
Atas izin satpam dan bantuannya. Gibran bisa melihat CCTV malam itu. Di malam itu, saat datang dengan keadaan mabuk ia masuk ke apartemen.
Setelah itu Joana membawanya masuk ke kamar. Hanya itu yang terlihat di CCTV yang ada di apartemen.
Merasa belum mendapat bukti, Gibran meminta rekaman CCTV yang ada dalam kamar. Apartemen yang dibeli Gibran memang dilengkapi dengan CCTV di ruang tamu dan kamar utama.
"Bukankah Bapak bisa melihat dari layar monitor di apartemen," ucap Satpam.
"Televisi yang biasa menyambung CCTV rusak. Satu-satunya jalan saya harus mengambil dari CCTV itu langsung. Saya udah meminta teman saya seorang ahli teknisi datang. Saya hanya butuh bapak sebagai saksi."
Dengan bantuan seorang ahli teknisi kenalannya Gibran dan izin satpam mereka mengambil rekaman dan disambungkan ke layar laptop milik Gibran.
Sebelum di sambungkan, tiba-tiba Joana maju dan menahannya.
"Apa-apaan kamu, Gibran. Itu CCTV kamar. Privasi banget. Kamu mau melihatnya bareng orang lain. Aku pasti yang sering ada di monitor. Apa kamu ingin membuat aku malu?" ucap Joana.
"Joana, bapak satpam dan teman saya ini sebagai saksi atas apa yang terjadi malam itu."
"Kamu bisa melihat sendiri, jangan ada orang lain?"
"Aku butuh orang sebagai saksi. Kalau gitu temanku ini saja. Bapak bisa pergi. Terima kasih atas bantuannya," ucap Gibran.
Ketika monitor telah disambungkan, tampak di layar laptop Gibran yang terlelap. Joana mendekati ranjang dan membuka pakaian Gibran satu persatu.
__ADS_1
"Stop ....!" ucap Joana.
"Kenapa harus dihentikan?" ujar Gibran.
"Tidak perlu dilanjutkan. Aku mengaku," ucap Joana lagi.
"Mengaku apa?" ujar Gibran.
Gibran telah meminta temannya untuk meriam semua perkataan Joana. Sebenarnya Gibran telah yakin jika anak yang dikandung Joana bukan anaknya.
Ia ingin pengakuan langsung dari mulut wanita itu. Bagaimanapun Gibran masih menghargainya. Ia tak mau perkara mereka dibawa ke meja hijau.
"Malam itu antara kamu dan aku tidak terjadi apa-apa," gumam Joana, tapi suaranya masih dapat didengar Gibran dan temannya itu.
Bayu meninggalkan apartemen Gibran setelah merekam terlebih dahulu kejadian malam itu dari CCTV ke ponsel Gibran.
"Kenapa kamu membohongi saya dan Arumi dengan mengatakan itu anak saya."
"Biar kamu hancur!" ucap Joana dengan suara sedikit keras.
"Apa maksudmu?"
"Aku sengaja berbohong dengan Arumi agar ia meninggalkan kamu. Jika aku tak dapat memiliki kamu, begitu juga Arumi. Kamu bisa merasakan bagaimana ditinggalkan orang yang kamu cintai sekarang,bukan?"
__ADS_1
Gibran menjadi emosi mendengar ucapan Joana, ia langsung mengangkat tangannya am menampar pipi Joana.
Wanita yang pernah brhubungan dengannya selama delapan tahun itu menjadi kaget. Gibran tidak pernah kasar selama ini dengannya.
Joana memegang pipinya yang terasa panas bekas tamparan Gibran. Dari sudut matanya keluar air mata.
"Kamu menamparku?"
"Kamu pantas menerima ini. Kamu telah menghancurkan semuanya. Aku harus kehilangan Ayah, dan seluruh keluarga membenciku. Arumi juga telah menggugat cerai."
Joana tersenyum miring mendengar ucapan dari Gibran.
"Semua itu sudah menjadi rencanaku. Akhirnya terkabul. Hidupmu hancur. Kita sama-sama hancur. Bapak anak yang aku kandung ini nggak mau bertanggung jawab," lirih Joana.
"Dasar wanita ular. Hanya aku yang bodoh, tidak mengenali kamu. Semua keluarga sudah mengingatkan aku. Karena rasa cintaku telah menutupi semua kebusukanmu."
Gibran terduduk kembali di sofa. Ia menarik rambutnya frustrasi. Surat gugatan cerai dari Arumi telah ia kantongi.
Gara-gara kebodohan dan cintanya yang buta pada Joana telah menghnacurkan segalanya.
Bersambung
Selamat pagi CINTA YANG DIABAIKAN Lovers, maaf jika ada kesalahan dalam penjabaran pengambilan data CCTV, karena mama emang kurang tau.
__ADS_1
Pada intinya Bab kali ini untuk pembuktian jika Gibran tidak pernah melakukan hubungan badan dengan Joana. Terima kasih.