
🥰🥰Happy Reading🥰🥰
Di Sumedang, Jawa Barat.
Bus yang dinaiki oleh Abi dan kawan-kawan peserta KKN, baru saja sampai di tempat tujuan.
Dosen yang bertanggung jawab untuk semua tugas Mahasiswa, sudah memberi intruksi sebelum mereka turun dari bus.
Para Mahasiswapun semuanya mengikuti arahan yang diucapan Dosen Tere dan Dosen Julian.
Setelah mereka turun semua dari bus dan membawa semua barang-barang mereka masing-masing, kemudian berjalan cukup jauh hingga akhirnya mereka berkumpul di depan rumah Lurah setempat.
Semua Mahasiswa berjumlah 20 orang, sebelas laki-laki dan sembilan perempuan, yang mengikuti KKN. Dosen Tere dan Dosen Julian harus meminta izin kepada Lurah setempat yang bernama Pak Yusup dan Ibu Nuni, agar tidak ada terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Bapak Lurahpun menerima dengan senang dan terbuka. Penyambutannyapun sungguh luar biasa, untuk para Mahasiswa jurusan Kedokteran Universitas Jakarta.
Para warga desa terpencil di daerah Sumedang itu, ikut menyambut kedatangan mereka. Bapak Lurah, Ketua RW, Ketua RT dan warga desa itu sebelumnya, sudah di survei oleh pihak Universitas.
Daerah yang masih sangat minim kendaraan, seperti motor dan mobil. Desa di Sumedang ini, sebagian warganya banyak yang merantau ke luar daerah, bahkan ke kota Jakarta.
Abi dan Mahasiswa yang lainnya menikmati pemandangan yang terhampar luas, gunung dan bukit yang mengelilingi desa tersebut.
Mata mereka akan dimanjakan dengan pemandian air terjun, kata Lurah tesebut. Namun, membutuhkan waktu yang cukup panjang untuk mencapai kesana.
Setelah Bapak Lurah setempat memberikan sambutan kepada para Mahasiswa dan lokasi-lokasi yang akan di jumpai, mereka langsung diajak ketempat istirahat yang akan mereka tinggali satu sampai dua bulan kedepan.
Dua buah rumah warga yang siap untuk dijadikan tempat penginapan para Mahasiswa, yaitu satu rumah khusus untuk para siswa Laki-laki dan satu rumah lagi untuk siswa perempuan.
Satu rumah warga untuk laki-laki, milik Pasangan suami istri yang bernama Ibu Amah dan Bapak Sarif. Mereka sudah merelakan tempat tinggalnya, untuk menampung para Mahasiswa laki-laki tersebut dengan suka cita.
Karena warga di sini semuanya menggunakan bahasa sunda dan sedikit sekali yang menggunakan bahasa Indonesia, Pak Lurahpun sudah menyiapkan satu orang laki-laki yang akan tinggal di rumah Pak Sarif dan Ibu Amah.
__ADS_1
Laki-laki itu masih muda dan cukup tampan, namanya Ilham Zakaria. Beliau adalah putra Bapak Lurah sendiri, yang baru saja menyelesaikan S1nya di Bandung. Ilham akan menerjemahkan setiap ucapan pasangan suami istri Pak Sarif dan Ibu Amah.
Setelah mereka berkenalan satu persatu, Pak Lurah, Ketua RT dan Ketua RW meninggalkan para Mahasiswa tersebut di rumah Pak Sarif.
Ilham selaku penerjemah, akan siap mengartikan setiap ucapan Pak Sarif dan Ibu Amah. Maka dari itu, Pak Sarif dan Ibu Amah bicara seperlunya saja dengan para Mahasiswa, mereka merasa tidak enak kalau terlalu banyak bicara, dengan bahasa mereka yang berbeda.
"Abdi ngarepkeun anjeun sadayana betah, cicing di bumi anjeun anu sederhana pisan. Salami anjeun cicing di imah ieu, abdi bakal tuang anjeun tilu kali. Nanging, upami aya anu hoyong ngabantosan kuring nyiapkeun tuangeun, kuring bakal ngahargaan pisan."
Artinya dalam bahasa Indonesia. ["Semoga kalian kerasan yah, tingal di rumah Bapak yang sangat sederhana ini. Selama kalian tinggal di rumah ini, saya akan memberikan makan sebanyak tiga kali. Namun, kalau ada yang ingin ikut membantu saya menyiapkan makan, saya sangat berterima kasih."] Ungkap Pak Sarif.
"Siap... Pak Sarif. Kami akan siap membantu tugas dan kewajiban selama tinggal di rumah Pak Sarif dan Ibu Amah." Sahut Abi dan Mahasiswa laki-laki lainnya ikut menimpali dengan lantang.
