
Arumi mengelus perutnya. Saat ini kehamilannya telah memasuki bulan kelima. Setiap malam ia selalu teringat Gibran.
Dulu saat ia mengeluh capek sedikit saja, Gibran pasti akan memijat kakinya hingga ia terlelap. Setelah memastikan Arumi tidur baru Gibran ikut membaringkan tubuhnya sambil memeluk dirinya.
Arumi memijat kakinya yang terasa pegal. Hari ini ia melakukan perjalanan cukup jauh untuk mengantar pesanan pelanggannya. Ia lalu mengusap perutnya.
"Sayang, sehat-sehat aja sampai hari kelahiran. Bunda udah nggak sabar menanti kehadiran kamu. Apa Bunda hubungi aja Ayah kamu mengabari tentang kehadiran kamu di rahim Bunda?"
Sejak pergi dari rumahnya, Arumi mengganti nomor ponselnya. Biar tidak ada yang bisa menghubungi dirinya termasuk Papa dan Mama.
Arumi mencoba membaringkan tubuhnya. Tanpa ia bisa menahan lagi air matanya jatuh. Saat pertama menikah ia sangat mengharapkan kehamilan, tapi Gibran meminta menunda. Padahal Arumi udah membayangkan jika ia hamil pasti akan sangat bahagia.
Arumi sebagai anak tunggal, dari dulu sangat mengharapkan teman untuk berbagi cerita. Ia selalu membayangkan saat hamil akan dimanjakan suami dan kedua orang tuanya.
"Aku mencintaimu sejak awal ada di rahim ini. Kamu mencuri napas dan memeluk hati Bunda, Nak. Kehidupan kita bersama baru saja dimulai. Kamu adalah bagian dari diriku, anakku. Saat semua orang menghina dan menjauhimu, tapi saat itu ibumu tidak pernah menjauh atau pun malu untuk tetap bersamamu.Bunda akan menjagamu, dan membuktikan pada semua jika kamu pantas dibanggakan."
Arumi mencoba memejamkan kedua matanya. Perlaham karena rasa kantuk dan lelah membuat Arumi terbang ke alam mimpinya.
..............
__ADS_1
Satu bulan telah berlalu. Kandungan Arumi makin membesar. Shaka telah dua kali datang menemui Arumi.
Arumi belum juga menyadari jika pria itu menyukai dan mencintai dirinya. Arumi masih berpikir jika perhatian yang Shaka berikan hanyalah sebatas persahabatan.
Seperti hari ini pria itu kembali datang dengan membawa berbagai cemilan buat Arumi. Isi kulkas Arumi akan penuh seketika jika Shaka datang.
"Silakan minum," ucap Arumi, ia meletakkan minum yang ia bawa di atas meja.
"Udah aku bilang, jangan repot-repot."
"Hanya teh hangat aja?"
"Apa kamu nggak takut tinggal sendirian dalam keadaan hamil begini."
"Maksudnya kamu?"
"Kehamilan kamu makin membesar. Apakah kamu nggak takut, jika nanti kamu akan melahirkan tidak ada yang menemani."
"Mau jujur atau bohong?"
__ADS_1
"Pertanyaan macam apa ini?" ucap Shaka tertawa..
"Jelas yang jujur dong jawabannya."
"Jujur, aku pasti ada rasa takut. Aku yang dulunya serba perintah, saat ini harus bisa mengerjakan semua sendirian, termasuk persiapan melahirkan."
"Aku juga sempat berpikir, bagaimana saat aku akan lahiran nggak ada orang yang bisa membantu, aku berusaha sendiri hingga harus pergi selamanya tanpa ada yang tau dan menolong."
Arumi menarik nafasnya. Memang itulah yng ada dalam pikirannya. Saat akan lahiran, ia harus berjuang sendirian, dan ternyata nyawanya tidak dapat di tolong, bagaimana nasib anaknya nanti.
"Bagaimana jika kamu mengontrak dekat seorang bidan. Jadi bisa minta pertolongan secepatnya," ucap Shaka.
"Aku udah mencari dekat bidan yang di sana. Tapi tak ada kontrakan yang kecil, yang sesuai dengan isi kantongku," ucap Arumi sambil tersenyum.
"Aku ada kenalan bidan. Di samping rumahnya ada kontrakan milik bidan itu sendiri. Kamu tinggal di sana aja."
Shaka mengatakan alamat bidan itu. Ia akan menolong Arumi untuk pindah ke tempat itu. Arumi meminta waktu dua hari buatnya berpikir.
Bersambung
__ADS_1