
Joana membuka pintu rumahnya lebih lebar dan mempersilakan Alana dan Shaka masuk. Alana dan Shaka duduk di sofa yang tampak telah lusuh.
"Maaf, aku buat air minum dulu."
"Nggak perlu, Mbak. Kami udah kenyang," ucap Alana.
"Hanya ada air minum. Nggak akan membuat tambah kenyang. Pamit sebentar."
Joana berjalan menuju dapur dan membuatkan dua gelas teh hangat, dan menyajikan buat Alana juga Shaka.
"Minumlah, hanya ada ini. Aku nggak tau akan ada tamu. Biasanya nggak ada yang mau berkunjung ke gubuk aku ini," ucap Joana.
"Terima kasih, Mbak," ujar Shaka.
"Anak Mbak Joana mana?" tanya Alana.
"Lagi tidur, mau apa?"
"Jangan marah gitu, Mbak. Aku cuma tanya."
"Langsung aja, Alana. Tujuan kamu datang ke sini apa? Nggak mungkin kamu hanya sekadar siraturahmi."
"Aku datang emang ada maksud dan tujuannya."
"Dari mana kamu tau alamat rumahku."
__ADS_1
"Dari teman Kak Shaka. Aku minta tolong carikan."
"Pintar benar orang itu bisa menemukan rumahku. Tujuan kamu apa?"
"Santai, Mbak. Jangan ngegas gitu."
"Aku curiga kedatangan kamu ada maksud yang kurang baik. Terakhir kita berjumpa, bukankah kamu minta agar aku nggak muncul lagi kehadapan Arumi atau Gibran. Aku nggak pernah mengganggu mereka, nggak usah takut."
"Hidupku aja udah terlalu banyak banyak masalah, aku nggak akan menambah masalah lagi."
Alana terdiam mendengar ucapan Joana. Apakah mantan kekasih Mas Gibran ini, telah benar-benar berubah. Atau hanya sekadar omongan.
Namun di lihat dari sikapnya, mungkin saja ia telah berubah. Hanya saja Alana berpikir, ia harus tetap waspada. Tidak akan memberikan kesempatan bagi Joana untuk masuk ke kehidupan Mas-nya lagi.
"Sebenarnya aku datang karena permintaan Mbak Arumi."
"Aduh Mbak Joana, jangan berburuk sangka dulu. Pikiran mbak Arumi nggak sejelek itu. Mbak Arumi itu naif, dia nggak pernah berpikir jelek pada siapapun, sekalipun orang itu pernah melakukan kesalahan pada dirinya."
"Tampaknya kamu sangat menyayangi Arumi, sehingga membelanya begitu."
"Tentu aja aku menyayangi mbak Arumi. Aku orang pertama yang terluka saat tau mbak Arumi dan Mas Alan berpisah," ucap Alana.
Ia tersenyum pada Joana sebelum melanjutkan ucapannya. Shaka hanya mendengar tanpa mau ikut campur. Baginya ini masalah keluarga Alana. Dia tidak akan ikut campur.
Shaka hanya menemani Alana, sebagai calon suami ia hanya ingin menjaga Alana dan memastikan gadis itu baik-baik saja.
__ADS_1
"Apa yang Arumi inginkan?" tanya Joana lagi.
"Mbak Arumi meminta aku menyerahkan ini."
Alana mengambil amplop yang Arumi titipkan dari dalam tas. Ia menyodorkan kehadapan Joana. Wanita itu memandangi tanpa kedip.
"Buat apa ini? Agar aku menjauh dari kota ini."
"Aduh Mbak Joana ... jangan selalu berpikir jelek. Mbak Arumi memberikan ini hanya untuk membantu pengobatan anak Mbak."
"Aku takut menerimanya."
"Kenapa takut? Mbak Arumi ikhlas memberikan semua ini."
"Apa Arumi nggak ada maksud lain?"
"Mbak ... harus berapa kali aku katakan, Mbak Arumi itu nggak pernah berpikir jelek pada siapapun, walau orang itu pernah jahat dengannya. Ia ikhlas memberikan ini buat pengobatan anak Mbak Joana."
"Aku mau bertemu Arumi. Aku ingin bicara dengannya berdua. Setelah itu baru aku mau menerima bantuannya. Aku ingin tau apa maksudnya mmeberikan bantuan."
"Kalau itu, aku nggak izinkan. Makanya aku yang menjadi perwakilan Mbak Arumi. Maaf, aku nggak mau Mbak Arumi disakiti lagi. Cukup sudah selama ini mas Gibran menyakitinya."
Joana memandangi Alana dengan intens. Ia tau Alana sangat membencinya. Namun Joana tidak pernah mengira jika Alana sangat melindungi Arumi hingga begini.
Bersambung
__ADS_1
Apakah Joana akan menerima bantuan dari Arumi? Nantikan terus kelanjutan novel ini. Lope-lope sekebon buat semuanya. 😍😍😍😍