
Gibran bangun mendengar tangisan Rendra. Gibran mengambil Rendra dari tempat tidurnya. Suami Arumi itu berusaha membuat Rendra diam.
Setelah Rendra agak tenang, ia letakkan di kasur dan dibuat susu formula buat Rendra. Gibran tidak tega membangunkan Arumi yang terlelap dengan nyenyaknya.
Rendra kembali tidur setelah menghabiskan sebotol susu. Gibran juga ikutan tertidur.
Pagi hari, Arumi terbangun. Kaget melihat ada Rendra di sampingnya. Arumi melihat ada botol susu dekat Rendra.
"Pasti ganteng mami menangis karena haus, ya? Maafkan mami yang ketiduran, Sayang," gumam Arumi.
Arumi melihat Gibran yang masih nyenyak tidurnya. Ia mengelus pipi suaminya itu. Gibran selalu saja begitu, tidak akan membangunkan Arumi jika ia masih bisa menangani Rendra.
Jika Rendra tetap menangis walau telah di beri susu formula, baru Arumi yang dibangunkan.
Arumi melihat putranya terbangun dan tersenyum dengannya. Ia mencubit pipi tembam Rendra. Pertumbuhan putranya itu sangat baik.
Gibran terbangun karena mendengar suara Arumi yang sedang bermain dengan anaknya.
"Maaf,Mas. Suaraku gede banget ya?"
"Nggak, Mas emang udah kenangan juga."
Gibran merubah tidurnya menjadi miring, menghadap putranya Rendra. Ia juga ikutan bermain.
"Mas, kebutuhan Rendra mau habis. Kita ke supermarket nanti,ya?
"Jam sepuluh kita pergi. Kalau pagi takut belum buka."
"Ya, Mas."
"Ini yang membuat aku berat untuk berangkat lagi. Jika berada di dekat kamu dan anakku, hari itu cepat berlalu. Namun, saat aku berada jauh, satu jam aja terasa lama. Lusa aku udah harus kembali lagi. Rasanya berat banget meninggalkan kamu dan Rendra."
__ADS_1
"Jika bisa memilih, aku juga nggak mau Mas ke Brunei."
"Dua bulan lagi. Selama itu mungkin aku nggak akan pulang. Aku ingin menyelesaikan tugasku secepatnya."
"Dua bulan berarti Mas nggak akan pulang?"
"Iya, Sayang. Aku ingin cepat kembali dan berkumpul dengan kamu dan Rendra."
Gibran mendekati Arumi dan memeluk tubuh istrinya. Ia mengecup pipi Arumi.
"Umur Rendra udah berapa,Sayang?" tanya Gibran dengan terus mengecup pipi Arumi.
"Dua puluh hari, kenapa Mas?" tanya Arumi.
"Lama lagi ya bisa berhubungan," bisik Gibran.
"Mas pengin?" tanya Arumi dengan wajah memelas.
"Udah, jangan kamu pikirkan. Mas bisa tahan, kok. Mas mandi dulu," ucap Gibran mengacak rambut istrinya.
...........
Setelah menyantap sarapan, mereka duduk di sofa ruang keluarga sambil bermain dengan putranya.
"Nanti Rendra di bawa atau ditinggalin aja?" tanya Arumi.
"Sebaiknya di tinggal aja. Umurnya masih belum genap satu bulan."
"Baiklah, Mas."
Jam sepuluh Arumi dan Gibran menuju salah satu supermarket. Rendra ditinggalkan dengan pengasuhnya. Gibran telah menghubungi Alana untuk membantu menjaga Rendra.
__ADS_1
Gibran memang sedikit protektif pada anaknya. Dia tidak mengizinkan orang lain menjaga tanpa pengawasan dari keluarga.
Mama Arumi sedang berada di Yogyakarta. Berkumpul dengan keluarga besarnya. Mungkin rindu dengan kampung halaman.
Arumi dan Gibran membeli kebutuhan buat Rendra yang bisa cukup selama satu bulan. Gibran tidak ingin istrinya sering keluar tanpa dirinya.
Gibran dan Arumi yang sedang asyik mencari kebutuhan Rendra tidak menyadari kehadiran seseorang di samping mereka.
"Selamat siang Gibran, Arumi."
Arumi dan Gibran serempak berbalik dan memandangi orang yang menyapa mereka.
"Joana ...." ucap Arumi.
"Apakabar, Arumi?" tanya Joana.
"Alhamdulillah sehat," jawab Arumi.
"Aku ingin bertemu kamu. Namun, Alana melarang. Akhirnya Tuhan mengabulkan, kita bertemu di sini."
"Kenapa ingin bertemu Arumi? tanya Gibran dengan suara sedikit meninggi.
Arumi mencubit tangan suaminya itu. Ia menggeleng saat Gibran memandang. Arumi memberi isyarat jangan begitu.
"Lebih baik kita mengobrol di kafe itu. Nggak enak sambil berdiri."
Arumi mengajak Joana untuk mengikuti mereka ke kafe. Gibran tampak keberatan, tapi Arumi mengatakan jika tidak boleh begitu. Terlalu membenci seseorang juga tidak baik.
Balas dendam terbaik sebenarnya adalah menjadikan diri kalian lebih baik, sabar, ikhlas, dan tetap bahagia. Hal ini dapat membuat dia yang telah menyakiti perasaan kalian mungkin saja merasakan sikap dan ucapan jahatnya telah sia-sia.
Joana mengikuti langkah Arumi, di pelukan ada anaknya yang sedang tertidur.
__ADS_1
Cara terbaik untuk membalas dendam terhadap orang yang menghina Anda, adalah menjadi lebih berhasil daripadanya. Bisa sukses di depan orang-orang yang meremehkan itu adalah cara balas dendam yang paling baik.
Bersambung