Ilhampun langsung menerjemahkan bahasa Indonesia kedalam bahasa Sunda, untuk Pak Sarif dan Ibu Amah. Jadi, setiap ada pembicaraan antara Pak Sarif dan Ibu Amah dengan para Mahasiswa, Ilham langsung mengartikan bahasa mereka.
"Hatur nuhun atuh, Ujang anu kararasep jeng gararanteng teh."
Artinya, "[Terima kasih, anak-anak yang tampan dan ganteng."]
"Kata Pak Sarif dan Ibu Amah, sekarang kalian boleh memilih kamarnya. Semuanya ada tiga kamar, jadi satu kamar bisa tiga atau empat orang yah." Jelas Ilham didepan kamar yang sudah tersedia.
Kamar tersebut, berisi dua lemari pakaian yang sengaja sudah dikosongkan dan satu kasur lantai berukuran besar. Selebihnya, ada alas tikar yang terbuat dari anyaman daun pandan.
Abi satu kamar dengan Riko dan Azhar, mereka hanya bertiga saja. Sedangkan yang lainnya masuk kekamarnya masing-masing, terdiri dari empat orang setiap kamarnya.
Abi dan kedua temannyapun beristirahat sejenak, setelah perjalanan mereka yang cukup melelahkan.
*******
Mbo Tami dan Pak Wahyu mengucapkan terima kasih kepada Nyonya Mariam, karena sudah mau mampir lagi kerumah mantan suaminya.
Mariam dan Ningrum akan segera meninggalkan rumah Tuan Robby, setelah mereka makan siang bersama tadi.
__ADS_1
Tuan Robby memaksa ingin mengantar mereka pulang, padahal Mariam sudah menolaknya dengan cara halus. Namun, Robby tidak ada kata penolakkan dalam kamus hidupnya.
"Sungguh pria keras kepala seperti batu, sudah ditolak dan diacuhkan, masih saja tidak ada kata menyerah." Bathin Mariam mengumpat kesal.
"Iya sudah Mah, biarkan saja kalau Papa ingin mengantar kita. Jadi, dijalan kita akan merasa aman, kalau Papa ikut mengantar kita." Bujuk Ningrum pada akhirnya.
"Ummp.. iya terserah lah, kalau maunya dia seperti itu." Ucap Mariam menyerah pada akhirnya.
"Iyes.. terima kasih sayang, terima kasih sudah membujuk Mamamu untuk Papa." Ucap Robby senang tidak terkira, hingga senyumnya sungguh merekah sempurna.
"TERPAKSA.. !" Ucap Mariam ketus, saat mantan suaminya masih mengembangkan senyumnya.
"Tidak masalah, memang sesuatu itu menuju lebih baik dan indah harus dipaksakan. Kalau kita menyerah dan putus asa tanpa perjuangan, mana bisa kebahagiaan akan menghampiri kita? Betul engga Mbo Tami, Pak Wahyu dan Nak Ningrum sayang?"
"B.. betul Tuan." Jawab Mbo Tami dan Pak Wahyu bersamaan, sedangkan Ningrum hanya mengangguk pelan.
"He.. he.. he.." Robby terkekeh, lalu diikuti yang lainnya. Sedangkan Mariam sudah semakin kesal dan jengkel. Mariampun akhirnya berjalan terlebih dahulu menuju mobilnya, meninggalkan mereka yang masih menertawakannya.
Semakin Mariam marah dan kesal, semakin menggemaskan menurut Robby. "Kamu itu ibarat pepatah, jinak-jinak merpati Mariam, semakin dikejar semakin menjauh. Biarkan sekarang ini aku akan terus mengejarmu, nanti bila aku sudah lelah, aku akan berhenti pada akhirnya." Robby bergumam pelan.
"Ayo Pah, kenapa diam saja? Apa Papa menyerah? Apa Papa tidak jadi mengantar kami?" Tanya Ningrum saat melihat Papa mertuanya melamun dan terpaku berdiri ditempat.
"Tidak Nak, Papa akan mengantar kalian. Ayo.. capcus.." Ucap Robby, lalu berjalan kearah mobilnya.
Ningrumpun tersenyum dan memberikan semangat untuk perjuangan Papa mertuanya. " Semangat Pah, Ningrum akan selalu mendukung Papa." Ucap Ningrum melewati Papa Robby yang sedang berjalan gontai.
Papa Robby yang mendengar hal itu seketika tersenyum, dia merasa senang karena orang-orang disekitarnya mendukung hubungannya dengan Mariam untuk kembali bersama.
--BERSAMBUNG--
...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips juga komentarnya yah. Terima kasih.🙏🙏...
__ADS_1