
Di salah satu Spa ternama di kota Jakarta. Arumi ingin menyegarkan tubuhnya. Keluar dari Spa tampak wajahnya sangat berseri.
Arumi memasuki salah satu kafe terdekat dari Spa. Memilih duduk dekat jendela memandangi jalanan.
Tadi pengacara mengabari Arumi jika gugatan cerainya telah diproses. Pengacara yakin semua akan berjalan lancar dan cepat karen ada bukti perselingkuhan dari Gibran.
*Semua akan berakhir. Kisah kita akan berakhir dalam beberapa hari lagi Mas Gibran. Jika aku memutuskan untuk tetap berpisah, hanya untuk kebaikan kita juga. Jika memang kita berjodoh, Tuhan pasti akan pertemukan kita kembali.
Kalau itu terjadi, aku memohon pada Tuhan, persatukan kami lagi dengan hati yang berbeda. Hati yang telah sama-sama ikhlas dan saling menerima. Serta mencintai dengan tulus*.
Aku percaya sejauh Apapun kita melangkah jika kita berjodoh,pasti akan bertemu kembali, dan sekuat apapun kita menggenggam jika bukan jodoh pasti akan lepas.
Hujan turun membasahi, bumi. Seperti mengerti jika saat ini hati Arumi sedang galau.
Arumi menyeruput air yang ada di gelas sambil memandangi hujan. Ia tak menyadari seseorang yang datang.
"Apa aku boleh duduk di sini, bergabung denganmu?" Arumi kaget mendengar suara itu. Ia berpaling dari hujan dan mencari asal suara.
"Shaka ...."
"Sendirian ....?" tanya Shaka. Arumi hanya menjawab dengan mengangguk.
"Boleh aku menemani kamu duduk disini."
__ADS_1
"Silakan," jawab Arumi dengan tersenyum.
Shaka duduk di sofa yang ada dihadapan Arumi. Ia memesan minuman dan makanan ringan.
"Kenapa kita sering bertemu, seperti udah janjian aja."
"Mungkin jodoh," ucap Shaka.
"Kamu bisa aja," ucap Arumi. Mereka akhirnya terdiam, larut dalam pikiran masing-masing.
Ada sekitar satu jam Arumi dan Shaka mengobrol. Hingga Shaka menawarkan kerjasama untuk perusahaan mereka.
Perusahaan yang dulu dipimpin Gibran saat ini telah diambil alih Arumi. Dengan bantuan para manajer dan asisten, Arumi menjalankan perusahaan itu.
Arumi meminta Shaka datang ke kantor besok untuk bicarakan kerja sama mereka.
Kembali ke Joana dan Gibran.
"Sekarang katakan dengan jujur, anak siapa yang ada di rahimmu saat ini?" tanya Gibran.
"Aku nggak tau."
"Bagaimana kamu bisa nggak tau, kamu yang melakukan hubungan. Atau kamu melakukan hubungan dengan beberapa pria?"
__ADS_1
"Apa kamu pikir aku seburuk dan sebenar itu?"
"Itu bukan darah dagingku, bukan?" tanya Gibran lagi, tanpa menjawab pertanyaan Joana.
Joana hanya diam, tanpa menjawab. Gibran tidak sabar menunggu Joana buka suara.
"Katakan Joana, anak siapa itu!" bentak Gibran.
"Kenapa kamu tak bisa menjawab. Itu bukan anakku. Aku tak pernah berhubungan badan denganmu. Nggak mungkin aku tak mwnyadarinya jika memang aku pernah melakukan itu padamu."
"Terserah kamu mau ngomong apa? Kalau kamu tak mau mengakui anak ini, biar aku saja yang membesarkan seorang diri."
"Oke, biar kita tak salah paham. Kita lakukan tes DNA sekarang juga. Harus berapa kali aku mengulang permintaan ini."
"Aku tak mau melakukan itu. Biarlah aku hidup berdua dengan anak ini jika kamu tak mau mengakuinya."
"Jangan berbelit-belit Joana. Akan aku buktikan jika itu bukan darah dagingku."
Gibran menghubungi satpam apartemen untuk datang. Joana hanya merasa heran atas apa yang Gibran lakukan.
Setelah Satpam datang, Gibran mengatakan jika ia baru mengetahui jika ada barangnya yang hilang dari apartemen. Ia curiga salah satu temannya yang pernah datang berkunjung mengambilnya.
Ia meminta kepada satpam rekaman cctv pada malam kejadian itu. Karena apartemen dibeli Gibran dan masih atas namanya, satpam menyetujui permintaan Gibran.
__ADS_1
Joana yang mendengar percakapan antara Gibran dan satpam menjadi pucat.
Bersambung