
🥰🥰Happy Reading🥰🥰
Tuan Robby tersenyum, setelah bertanya tentang dirinya yang boleh bergabung atau tidak.
Semua mata tertuju kepada Tuan Robby, saat suara baritonnya memecahkan suasana haru mereka.
Mariam tertunduk, saat mata Robby bersirobak sesaat dengan mata indahnya. Sungguh Mariam merasa serba salah dengan situasi yang ada. Dirinya ingin pergi dari tempatnya duduk saat ini, ataupun menghilang untuk sementara.
"Silahkan Pah, duduk disini dekat Abi." Ajak Abi seraya menepuk tempat kosong disebelahnya.
"Terima kasih, sayang. Anak Papa yang sholeh dan baik." Ucap Robby seraya berjalan membungkuk duduk disamping Abi.
"Iya Pah, sama-sama." Sahut Abi dengan mengulum senyum.
"Kalian sedang melepas kangen yah? Anak Papa dan Mbo Tami begitu haru, Papa melihatnya."
"Iya Pah, Abi kangen banget sama Mbo Tami dan Pak Iwan."
"Iya Tuan, Mbo Tami sangat rindu sama Abi. Sudah empat tahun tidak bertemu." Ujar Mbo Tami jujur, lalu dianggukkan oleh Pak Iwan seraya tersenyum.
"Iya Abi sayang, Mbo Tami dan Pak Iwan. Semua karena kesalahan saya di masa lalu. Maafkan saya, sudah memisahkan kalian." Sesalnya Robby atas kesalahannya.
"Iya Pah, Abi 'kan sudah memaafkannya tadi."
"Iya, Papa lupa. Ooh iya, Abi sayang, apa kamu mau tinggal di rumah Papa lagi?" Tanya Robby dengan mata teduhnya yang menghiba.
"Eem.. bagaimana yah, Pah? Abi harus tanya sama Mama dan Khumaira Abi dulu." Sahut Abi, dengan melirikkan matanya ke arah istri dan Mama Mariam.
Mama Mariam hanya menggelengkan kepalanya, sedangkan Ningrum berkata. "Terserah Al-habib saja, kalau saya tinggal dimana saja, dan mengikuti apa kemauan suami."
Papa Robby tersenyum lebar, saat menantunya mau ikut kemanapun suaminya tinggal. Berarti ada kesempatan, untuk Abi anaknya tinggal di rumahnya kembali.
"Tuh Abi sayang, istri kamu mau ikut kemana saja kamu tinggal dan siap berada disisimu. Abi sayang, saat ini kamu sudah bekerja atau kuliah?"
"Abi masih kuliah Pah, tapi terkadang Abi membantu mengajar disini sebagai guru pengganti, untuk para guru Ustad dan Ustadzah yang sedang berhalangan." Ujar Abi jujur seraya menggenggam tangan istrinya erat.
"Ooh.. Alhamdullilah, kamu kuliah nyambi menjadi pengajar disini. Kamu kuliah dimana, sayang?"
__ADS_1
"Abi kuliah di Jakarta Pah, di Universitas XX jurusan kedokteran."
"Waah.. kamu pintar sayang, mengambil jurusan kedokteran." Puji Papa Robby dengan kagum.
"Abi bercita-cita, ingin mendirikan Rumah Sakit gratis Pah, untuk orang-orang tidak mampu. Saat ini biaya Rumah Sakit, sangatlah mahal dan mencekik bagi orang-orang yang hidupnya pas-pasan, Pah."
"Ooh.. begitu, Makanya kamu ambil jurusan kedokteran, karena cita-citamu yang sangat mulia, bukan?"
"Iya Pah."
"Karena kamu kuliah di Universitas XX di Jakarta, alangkah lebih baiknya kamu tinggal di Jakarta. Di rumah kita kembali, sayang."
"Beri waktu Abi berpikir dan membicarakan perihal ini bersama Mama, istri, Pak Kiai dan Umi juga, Pah."
"Baiklah, Papa tidak akan pernah menyerah sayang. Papa bekerja banting tulang, mengumpulkan harta berupa uang dan Perusahaan. Semua itu untuk kamu, sayang. Semua harta Papa untuk anak Papa satu-satunya, dari wanita yang masih sangat Papa cintai dan sayangi."
"Deg.." Hati Mariam berdetak kencang.
