CINTA YANG DIABAIKAN

CINTA YANG DIABAIKAN
Bab 47. Positif


__ADS_3

Arumi merasakan tubuhnya lemas. Perutnya terasa mual. Kepala pusing. Ia berjalan perlahan menuju kamar mandi dan memuntahkan seluruh isi perutnya.


Setelah merasa agak enakan, Arumi keluar dari kamar mandi. Arumi duduk dekat meja rias. Ia jadi teringat Gibran. Suaminya itu akan menyisir rambutnya jika Arumi duduk di sini.


Gibran akan mengeringkan rambut Arumi jika wanita itu habis keramas.


"Jangan membiarkan rambut basah begini. Nanti kamu bisa pilek." Itu ucapan Gibran setiap melihat Arumi membiarkan rambutnya basah.


Pandangan Arumi tertuju ke kalender meja yang ada di meja rias. Ia kaget setelah melihatnya.


"Astaga, ini tak mungkin," gumam Arumi.


"Apakah aku hamil? Aku udah telat lebih dari sepuluh hari."


Arumi ingat saat terakhir ia berhubungan badan dengan Gibran satu setengah bulan lalu. Sejak saat itu ia tak pernah datang bulan.


"Sejak aku ke Bandung, aku tak pernah minum pil KB. Apakah ia berarti ...." Arumi menarik napasnya.


"Bagaimana jika aku emang hamil?" gumam Arumi lagi pada diri sendiri.


Arumi berjalan masuk kembali ke kamar mandi, dan membersihkan diri. Ia ingin periksa ke dokter untuk memastikan semuanya.


Mantan istri Gibran itu pergi ke salah satu klinik terdekat. Ia memeriksakan kandungannya. Hasilnya Arumi memang positif hamil.


"Selamat, Bu. Anda positif hamil,"ucap Dokter itu.


"Hamil ...?" tanya Arumi kaget.


"Ya, saat ini kandungan ibu telah memasuki minggu kesepuluh."

__ADS_1


"Itu berarti udah dua bulan lebih,"gumam Arumi namun masih dapat di dengar Dokter.


"Memasuki bulan ketiga. Apakah Ibu tidak ada Keluhan?"


"Udah dua minggu ini aku merasakan pusing, mual, sakit kepala dan lemas, Dok."


"Itu lumrah bagi Ibu yang hamil muda. Nanti saya berikan resep untuk mengurangi rasa mual."


"Terima kasih, Dok."


Arumi pulang ke rumah setelah menebus obat. Sampai di rumah, wanita itu melihat ada mamanya yang sedang menonton televisi.


"Mama ...."


"Arumi, Sayang. Dari mana kamu, Nak."


"Dari ...." Arumi tidak bisa melanjutkan omongannya.


"Iya, Ma." Arumi duduk di samping Mamanya.


Apakah aku katakan saja mengenai kehamilanku ini pada Mama?


"Ma ...."


"Ya, ada apa?"


"Aku, aku ... hamil," ujar Arumi gugup.


"Hamil ...?"

__ADS_1


"Ya, aku tadi periksa ke dokter kandungan. Tenyata aku udah hamil dua setengah bulan. Apakah aku harus mengatakan ini pada Gibran, Ma?"


"Jangan!" ucap Papa yang muncul dari dapur.


"Kenapa, Pa. Bukankah mas Gibran berhak tau jika aku sedang mengandung darah dagingnya."


"Jangan pernah kamu katakan pada Gibran! Nanti dijadikan alasan untuk kembali bersamamu. Papa nggak mau kamu dan Gibran bersama."


Arumi dan Mama hanya bisa terdiam mendengar ucapan Papa. Tidak ada yang berani membantah apa yang Papa katakan.


"Papa nggak rela kamu kembali dibodohi dan dikhianati. Dua tahun sudah cukup bagimu menerima kebohongannya."


"Pa, anak yang dikandung Arumi itu anaknya Gibran juga. Ia berhak mengetahui kebenaran tentang kehamilan Arumi," ucap Mama.


"Papa tak pernah izinkan kamu mengatakan semua ini."


"Pa, aku tak mungkin menyembunyikan kehamilan ini. Perutku akan makin membesar. Jika aku nggak mengatakan ini pada Gibran dan keluarganya pasti akan terjadi kesalah pahaman," ucap Arumi pelan.


"Papa nggak peduli."


"Pa, apa yang akan dipikirkan orang-orang dan keluarga Gibran saat melihat perutku membesar. Pasti berpikir aku selingkuh."


"Gugurkan kandunganmu itu!" ucap Ayah.


Arumi menjadi kaget mendengar ucapan Papanya. Badannya terasa lemas. Ia menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa.


Mama yang duduk di samping Arumi tak kalah kaget mendengar perintah Papa.


Bersambung.

__ADS_1


Bagaimana bab kali ini? Pasti kaget'kan? Apakah Arumi akan mengabulkan permintaan Papanya? Nantikan terus kelanjutan dari novel ini. Lope-lope sekebon untuk semuanya. 😘😘😘😘😍😍😍😍❤❤❤❤


__ADS_2