CINTA YANG DIABAIKAN

CINTA YANG DIABAIKAN
Bab 87. Kepergian Gibran.


__ADS_3

Gibran tampak berat hati untuk kembali ke Brunei. Ia kembali naik ke ranjang dan tidur di samping putranya.


Arumi tahu pasti, jika Gibran pasti enggan kembali ke Brunei. Sebenarnya Arumi juga tidak ingin. suaminya itu berangkat lagi. Namun ia tidak mungkin mencegahnya. Tanggung jawab Gibran masih ada diperusahaan.


Tiga bulan lagi, kontrak kerja Gibran selesai dengan temannya. Ia akan mencoba menjalani lagi perusahaan papa Arumi yang telah bangkrut.


Gibran berharap, ia bisa mengembalikan kejayaan perusahaan itu. Semua demi Rendra. Gibran ingin anaknya itu memiliki masa depan yang lebih baik dari dirinya.


"Berat rasanya aku meninggalkan kamu dan Rendra. Aku ingin di sini terus."


"Hanya tinggal tiga bulan masa kerja, Mas. Setelah itu kita dapat berkumpul setiap harinya."


"Tiga bulan lagi, setelah aku resign dari perusahaan sahabatku itu, aku akan menikahkan Alana. Baru fokus membangun kembali perusahaan dan mengembalikan masa kejayaannya."


"Semoga apa yang Mas inginkan dapat terwujud. Perusahaan itu kebanggaan papa. Aku juga ingin perusahaan itu kembali."


"Aku akan berusaha semampuku. Demi kamu dan Rendra."


"Jam berapa pesawatnya berangkat, Mas?"


"Dua jam lagi."


"Kenapa Mas belum berangkat, nanti telat."


"Aku masih ingin bermain dengan Rendra sebentar." Gibran meraih tangan Rendra, dan mengecupnya. Ia juga memainkan jari mungil putranya itu. Setengah jam bermain, akhirnya Gibran pamit.


Arumi mengantar kepergian suaminya hingga ke depan. Arumi tampak sedih. Ia telah terbiasa ada Gibran. Setiap malam Gibran yang lebih sering begadang menjaga putra mereka. Kebetulan Rendra juga meminum susu formula.


"Aku berangkat. Cuma seminggu. Selama aku di Brunei, aku udah minta Alana nginap untuk bantu kamu jagain Rendra."

__ADS_1


"Nggak perlu, Mas. Ada nama yang bisa bantu."


"Biar Alana aja. Kasihan mama harus begadang kalau Rendra lagi rewel."


"Nanti nyusahin Alana."


"Nggak. Lagi pula biar sekalian belajar. Alana juga mau nikah."


"Baiklah Mas. Hati-hati."


"Kamu juga hati-hati. Kalau ada apa-apa cepat kabari dan hubungi aku."


"Baik, Mas."


"Alana dan Shaka nanti akan menemui Joana. Kamu titip aja uangnya dengan mereka."


Gibran mengecup kedua pipi istrinya dan juga dahi Arumi. Mata Arumi tampak berkaca. Gibran lalu menangkup wajah Arumi dengan kedua tangannya. Pria itu mengecup mata Arumi.


"Jangan sedih, aku cuma seminggu. Saat aqiqah Rendra dan tunangan Alana, aku kembali."


Gibran masuk ke mobil. Arumi memandangi sampai mobil hilang dari pandangan. Mama yang sedang mandikan Rendra melihat wajah putrinya yang sedih.


"Kenapa sedih. Gibran pergi cuma seminggu."


"Tapi setelah aqiqah Rendra, mas Gibran akan menetap di Brunei hingga kontraknya selesai. Berarti tiga bulan baru ia kembali."


"Tiga bulan bukan waktu yang lama. Kamu berdoa saja agar pekerjaannya lancar. Semua yang Gibran lakukan juga demi kamu dan Rendra."


"Mama salut dengan Gibran. Kalau mengenai pekerjaan, pasti tanggung jawabnya gede. Ia nggak pernah main-main dalam melakukan sesuatu."

__ADS_1


"Apa mas Gibran bisa mengembalikan mas kejayaan perusahaan papa?" gumam Arumi.


"Pasti. Mama yakin itu."


"Semoga saja, Ma."


Sementara itu di tempat lain, Alana dan Shaka sedang dalam perjalanan menuju rumah Arumi.


"Aku heran, kenapa mbak Arumi masih bisa baik dengan Joana," lirih Alana.


"Kejahatan tidak harus dibalas kejahatan juga. Mungkin dengan Arumi berbuat baik dengannya, Joana akan berubah."


"Mas Gibran beruntung dapat Mbak Arumi yang baik dan lembut. Jika suami aku selingkuh, aku akan potong anu nya. Biar nggak bisa apa-apa lagi," ucap Alana dengan penuh emosi.


"Jangan gitu dong, Alana. Bisa habis anu ku," ujar Shaka.


Alana menatap ke Shaka, ia jadi tertawa melihat wajah Shaka yang ketakutan.


Bersambung


Bonus visual


ALANA



SHAKA


__ADS_1


__ADS_2