"Mantan suamiku itu, kadang bikin orang lain salah paham saja. Bisa-bisanya mengatakan masih cinta dan sayang kepadaku, dengan cara seperti itu. Sungguh tidak habis pikir Pria didepanku ini, sungguh memalukan.. " Umpat Mariam dalam hatinya.
"Bagaimana yah Pah? Nanti Abi pikir-pikir dulu dan bicarakan soal ini bersama Mama dan istri Abi."
"Iya, Abi sayang. Papa ingin nanti setelah pensiun, Abi sudah pandai menguasai dan menjalani Perusahaan. Papa ingin setelah pensiun, bisa hidup tenang dan damai. Bisa bahagia bersama istri yang sangat mencintai Papa dan juga sebaliknya Papa yang sangat mencintai istri Papa."
"Memangnya, Papa mau menikah lagi?" Abi bertanya dengan wajah serius.
"Iya, sayang. Papa ingin menikah lagi dengan wanita yang sama, yang pernah mengisi hari-hari indah Papa dulu. Papa ingin membahagiakan wanita itu, di sisa usia masa tua Papa nanti. Papa ingin menebus semua dosa dan kesalahan yang pernah Papa perbuat dulu."
"Maksudnya, Papa ingin menikah lagi dengan Mama Mariam?" Tanya Abi langsung tepat sasaran.
"Iya Abi sayang, Papa ingin menikah lagi dengan Mama kamu." Kata Robby serius, sontak saja semua mata menatap Robby dengan penuh tanya dan kagum atas keberaniannya.
"Apakah mantan suamiku, benar-benar serius dengan keinginannya?" Tanya Mariam dalam hatinya.
"Benarkah Tuan Robby, ingin menikah lagi dengan Ibu Mariam?" Tanya Pak Iwan dalam hatinya.
"Waah.. hebat banget Tuan Robby bisa jujur kepada Abi dan Nyonya Mariam." Ucap Mbo Tami dalam hatinya.
__ADS_1
"Papa Robby, usahanya sangat gigih seperti Abi suamiku." Ucap Ningrum dalam hatinya.
Sedangkan Umi Khadijah, Pak Kiai, Ustadzah Madinah dan suaminya Ustad Faris, hanya tersenyum kagum atas kebesaran hati dan nyali Tuan Robby, mengutarakan niat baiknya didepan anaknya dan keluarga barunya.
"Abi sayang, Papa minta tolong sama kamu, boleh?"
"Minta tolong apa, Pah?"
"Minta tolong untuk merayu Mama kamu, agar mau kembali menikah dan rujuk dengan Papa."
"He.. he.. he.. Pah, itu mah diluar kuasa Abi. Papa harus bisa tunjukkan dan usaha buat ngambil hatinya Mama lagi, kalau memang ingin rujuk dan menikah dengan Mama lagi. Dengan otomatis Abi dan istri akan ikut tinggal di Jakarta lagi." Kata Abi yang monohok, seraya terkekeh.
Sontak saja, semua yang mendengar kata-kata Abi langsung tertawa nyaring.
"Ha.. ha.. ha.." Suara tawa mereka pecah.
"Benar tuh kata Den Abi Tuan, saya setuju." Ucap Mbo Tami menyumbangkan suaranya.
"Kalau Bapak sih ikut bahagia, kalau Tuan Robby bisa menikah lagi dengan Ibu Mariam, benar engga Umi?"
"Iya, Umi juga setuju dengan Bapak."
"Madinah dan suami juga setuju, kalau Tuan Robby menikah lagi dengan Ibu Mariam, benarkan suamiku?"
"Iya Tuan, saya juga setuju dengan istri saya, jika Tuan bisa menikah lagi dengan Ibu Mariam."
"Ningrum juga ikut setuju, agar Mama dan Papa hidup bahagia dimasa tua nanti."
"Apa lagi Mbo Tami, sudah mendukung Tuan selalu agar mendapatkan kebahagiaannya kembali bersama Nyonya Mariam. Kasihan Tuan Robby, sudah dibodohi dan dibohongi oleh nenek sihir selama ini. Maafkan kesalahan Tuan Robby yah, Nyonya Mariam." Ujar Mbo Tami seraya meminta maaf untuk Tuan majikannya.
Pak Iwan hanya menganggukan kepalanya saja, dengan semua suara mereka yang ikut berpendapat.
"Kalau Abi terserah Mama, semua keputusan ada di tangan Mama."
--BERSAMBUNG--
...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips komentar yah. Terima kasih....
__ADS_1