
🥰🥰Happy Reading🥰🥰
Di Pondok Pesantren.
Dua minggu sudah berlalu, hari ini adalah hari pernikahan Abi Maulana Dirgantara dengan Ibu Ningrum chantika Maharani. Abi sudah nampak gagah dan tampan, dengan stelan baju jasnya yang berwarna serba putih.
Mama Mariampun demikian, sudah nampak cantik dan anggun, dengan baju kebaya berwarna putih.
Keluarga Bapak Kiai Zain Ahmad dan Umi Khadijahpun, sudah siap untuk menghadiri Pernikahan Abi dan Ningrum. Bapak Kiai Zain akan menjadi saksi pernikahan Abi dan Ningrum.
Tidak ketinggalan juga, Ustadzah Madinah juga nampak cantik dan anggun, mengenakan baju kebaya bernuansa putih. Suaminyapun demikian, Ustad Faris sudah nampak gagah dan tampan dengan stelan jasnya.
Mereka sudah bersiap, dengan mobil pribadi milik keluarga besar Kiai Zain Ahmad. Para guru-guru dan Ustad, Ustadzah Pondok Pesantren, tidak lupa sebagian Santriwati, yang ikut menghadiri Pernikahan Ibu gurunya, khususnya kelas sebelas.
Mobil iring-iringan besan, sudah melaju meninggalkan halaman Pondok Pesantren. Hanya butuh waktu kurang lebih satu jam, keluarga besan dari pihak mempelai laki-laki sudah memasuki area parkir keluarga mempelai perempuan.
Semua rombongan besan, disambut dengan antusias dan terhormat oleh keluarga mempelai perempuan.
Ramah tamah dan jamuan telah tersedia, semua besan tamu menempati tempat yang sudah tersedia dan menikmati jamuan lezat yang ada diatas meja.
Abi di gandeng oleh Mama Mariam, senyum merekah dari keduanya nampak sangat berseri. Abi sangat bahagia, bisa menikahi wanita yang sangat dia cintai kini, meski harus melewati godaan dan cobaan dalam hidupnya selama 4 tahun ini.
Mama Mariampun sangat bahagia, meski pernikahan anaknya yang masih terlampau muda, dan tanpa didampingi oleh mantan suaminya.
Abi dan Mama Mariam sengaja tidak memberitahukan pernikahan anaknya, karena Mereka tidak ingin mengganggu dan berhubungan lagi, dengan mantan suaminya itu.
Acara Akad Nikah akan segera dilaksanakan, Abi menduduki bangku yang berada tepat dihadapan Papa Bondan, yang merupakan Ayah mertua, sekaligus wali nikah mempelai perempuan.
*******
Ibu Ningrum sudah di dandani oleh MUA, dia sangat cantik dan anggun dengan Pakaian pengantin muslimnya.
"Sayang, pernikahan kali ini kamu nampak sangat bahagia, kamu lebih cantik dan lebih bersinar." Puji Mama Anita jujur, kepada anak semata wayangnya itu.
__ADS_1
"Aah... yang benar Mah? Masa bisa begitu? Ningrum jadi malu Mah."
"Engga ko, Mama berkata jujur sayang. Maafin Mama dulu sempat meragukan cinta Nak Abi kepada kamu. Ternyata, meski kamu sudah menjadi janda, jodoh kamu memang dengan Nak Abi. Padahal Mama sudah berusaha mencarikan suami untukmu, kamu selalu menolaknya." Ujar Mama Anita, saat mengingat-ingat masa itu.
"Hi.. hi.. hi.. iya Mah, Ningrum juga minta maaf, tapi cinta itu tidak bisa dipaksakan, meski terjadi pasti akan berpisah pada akhirnya. Entah itu dengan cara perceraian ataupun dengan cara diambil oleh yang maha kuasa." Ungkap isi hati Ningrum.
Mama Anita dan Ningrum seketika menangis pilu, menyesali apa yang sudah terlewati. Meski cinta mereka beda usia, namun siapa sangka mereka bisa bersatu. Semua karena sudah suratan takdir, akan jodoh yang mereka dapatkan.
Mama Anita dan Papa Bondan sudah mengatakan kepada Ningrum, jika mereka tidak akan memaksakan kehendaknya lagi soal jodoh Ningrum. Mereka mau menerima semua keputusan yang diambil anaknya, yang penting itu baik.
"Terima kasih Mah, sudah mau merestui Pernikahan Ningrum bersama Abi kali ini." Ucap Ningrum tulus, dengan menitikkan air mata.
