CINTA YANG DIABAIKAN

CINTA YANG DIABAIKAN
Bab 32. Arumi Dan Alana


__ADS_3

Arumi membuka pintu setelah terdengar sahutan dari dalam. Arumi kaget melihat siapa yang ada di dalam ruang rawat inap mertuanya itu.


Arumi berjalan dengan percaya diri. Ia meyakinkan hatinya agar kuat dan tak camburu melihat apa yang ada dihadapannya.


Melihat Arumi yang datang Alana langsung berlari dan memeluknya. Alana menangis dalam pelukan Arumi.


Gibran dan Joana memandangi Alana yang masih terisak dalam pelukan Arumi.


"Mbak Arumi, maafkan aku."


"Hai, kamu kenapa? Maaf untuk apa? Jangan menangis, ibu pasti sembuh."


Arumi berusaha bersikap wajar walau sebenarnya gugup. Ia hanya memberikan senyuman pada Gibran dan Joana.


Arumi melangkah mendekati tempat tidur tempat ibu berbaring. Ibu tersenyum melihat Arumi yang datang.


"Nak Arumi," ucap Ibu terbata karena menahan tangisnya. Arumi menyalami dan mengecup tangan Ibu.


"Ibu, apa kabar? Maaf aku baru sempat datang hari ini."


"Kamu udah mau datang aja ibu udah senang."

__ADS_1


"Ibu udah makan. Aku bawakan sop ayam kampung kesukaan ibu," ucap Arumi. Ia memperlihatkan bawaannya.


"Kamu masih ingat kesukaan,Ibu."


"Ibu ini lucu, tentu aja aku ingat. Kayak yang nggak ketemu udah bertahun aja. Aku suapi ya."


Arumi mengambil nasi lembik dari rumah sakit dan menambahkan sop ayam ke dalam piring.


Sepiring nasi habis dilahap ibu. Dari tempat duduknya Gibran tersenyum melihat ibunya yang menghabiskan makanannya.


Dari kemarin ibunya tak mau makan. Joana yang melihat pandangan Gibran tak lepas dari Arumi menjadi cemburu.


Joana memeluk lengan Gibran, membuat pria itu kaget. Saat Arumi memandangi ke arah Gibran, pria itu langsung menepis tangan Joana, membuat wanita itu cemberut.


Joana yang merasa diacuhkan, akhirnya pamit pada Gibran. Pria itu membiarkan Joana pergi tanpa mau mencegah atau menawarkan diri mengantarnya.


Ibu dan Alana berulang kali meminta maaf pada Arumi atas semua yang dilakukan Gibran selama ini padanya.


"Arumi, maafkan Ibu."


"Maaf untuk apa? Ibu tak ada salah."

__ADS_1


"Ibu merasa bersalah karena tak bisa mendidik Gibran menjadi pria sejati. Ibu malu dengan Nak Arumi dan kedua orang tuamu." Ibu menarik napas sebelum melanjutkan ucapannya.


"Ibu nggak perlu minta maaf. Ini bukan kesalahan Ibu. Nggak ada yang salah atas semua yang terjadi, karena ini adalah takdir. Mungkin aku dan Mas Gibran emang ditakdirkan menjadi suami istri hanya sampai di sini."


"Gibran pasti akan menyesal melepaskan istri sebaik kamu. Melepaskan berlian demi sebongkah batu," ucap Ibu.


Ibu mengucapkan itu dengan suara lantang agar Gibran dapat mendengar ucapan Ibu.


"Aku juga yakin, Joana itu tak sebaik yang Mas Gibran katakan. Ia wanita yang munafik. Heran bisa tertipu hingga begitu lamanya," ujar Alana.


Gibran hanya menunduk mendengar Alana dan ibu yang memojokan dirinya. Gibran perlahan keluar dari kamar.


Alana dan Ibu mengira ia nggak tahan dengan sindiran mereka.


Gibran menghubungi seseorang untuk dapat melihat CCTV di apartemen Joana. Ia ingin tau apa yang terjadi sebenarnya di malam itu.


Pagi harinya saat kejadian itu, Gibran emang berada di kamar Joana. Saat bangun ia hanya berpakaian dalam. Itulah yang membuat Gibran sedikitnya percaya.


Jika memang anak yang saat ini ada di rahim Joana anaknya, Gibran terpaksa harus menikahi wanita itu.


Di apartemennya Joana tampak uring-uringan. Udah satu minggu ia menghubungi seseorang tapi tak pernah di angkat.

__ADS_1


Aku harus bagaimana. Nggak mungkin aku terus bertahan dengan mengaku bayi ini anak Gibran. Semua pasti akan terungkap.


Bersambung


__ADS_2