
Ibu memandangi Gibran dengan mata berkaca. Air mata itu sudah terasa ingin tumpah membasahi pipinya.
"Kenapa meski harus ke negeri orang, Nak," ucap Ibu terbata.
"Ada teman yang menawari kerjasama. Ia memintaku memimpin perusahaan selama dua tahun sambil ia belajar. Setelah ia mampu menjalani sendiri tanpa bantuanku, barulah aku kembali. Ia akan membagi hasil selama aku yang memegang perusahaan itu."
"Apakah itu berarti, jika temanmu belum bisa memimpin perusahaan kamu belum kembali?"
"Ya, Bu. Aku mohon ibu doakan agar perusahaan temanku itu maju. Ia akan memberikan aku modal untuk membuka usaha kecil di sini nantinya."
"Ibu akan selalu mendoakan kamu."
"Ibu, aku minta maaf ... jika selama ini aku selalu saja mengecewakan ibu. Aku belum bisa jadi anak yang ibu banggakan. Kali ini akan aku buktikan jika aku bisa berdiri dengan usaha aku sendiri."
"Ibu telah memaafkan kamu, Nak."
Gibran memeluk tubuh Ibunya yang tampak semakin kecil dan kurus sejak ayah meninggal.
"Lusa aku akan berangkat. Ini buat Ibu. Sebelum aku bisa mengirimkan uang, aku harap ini cukup untuk biaya ibu dan Alana juga Kak Manda."
Gibran memberikan tabungan yang dulu telah ia buat atas nama ibu. Gibran memberikan semua uang yang ia miliki masuk ke rekening itu.
__ADS_1
Ibu membuka dan melihat nominalnya yang cukup banyak. Ibu menjadi kaget.
"Ini uang dari mana,Nak.Kamu tidak mengambil dari perusahaan Arumi."
"Ibu, aku tak pernah sedikitpun mencuri ini perusahaan walau kesempatan itu ada. Uang yang aku dapat murni dari hasil bonus yang diberikan perusahaan."
"Tapi ini banyak sekali. Untuk kamu aja sebagian. Sebagai pegangan."
"Nggak perlu, Bu.Temanku telah menjamin jika semua kebutuhanku akan dipenuhinya."
"Ini tabungan buat Alana." Gibran menyerahkan satu buku tabungan atas nama Alana adiknya.
"Ibu panggilkan Alana dulu."
"Biar aku saja yang menemuinya, Bu."
Gibran bangun dari duduknya dan menuju kamar Alana. Sejak ayah mereka tiada, Alana tak mau kembali ke Bandung lagi. Ia tak mau melanjutkan kuliah. Ibu dan Manda telah membujuk, tapi gadis itu tetap dengan pendiriannya.
Alana sering termenung dan menangis sendiri di kamar. Gibran yang mengetahui semua itu merasa makin bersalah. Ia merasa semua penyebab masalah dalam keluarganya adalah dirinya.
Gibran mencoba membuka pintu kamar Alana. Beruntung pintu itu tidak terkunci. Gibran masuk dengan melangkahkan kaki secara perlahan.
__ADS_1
Gibran melihat Alana yang sedang duduk di sofa dekat jendela. Pandangan adiknya itu tampak kosong, membuat hati Gibran serasa tersayat sembilu melihat kepedihan yang adiknya rasakan.
Gibran mendekati adiknya dan berjongkok di depan Alana. Gibran menarik tangan Alana pelan dan menggenggamnya.
Dari mata Alana turun air mata, mengalir deras membasahi pipi mulus adiknya. Melihat itu hati Gibran makin terasa perih. Selama ini Alana memang sangat dekat dan manja dengan ayah mereka.
"Alana, maafkan Mas, Dek!"
Alana tidak juga mengalihkan pandangannya dari luar jendela, walau air mata terus tumpah membasahi pipi dan bajunya.
"Alana ... jangan diam begini Dek."
"Mas sadar, kesalahan Mas begitu besarnya. Sekali lagi Mas minta maaf. Mas tak tahan dan sangat sedih melihat kamu begini."
Alana balikkan badannya menghadap Gibran. Dengan mata merah karena marah dan juga karena tangisnya, gadis itu memandangi Gibran dengan sorot mata tajam.
"Pergilah ... aku benci Mas!" teriak Alana.
Hati Gibran terasa sakit dan pedih mendengar ucapan adiknya itu. Salah satu alasan dulu ia mau menerima Arumi karena memikirkan masa depan Alana. Ia ingin adiknya sekolah tinggi, agar menjadi orang sukses.
Bersambung
__ADS_1