CINTA YANG DIABAIKAN

CINTA YANG DIABAIKAN
Bab 51. Bertemu Shaka Kembali.


__ADS_3

Arumi berjalan memasuki sebuah mini market dengan langkah pelan. Sehabis mengantar paket pesanan pelanggannya, Arumi teringat jika di kulkas sudah nggak ada bahan makanan.


Arumi membeli makanan yang dibutuhkan untuk tiga hari ke depan. Ia sengaja melakukan itu agar tak sering belanja.


Saat akan mengambil sarden tangan Arumi dipegang seseorang. Ia menoleh ke belakang.


"Shaka ...." lanjut Arumi.


Shaka kaget melihat perut Arumi yang telah membesar. Ia hanya terdiam tanpa menjawab sapaan Arumi.


"Shaka ...."panggil Arumi sambil melambaikan tangannya didepan wajah Shaka.


"Kamu udah menikah lagi?" tanya Shaka akhirnya.


"Belum."


"Itu ... kamu hamil anak siapa?"


"Mas Gibran,"


"Gibran?"


Arumi tersenyum melihat wajah Shaka yang memandangi dirinya dengan cengo. Ia mengagetkan Shaka dengan memukul lengannya.

__ADS_1


"Kita makan di kafe depan itu aja, ya?" ucap Arumi mengagetkan Shaka.


"Baiklah."


Arumi berjalan menuju kasir untuk melakukan pembayaran. Saat akan menyerahkan uangnya, Shaka terlebih dahulu membayar.


Arumi telah menolak, tapi Shaka tetap ingin ia yang membayar. Tak enak hati dengan kasir yang menunggu pembayaran, Arumi menerima niat baik mereka.


Shaka dan Arumi berjalan menuju kafe yang ada di seberang mini maret. Mereka hanya berjalan kaki.


Mereka memilih duduk paling sudut dalam. Setelah memesan makanan, barulah Arumi memulai percakapan.


"Kebetulan banget bertemu kamu di sini. Lagi ngapain?" tanya Arumi.


"Ternyata kamu di sini. Aku datangi rumahmu, bibi mengatakan kamu ke Yogyakarta. Aku coba mencarimu, tapi pekerja di rumah orang tuamu mengatakan kamu ada di Jakarta."


"Nggak, ceritanya panjang. Itu juga sebenarnya aku malu mengatakannya."


"Malu? kenapa malu?"


"Aib keluargaku."


"Oke, jika kamu tak mau cerita." Shaka diam setelah mengatakan itu.

__ADS_1


Arumi menarik nafas. Akhirnya ia mengatakan semua yang terjadi pada dirinya. Di mulai saat ia dinyatakan hamil anaknya Gibran.


Arumi yang tidak ingin pisah dari anaknya, memilih kabur dari Villa.


"Berarti hingga saat ini orang tuamu tidak mengetahui keberadaanmu?


"Nggak. Tapi aku selalu menanyakan kabar papa dan mama dari orang kepercayaannya."


"Arumi, menurutku seharusnya kamu jangan bersembunyi. Kamu beri pengertian lada kedua orang tuamu. Pasti dari hatinya tak menginginkan itu. Semua hanya karena rasa kecewanya pada keadaan."


Arumi terdiam mendengar perkataan Shaka. Ucapan pria itu ada benarnya. Seharusnya ia juga jangan terbawa emosi.


"Mungkin kedua orang tuamu terlalu berharap pada gibran. Mereka telah percaya spenuh hati pada pria itu. Mendapati kenyataan tak seindah harapan, mereka sangat kecewa."


"Belum hilang rasa kecewa mereka pada Gibran, kamu mengabarkan kehamilanmu. Akhirnya calon bayi yang tak berdosa itu yang menjadi sasaran pelampiasan kemarahan."


"Anakku tak bersalah, kenapa mereka ingin membunuhnya?"


"Aku tau Arumi. Aku juga tak membenarkan semua perkataan dan perlakuan orang tuamu. Cuma sebagai anak, tak seharusnya kamu juga ikutan terbawa emosi dengan bersembunyi. Pastilah kedua orang tuamu saat ini sangat kuatir. Jangan nanti kamu yang menyesal karena memilih menjauh."


Arumi hanya diam mendengar ucapan Shaka. Wanita itu mengakui perkataan Shaka ada benarnya. Seharusnya hari itu ia jangan terbawa emosi dengan kabur dari kedua orangnya


"Ingat Arumi, setiap orang tua menginginkan yang terbaik buat anaknya. Namun terkadang mereka tak menyadari yang terbaik bagi mereka belum tentu yang terbaik untuk anak. Kita seharusnya meyakinkan orang tua jika pilihan kita tepat dan benar."

__ADS_1


Tanpa terasa air mata Arumi jatuh membasahi pipi. Ia teringat kedua orang tuanya yang begitu sayang padanya. Mungkin Shaka benar, jika apa yang Papa dan Mama katakan saat itu hanya karena mereka terbawa emosi.


Bersambung


__ADS_2