodoh engga kemana yah? Meski sudah menikah dan pergi jauh, takdir tetap mempertemukan kalian. Selamat yah Bie atas pernikahan kamu dan istrinya. Semoga SAMAWA dan bahagia dunia akhirat, maaf telat ngucapinnya." Tutur Riko tulus, lalu anak yang lainpun ikut memberikan selamat kepada Abi.
"Terima kasih doanya yah, teman-teman semua. Saya juga minta maaf, tidak mengundang kalian." Ucap Abi dengan senyuman mengembang.
"Iya Bie, saya masih engga nyangka loh, kalau kamu sudah menikah." Ujar Azhar.
"Iya Zar, saya juga masih engga percaya, ternyata kapten kita diam-diam menikah, he.. he.. he.." Tutur Yanto masih engga percaya.
"Aiish.. bisa saja kamu Yanto, saya engga diam-diam menikah. Tapi, menikah diam-diam, he.. he.. he.." Decak Abi terkekeh, menimpali ledekkan teman sesama jurusan.
"Ha.. ha.. ha.. bisa juga teman kita bercanda. Biasanya selalu dingin dan serius." Ledek Yanto tertawa puas.
"Ayo kita mulai kerja lagi, tidak enak sama yang lain. Masa kita masih duduk-duduk saja disini." Kata Abi langsung bangkit dari tempat duduknya.
"Ayo, mari kita kerja." Ajak Riko menimpali.
Akhirnya merekapun kembali bekerja, bergabung dengan yang lainnya.
"Waah.. bagus.. bagus.. baru datang jam segini? Sekalian saja engga usah datang lagi kalian!"
--BERSAMBUNG--
__ADS_1
...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips juga komentarnya yah. Terima kasih.🙏🙏...