
Gibran mengambil ponselnya dan mengangkatnya di depan Joana.
"Ya,Sayang . Kenapa?"
"Mas dimana? Kenapa lama banget?"
"Mas udah dirumah sakit lagi nih."
"Baiklah, Mas. Aku takut ada apa-apa."
"Mas segera ke sana."
Gibran memutuskan sambungan ponselnya dan pamit pada Joana.
"Maaf, Joana. Aku pamit. Aku nggak bisa membantu apapun, hanyalah doa semoga anakmu lekas sembuh dan bapaknya mau bertanggung jawab."
"Arumi melahirkan?" tanya Joana tanpa menjawab perkataan Gibran.
"Ya, kemarin."
"Aku iri dengan Arumi. Dia memiliki segalanya."
"Setiap manusia itu memiliki kelebihan. Jangan memupuk rasa irimu, karena itu akan membuat kamu rendah diri."
Gibran pamit dan berjalan tergesa menuju kamar yang ditempati Arumi. Joana mengikuti secara diam.
Ketika sampai depan kamar rawat inap istrinya, Gibran langsung masuk. Ia tak menyadari jika Joana mengikutinya.
"Mas, kenapa lama banget."
"Maaf, Sayang. Kamu udah lapar banget,ya?"
Gibran menyerahkan sarapan untuk ibu mertuanya. Dilihatnya, anak mereka masih tidur. Gibran lalu menyuapi Arumi dengan bubur ayam yang dibelinya.
__ADS_1
Setelah menyanrap sarapannya, Mama Arumi pamit. Ia akan pulang ke rumah mengganti pakaian.
Alana yang akan menggantikan mama untuk menemani Arumi. Mama pulang untuk beristirahat sebentar dan nanti akan kembali saat makan siang. Mama akan minta bantuan Bibi.
"Tadi aku ketemu, Joana," ucap Gibran setelah Arumi selesai sarapan.
"Joana ...."
"Dia lagi bawa anaknya berobat. Ada kelainan jantung bawaan sejak lahir yang diderita putrinya."
"Kasihan anaknya, Mas. Jadi bagaimana keadaan anaknya sekarang, Mas?"
"Setiap minggu harus tetap berobat ke dokter."
Arumi yang sedang menggendong anaknya, memeluk erat Rendra dan air matanya jatuh. Ia mengecup seluruh bagian di wajah putranya.
Arumi tidak bisa membayangkan jika itu semua menimpa dirinya, apakah ia kan sanggup dan tegar menghadapi.
"Mas, aku takut."
"Jika semua itu dialami Rendra, aku nggak tau apakah aku sanggup untuk menghadapinya."
"Jangan berpikir terlalu jauh, kita doakan Rendra selalu sehat."
"Apa Joana bersama bapak anaknya."
"Bapak anaknya Joana tidak mau bertanggung jawab. Ia nggak yakin itu anaknya. Joana harus bekerja banting tulang buat biaya pengobatan anaknya."
"Mas nggak beri bantuan?"
"Arumi, aku pernah berjanji nggak akan lagi berhubungan dengan Joana. Aku nggak akan mengingkarinya."
"Apa Mas tau alamat Joana saat ini."
__ADS_1
"Sejak aku memutuskan hubungan dengan Joana, aku nggak pernah cari tau kehidupannya."
"Apa Mas bisa cari tau alamatnya?" tanya Arumi.
"Untuk apa kamu cari tau alamatnya?"
"Mas, aku pernah katakan, jika aku nggak pernah membenci Joana. Aku mengerti jika ia sangat kecewa atas pernikahan kita."
"Terus ...."
"Aku mau bantu biaya pengobatan anaknya, ia nggak salah apa-apa."
"Apa kamu yakin akan membantu pengobatan anaknya, Sayang?"
"Kenapa emangnya, Mas?"
"Jika kamu bermaksud membantu biaya pengobatan anak Joana, itu artinya kamu akan sering bertemu Joana."
"Nggak apa. Aku percaya Mas nggak akan berpaling lagi. Udah ada Rendra di antara kita, pengikat dan penguat cinta."
Gibran terharu mendengar ucapan Arumi. Di balik sifat manja istrinya, wanita itu sangat peduli dan perhatian dengan orang lain.
Pemikiran Arumi saat ini juga makin dewasa. Mungkin kelahiran Rendra salah satu penyebab semuanya.
"Aku bangga memiliki istri yang sebaik dan secantik kamu. Jika aku dihidupkan kembali suatu saat nanti, aku ingin kamu tetap menjadi pasangan hidupku."
Joana yang mengintip dan mendengar semua Pembicaraan Arumi dan Gibran menjadi terharu. Joana tidak mengira jika Arumi masih peduli padanya.
Bersambung
Selamat Pagi menjelang siang semua. Saat ini Arumi dan Gibran sedang berbahagia. Untuk itu mama juga ingin berbagi kebahagiaan buat semua pembaca setia CINTA YANG DIABAIKAN.
Caranya : beri komentar mengenai novei ini. 5 komentar terbaik masing-masing akan mendapatkan Pulsa senilai 20k.
__ADS_1
Terima kasih mama buat semua pembaca setia novel-novel mama. Lope-lope sekebon buat semuanya. 😍😍😍😘😘😘