"Sama-sama sayang, kamu tetap tunggu disini, Mama mau menghampiri besan Mama, Ibu guru Mariam." Pamit Mama Anita, untuk meninggalkan Ningrum sebentar.
Mama Anitapun menemui Mama Mariam, yang berada diantara para tamu besan. Banyak tamu yang sudah memenuhi tempat duduknya, untuk menyaksikan detik-dekit ijab qabul antara Ibu Ningrum Chantika Maharani dan Abi Maulana Dirgantara.
"Assalamu'alaikum, Jeng Mariam." Salam Mama Anita, saat bertemu dengan Mama Mariam.
"Wa'alaikumsalam, Jeng Anita." Jawab salam Mama Mariam, seraya berangkulan cipika-cipiki.
"Baiklah, ayo kalau begitu." Ucapnya Mariam, seraya berdiri mengikuti langkah kaki Mama Anita.
Sesampainya dipintu kamar Ningrum, betapa kagumnya Mama Mariam, saat memandang wajah cantik dan ayu menantunya itu.
"Woow.. kamu cantik sekalih sayang! Sampai pangling melihatnya."
"Aah.. Tante suka berlebihan, Ningrum GR ini jadinya." Ucap Ningrum malu.
"Mulai sekarang jangan panggil saya Tante, panggil saya Mama yah, sayang." Pinta Mama Mariam dengan senang hati.
"Eemm.. iya Mama." Sahut Ningrum sedikit malu-malu.
Acara akad nikah sudah akan dimulai, sesaat setelah terdengar suara seorang Qori melantunkan ayat suci Al-qur'an.
__ADS_1
Mama Mariam, Mama Anita dan Ningrum terdiam, mendengarkan dengan takzim suara lantunan Al-qur'an yang terdengar.
*******
Setelah Qori itu selesai membacakan ayat suci Al-qur'an, acara selanjutnya yaitu mendengarkan tausiah dari salah satu Ustad di Pondok Pesantren, yaitu Ustad Faris suami dari Ustadzah Madinah..
Ustad Faris memberikan nasehat Pernikahan, mengenai pentingnya pondasi Agama dalam berumah tangga. Nilai-nilai kesetiaan dan kejujuran juga sangat penting. Kita harus bisa menjalin komunikasi yang baik dengan pasangan. Lalu harus menciptakan keharmonisan dalam berumah tangga.
Ustad Faris hanya memberikan tausiahnya secukupnya, diapun mengakhiri dengan mengucap salam kepada para tamu yang hadir di acara Pernikahan Adik iparnya bersama Abi.
"Acara selanjutnya, yang sangat kita nanti-nantikan yaitu, acara ijab qabul yang akan dilakukan oleh Wali Nikah Bapak Bondan Prawira dengan Mempelai Pria yang bernama Abi Maulana Dirgantara. Kepadanya kami persilahkan." Ucap MC pernikahan.
Pak Penghulu langsung bersiap, untuk mengarahkan tangan Pak Bondan dan Abi untuk saling bersalaman tangan. Keduanya nampak tegang satu sama lainnya. Meski Pak Bondan bukan yang pertama kali melakukan ini, namun tetap saja rasa gugup masih nampak dirasakannya.
"Apakah Pak Bondan Prawira sudah siap, untuk menikahkan putrinya yang bernama Ningrum Chantika Maharani dengan saudara Abi Maulana Dirgantara?" Tanya Bapak Penghulu.
"S.. siap Pak Penghulu." Sahut Papa Bondan, sedikit gugup.
"Baiklah kalau begitu, silahkan sekarang sudah bisa dilakukan Ijab Qabulnya." Ujar Pak Penghulu.
Pak Bondanpun langsung mengeratkan jari tangannya, bersalaman dengan Abi calon menantunya.
"Bismillahirohmanirohim, Saya nikahkan dan kawinkan Abi Maulana Dirgantara bin Robby Dirgantara dengan anak saya yang bernama Ningrum Chantika Maharani binti Bondan Prawira dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan cincin mas 10 gram dibayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Ningrum Chantika Maharani binti Bondan Prawira dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
"Apakah SAH..?" Tanya Pak Penghulu.
"SAH..." Jawab para tamu undangan yang hadir.
"Alhamdullilah Barakalloh Nak Abi dan Pak Bondan, sekarang kalian resmi menjadi mertua dan menantu." Ucap Pak Penghulu memberikan selamat.
"Terima kasih, Pak Penghulu." Ucap Pak Bondan dan Abi bersamaan. Keduanyapun saling berpelukkan karena haru dan bahagia.
__ADS_1
--BERSAMBUNG--
...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips komentar yah. Terima kasih....