CINTA YANG DIABAIKAN

CINTA YANG DIABAIKAN
Bab 98. Shaka yang Mesum.


__ADS_3

Satu jam lebih Alana dan Shaka duduk di pelaminan menerima ucapan selamat dan doa-doa dari keluarga dan kerabat terdekat.


Semua tampak ikut bahagia menyaksikan pernikahan adik bungsu Gibran. Namun, keluarga juga merasa sedih karena pernikahan Alana tidak bisa dihadiri ayah sebagai wali nikah.


Ayah sangat menyayangi Alana. Jika saja ia masih ada di dunia, pasti ia orang yang paling bahagia karena bisa menyaksikan pernikahan putri bungsunya.


Setelah tamu undangan mulai pamit, Alana dan Shaka juga ikut pamit. Alana sudah merasa pegal dan capek karena harus duduk manis dipelaminan.


Pesta yang akan diadakan malam hari nanti, Alana dan Shaka tidak perlu duduk dipelaminan. Mereka memilih konsep bebas. Di mana kedua pengantin ikut berbaur dengan tamu undangan.


Alana masuk ke kamar pengantin yang disediakan pihak hotel sebagai hadiah dan bonus dari hotel.


Gadis itu memandangi kamar pengantin itu dengan mulut terbuka dan mata melotot. Ia tidak menyangka pihak hotel akan menyiapkan kamar seromantis ini.



"Ayo masuk, ini baru awal pernikahan. Belum bulan madu," ucap Shaka mengagetkan Alana dari lamunannya.


"Kenapa di dekorasi begini. Ini belum malam."


"Nggak perlu tunggu malam. Yang pasti kita udah nikah dan sah di dalam agama dan negara."


Shaka mengunci pintu kamar dan dengan tiba-tiba menggendong Alana menuju ranjang. Shaka menurunkan Alana dengan pelan ke atas ranjang.


"Kak Shaka mau apa?" tanya Alana.


"Mau nagih ucapanmu. Nyicil satu ronde dulu."


"Maksud Kak Shaka apa?" tanya Alana lagi.

__ADS_1


"Jangan pura-pura nggak tau. Jangan hanya omong doang. Buktikan kamu akan membayar kontan mas kawin yang kakak berikan."


Mendengar ucapan Shaka, Alana mundur. Hingga membentur kepala ranjang. Shaka yang emang ingin menggoda Alana naik ke atas ranjang dan mendekati Alana, yang saat ini telah berubah status menjadi istrinya.


"Kakak ... jangan macam-macam!" ucap Alana dengan sedikit berteriak.


"Nggak kok, satu macam aja. Kak Shaka ingin menagih janjimu saat ini juga."


"Nanti kita mau pesta."


"Kenapa emangnya kalau nanti pesta?" tanya Shaka.


"Nggak mungkin kita begituan sekarang."


"Begituan apa?" tanya Shaka pura-pura tidak paham.


"Itu ... yang kakak inginkan."


"Berhubungan badan," teriak Alana. Shaka akhirnya tertawa, lucu melihat wajah kesal Alana.


"Emang kamu telah siap?" tanya Shaka.


"Katanya dosa kalau menolak keinginan suami yang ingin gituan."


"Kamu tau itu. Jadi nggak boleh menolak ya?"


"Tapi ...."


"Tapi apa?" tanya Shaka.

__ADS_1


"Menurut temanku yang udah nikah, dan dari internet, pertama melakukan itu sakit. Nanti kalau aku sakit, nggak jadi pesta."


"Nggak akan sakit, percaya aja denganku."


Shaka berdiri dan membuka pakaiannya. Alana melihatnya tanpa kedip apa yang dilakukan Shaka. Saat ini Shaka telah bertelanjang dada. Shaka membuka celananya.


"Kakak mau apa? Jangan sekarang!" ucap Alana sedikit teriak.


"Untung kamar ini kedap suara. Kalau nggak pasti semua orang udah dengar suara teriakan kamu."


Shaka saat ini hanya memakai celana pendek. Ia kembali naik ke atas ranjang, mendekati Alana.


Shaka mengukung tubuh Alana dan mendekatkan wajahnya ke wajah Alana. Spontan Alana menutup wajahnya.


"Kakak mau cium aku, ya?" tanya Alana dengan polosnya.


"Kamu mau di cium?"


"Kalau hanya cium, bolehlah. Tapi yang itunya nanti malam aja. Aku takut ... belum siap."


"Kita lihat aja nanti. Kalau adik Kak Shaka nggak memberontak. Namun kalau ia mengamuk ingin keluar, kamu harus menjinakkan adik kecil kakak ini."


"Adik kecil? Emang Kak Shaka ada adik kecil?"


"Ini ...." tunjuk Shaka ke pusaka miliknya. Alana yang baru mengerti ucapan Shaka menjadi emosi.


"Dasar mesum," ucap Alana memukul Dada, lengan dan badan Shaka lainnya.


Alana tidak mengira jika Shaka yang pendiam bisa juga mesum.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2