
Arumi dan Gibran sedang bersenda gurau dengan anaknya saat Alana dan Shaka masuk ke restoran di mana seluruh keluarga sedang berkumpul.
Melihat Alana yang berjalan menunduk di samping Shaka, membuat Arumi tersenyum. Pasti Alana malu.
"Selamat siang semuanya," sapa Shaka.
"Selamat Siang. Duduklah!" ucap Ibu Alana.
"Alana duduklah. Apa kamu nggak lapar, Dek? udah siang, sarapan aja belum. Nyenyak banget ya tidurnya, hingga melewatkan sarapan," ucap Arumi meledak.
"Mbak Arumi ...," ucap Alana malu.
Alana duduk di antara Shaka dan Arumi. Dia masih tampak malu. Kedua orang tua Shaka telah kembali. Saat ini hanya ada keluarga Alana.
"Gimana, enak kalau udah nikah. Tidur nyenyak. Perut itu kenyang terus," ledek Arumi lagi.
"Mbak Arumi ngomong apa, sih? Aku itu ketiduran karena capek," ucap Alana.
"Oh, karena capek. Emang ngapain kamu tadi malam sampai capek banget."
"Mbak, ah. Aku capek harus berdiri menghampiri tamu undangan."
__ADS_1
"Udah, Sayang. Jangan diledek terus. Pasti Alana dan Shaka capek banget. Bersanding dan melayani tamu, ditambah langsung olah raga malam," ucap Gibran. Arumi dan lainnya tertawa melihat wajah Alana yang memerah menahan malu mendengar ucapan Gibran.
"Kita habis ini olah raga juga, ya," bisik Gibran. Arumi mencubit paha Gibran mendengar bisikan suaminya itu.
Semua keluarga makan sambil meledak Alana dan Shaka. Setelah makan siang, keluarga kembali ke kediaman. Alana dan Shaka masih menginap di hotel hingga tiga hari sebagai bonus.
Saat tiba di rumah, Arumi dan Gibran langsung masuk ke kamar. Rendra di bawa ibu Arumi. Rendra tidur dengan ibu Arumi.
Arumi membaringkan tubuhnya diikuti Gibran. Di peluknya pinggang Arumi untuk merapatkan tubuh mereka.
"Akhirnya aku bisa berkumpul denganmu dan Rendra. Seminggu lagi aku kembali ke Brunei untuk mengakhiri kontrak kerja. Aku ingin kamu ikut," ucap Gibran.
"Kita tinggalkan dengan Mama aja. Kalau di bawa kasihan, masih empat bulan umurnya. Lagi pula aku mau bulan madu lagi denganmu. Kita mau buat adik buat Rendra."
"Rendra masih kecil, udah mau beri adik lagi."
"Mimpung masih muda, kita buat anak yang banyak. Nanti tinggal membesarkan aja."
"Mas pikir buat anak kayak buat kue aja."
Gibran tertawa melihat wajah Arumi yang cemberut setelah mengucapkan itu.
__ADS_1
Gibran memiringkan tubuhnya menghadap Arumi, dia mengecup dahi istrInya itu.
"Sayang, aku berencana membuka kembali perusahaan papa. Aku mau kamu yang jadi sekretaris aku. Biar kita bisa setiap saat bersama. Aku ingin menebus waktu setahun ini."
"Aku pasti akan membantu, Mas. Kita buat perusahaan papa kembali jaya seperti saat kamu pimpin dulu."
"Iya, Sayang. Aku akan berusaha dengan semua kemampuanku. Sebelum aku berusaha membangun kembali perusahaan papa, adik kecilnya aku udah bangun duluan nih," ucap Gibran. Dia menarik tangan Arumi untuk memegang adiknya yang udah bangun dan tegang.
Arumi memukul dada suaminya yang mesum itu. Gibran selalu saja bisa membuat Arumi tersenyum dengan tingkahnya
Gibran membuka kancing baju Arumi, tidak perlu menunggu istrinya setuju. Dengan cepat ia membuka seluruh pakaian yang melekat di tubuh istrinya. Setelah itu ia membuka pakaiannya.
Gibran naik ke atas tubuh istrinya. Dia mengecup bibir istrinya dan me*lu*matnya.Mereka berdua saling berpagutan.
Setelah itu ciuman turun ke leher, dada hingga ke perut Arumi. Banyak jejak dibuat Gibran di tubuh putih istrinya.
Setelah lebih dari sepuluh menit pemanasan dan Arumi tampaknya juga telah terbawa suasana. Dia telah mendapatkan pelepasan pertamanya saat pemanasan tadi.
Gibran mulai memasuki bagian inti tubuh istrinya. Awalnya Gibran menggerakkan tubuhnya dalam tempo lamban. Namun beberapa saat ia mulai menaikkan tempo permainan. Hingga akhirnya dia dan Arumi sama-sama ******* dan mendapatkan pelepasan.
Bersambung
__ADS_1