
Arumi berjalan dengan cepat melihat mamanya. Wanita paruh paya itu berdiri dari duduknya dan memeluk Arumi erat. Tangis Arumi dan mamanya pecah.
Shaka yang berjalan dibelakang Arumi hanya berdiri menyaksikan kedua ibu dan anak itu saling memeluk dan menumpahkan kerinduan mereka.
Setelah cukup lama berpelukan, Arumi melepaskannya. Ia menghapus air mata yang mengalir di pipi mamanya itu.
Air mata Arumi terus tumpah melihat wajah mamanya. Wanita itu tampak makin kurus. Di wajahnya tampak kelelahan.
"Mama, aku kangen banget," ucap Arumi terbata.
"Kemana aja kamu selama ini? Mama juga kangen."
Arumi mengajak mama duduk. Ia mengecup kedua pipi mama.
"Maafkan aku, Ma. Mama pasti kepikiran saat aku pergi."
"Tentu saja, Nak. Mama takut kamu kenapa-napa. Kamu nggak pernah jauh dari mama. Kalaupun kamu dulu kuliah luar kota, ada bibi yang menemani."
"Aku udah dewasa. Bisa menjaga diriku."
"Ma, Papa bagaimana."
"Arumi, Papa ... Papa,"
"Papa kenapa, Ma."
__ADS_1
"Papa terkena serangan jantung setelah mengetahui jika perusahaan bangkrut. Uang perusahaan di bawa kabur orang kepercayaan Papa," ucap Mama sambil menangis.
Arumi kaget mendengar ucapan Mamanya. Tubuhnya terasa lemah. Arumi merasa ini semua karena salahnya.
"Ini salahku. Seharusnya aku tak pergi dari rumah. Seharusnya aku membantu mengurus perusahaan," gumam Arumi. Namun suaranya masih dapat didengar mama.
"Ini bukan salah kamu, Nak. Jangan menyalahkan diri sendiri."
"Papa pasti sangat berat menerima kenyataan ini. Perusahaan itu kebanggaan Papa."
"Mungkin ini udah menjadi takdir kita, Nak."
"Aku akan menuntut pria itu," ucap Arumi lagi.
"Tapi pria itu memliki bukti jika Papa menyerahkan perusahaan untuknya."
"Mama ingat, Papa pernah cerita jika ia menyerahkan kekuasaan pada orang itu. Mungkin ia merubah kata-katanya. Mama rasa ia bekerja sama dengan pengacara."
"Kenapa jadi begini?"
"Maaf, aku menyela pembicaraan," ucap Shaka.
"Ada apa, Shaka."
"Tante, apakah Tante udah melihat surat kuasa dari Oom."
__ADS_1
"Sudah, pengacara kita sempat melaporkan. Tapi ia memiliki bukti jika Papa telah memberikan perusahaan atas namanya. Itulah mengapa Papa akhirnya terkena serangan jantung setelah melihat bukti itu. Emang tertera tanda tangan Papa."
"Apakah Om tidak membaca baik-baik surat sebelum di tanda tangani."
"Om itu memang ceroboh. Dulu juga pernah begitu. Tapi hanya penyerahan kerja sama pada pihak lain. Om terlalu percaya dengan orang terdekatnya."
"Perusahaan hampir bangkrut, tapi di rintis dan dikembangkan kembali oleh Gibran. Perusahaan mulai banyak menerima job lagi."
"Aku tetap akan buat perhitungan dengan pria itu," lirih Arumi.
Mata Mama terpaku pada perut buncit Arumi. Baru ia memperhatikan ada perubahan pada diri anaknya itu. Mama memegang perut Arumi dan mengusapnya.
"Apakah kandunganmu sehat?" tanya mama pelan.
"Alhamdulillah sehat, Ma."
Baru saja Arumi akan meneruskan ucapannya. Perawat datang menghampiri mereka. Perawat mengatakan jika Papa telah sadar dan ingin bicara dengan mama.
Arumi dan Mama langsung berdiri. Mereka minta izin masuk berdua sekaligus. Papa melihat kedatangan Arumi tanpa kedip. Dari sudut mata pria separuh baya itu keluar air yang membasahi pipinya.
Arumi mendekati ranjang papa dan memeluknya. Air mata Arumi tumpah membasahi pipi.
"Maafkan aku, Pa.Maafkan ...."
Papa Arumi tidak dapat berkata. Hanya air mata yang keluar dari sudut matanya. Arumi mengecup pipi papanya. Ia juga mencium tangan papa yang banyak terpasang selang.
__ADS_1
Arumi tidak berhentinya mengucapkan kata maaf. Menyesal karena kabur dari rumah.
Bersambung.