CINTA YANG DIABAIKAN

CINTA YANG DIABAIKAN
Bab 76. Menjelang Persalinan


__ADS_3

Sampai di rumah sakit, Gibran membantu Arumi keluar dari mobil. Ia berjalan dengan menggandeng lengan Arumi menuju ruang Dokter kandungan istrinya itu.


Gibran dipersilakan langsung masuk, kebetulan Dokter kandungan itu baru selesai melakukan operasi pesiennya.


Arumi di minta berbaring di ranjang buat pasien. Di bantu bidan, dokter itu memeriksa kandungan Arumi setelah mendengar keluhannya.


Setelah melakukan pemeriksaan, Dokter meminta Arumi kembali duduk.


"Saya telah melakukan pemeriksaan pada kandungan Bu Arumi. Apa yang ia rasakan emang tanda-tanda akan lahiran. Pembukaan jalan lahir udah dua."


"Jadi istri saya akan melahirkan,Dok?"


"Ya, Betul Pak Gibran."


"Berapa lama lagi istri saya akan lahiran, Dok?"


"Biasanya, ibu yang pernah mengalami persalinan spontan sebelumnya akan lebih cepat merespons induksi daripada ibu yang belum pernah mengalami persalinan.Tapi jika ini anak pertama, akan lebih lama lagi. Bila kondisi leher rahim (serviks) ibu belum matang, yaitu masih keras, panjang, dan tertutup, proses induksi mungkin akan berlangsung sekitar 1-2 hari sampai waktunya melahirkan."


"Berarti besok paling cepat istri saya akan melahirkan."


"Tergantung kondisi tubuh. Tapi biasanya satu hingga dua hari. Karena ini anak pertama, jadi jalan rahim masih tertutup."


"Tapi saya menginap di rumah sakit ini aja, Dok. Saya takut jika tiba-tiba istri saya sakit."

__ADS_1


"Boleh, terserah Pak Gibran aja."


"Baiklah, Dok. Saya akan mengurus administrasi dulu."


"Silakan!"


"Kalau begitu saya pamit dulu. Terima kasih,Dok."


Gibran mengajak Arumi menuju meja administrasi dan mendaftar buat menginap di rumah sakit. Gibran memilih kamar VVIP.


Gibran meminta Arumi baringkan tubuhnya. Saat ini jam telah menunjukkan pukul 5 pagi. Pria itu mengusap punggung hingga pinggul istrinya.


"Mas, udah hubungi Ibu?" tanya Arumi.


"Belum, Sayang. Tunggu sebentar lagi. Saat kamu udah hampir lahiran aja."


"Aku akan hubungi ibu setelah pasti kapan kamu akan lahiran."


Gibran terus mengusap punggung hingga pinggul Arumi. Sesekali terdengar suara ringisan dari mulut Arumi.


Setelah satu jam, barulah Arumi tertidur. Gibran menyelimuti tubuh istrinya itu. Gibran meminta mama Arumi untuk baringkan tubuhnya di tempat tidur yang ada di kamar Inap Arumi.


Baru terlelap satu jam, kembali Arumi terbangun. Gibran bergegas mendekati ranjang Arumi.

__ADS_1


"Ada apa, Sayang? Sakit ...?" tanya Gibran.


"Sakitnya makin terasa,Mas," ucap Arumi.


"Aku pijat, ya?" tanya Gibran. Ia mulai memijat kaki Arumi.


"Udahlah,Mas." Arumi bangun dari tidurnya. Ia berjalan mondar mandir untuk mencoba mengurangi rasa sakitnya.


Gibran mengikuti kemanapun Arumi melangkah. Wanita itu menunduk untuk meredakan sakit di pinggang. Gibran berdiri dibelakang Arumi dan memijat pelan pinggul istrinya.


Mama terbangun dari tidurnya dan melihat Arumi yang membungkuk badannya sedikit. Ia mendekati anaknya itu.


"Kenapa, Sayang. Sakit banget ya."


"Sakitnya makin terasa, Ma."


"Itu tandanya kamu akan segera melahirkan. Semakin sering rasa sakit yang dirasakan, itu berarti saat melahirkan kamu makin dekat."


"Aku takut," gumam Arumi pelan. Namun suaranya masih dapat di dengar.


"Jangan khawatir atau takut, aku selalu berada di sampingmu. Aku dan semua keluarga akan selalu berdoa untukmu dan bayi kita. Kami tahu kamu pasti bisa," ujar Gibran.


"Percayalah, kamu bisa melakukan semuanya dengan baik, kamu adalah calon Bunda yang hebat," ucap Gibran dan mengecup pucuk kepala istrinya itu.

__ADS_1


Ya Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, berikan kehidupan yang baik kelak untuk anak hamba. Jauhkan ia dari segala bahaya dan kesulitan. Lancarkan proses persalinan istri hamba, berikan keselamatan pada keduanya, dan kelak jadikan anak hamba nanti manusia yang selalu berada di jalan-Mu.


Bersambung


__ADS_2