CINTA YANG DIABAIKAN

CINTA YANG DIABAIKAN
Bab 60. Kehamilan Arumi.


__ADS_3

Alana dan ibunya ikut pulang ke rumah duka. Alana menemani Arumi di kamarnya. Gadis itu sebenarnya ingin tahu mengenai kehamilan kakak iparnya ini.


Ibu Alana sedang menemani Mama menerima orang-orang yang takziah ke rumah. Sedangkan Shaka telah kembali ke rumah. Sejak melihat Alana menghampiri Arumi ia mulai menjauhi wanita itu.


Shaka masih ingat wajah Alana, mereka pernah bertemu di Bandung. Shaka tak mau terjadi kesalah pahaman.


Alana masih menemani Arumi. Wanita itu baru bisa memejamkan mata setelah Alana mengusap punggungnya seperti yang biasa Gibran lakukan saat Arumi tak bisa melelapkan matanya.


Malam harinya Arumi telah siap untuk menyambut para pelayat. Alana masih menemani. Ia meminjam baju Arumi.


"Mbak ...." panggil Alana pelan saat Arumi memilih pakaian yang bisa ia gunakan,karena perutnya yang sudah mulai besar.


"Ya, Lama."


"Kenapa nggak pernah mengatakan kehamilan Mbak pada kami."


Arumi menghentikan gerakannya yang sedang mencari baju. Ia memandangi wajah Alana.


"Maaf, Mbak. Aku tau ini bukan waktu yang tepat buat menanyakan tentang itu.Aku tak bisa menahan rasa keingin tahuanku."


"Banyak yang terjadi pada Mbak sejak berpisah dari Mas Gibran."


"Apakah Mas Gibran juga nggak mengetahui kehamilan Mbak?" tanya Arumi.


"Mbak nggak pernah berkomunikasi lagi semenjak berpisah."

__ADS_1


"Maaf, Mbak. Tapi ini salah. Mas Gibran berhak tau tentang kebenaran ini. Bukankah anak uang Mbak kandung itu darah dagingnya mas Gibran."


"Mbak takut mas Gibran tak bisa menerimanya."


"Kenapa Mbak berpikir begitu?"


"Ada alasannya Alana. Hanya Mbak dan Mas Gibran yang tau alasan itu."


"Maaf ... sekali lagi aku minta maaf. Apa Mbak nggak mencintai mas Gibran lagi."


"Kenapa kamu tanyakan itu?"


"Mbak aku yang bertanya, kenapa Mbak bertanya balik?"


Arumi mendekati mantan adik iparku itu. Duduk disamping Alana. Pandangan Arumi jauh menerawang.


Namun Arumi terkadang mencoba menepis dan membuang rasa rindu dan cintanya. Apa lagi jika ia mengingat pengkhianatan suaminya.


Hati Arumi sakit jika mengingat perkataan suaminya pada Joana saat ditelepon. Ia merasa selama ini cintanya diabaikan.


"Apakah jawaban Mbak akan bisa membantu merubah semua yang telah terjadi?"


"Aku lihat Mbak dekat dengan teman pria yang tadi."


"Teman pria yang mana?"

__ADS_1


"Yang aku pernah ketemu di Bandung. Dia sangat perhatian dengan Mbak. Dari sikapnya aku tau dia menyukai Mbak."


"Shaka ... dia itu teman Mbak saat sekolah menengah dulu. Kita keluar lagi. Bergabung dengan yang lain."


Arumi dan Alana bergabung dengan ibu pengajian yang lain. Kembali Arumi menangis mengingat kepergian Papa-nya.


Alana terus duduk di samping Arumi, memeluk mantan kakak ipar yang sangat ia sayangi. Shaka yang juga hadir, hanya bersalaman saat pamit pulang.


"Terima kasih, Shaka," ucap Arumi.


"Semoga kamu tabah menerima semua ini. Yakinlah Takdir Tuhan itu jauh lebih baik dari yang kita inginkan."


"Ya, Shaka."


"Aku pamit," ucap Shaka. Ia tersenyum dengan Alana dan menyalami gadis itu.


Setelah semua pelayat dan ibu-ibu pengajian pulang, ibu Gibran mendekati Arumi. Ia tersenyum dan mengusap kepala wanita itu.


"Nak Arumi, yang sabar. Ikhlaskan kepergian Papa dengan selalu mendoakannya."


"Terima kasih, Bu. Maaf, aku terpaksa sembunyikan kehamilan ini," ujar Arumi sambil menangis.


"Udah, ibu mengerti. Pasti ada alasan yang membuat kamu melakukan semua ini. Kamu bisa jelaskan nanti saat kamu telah siap. Namun Ibu harap kamu mengatakan semua ini pada Gibran segera. Jangan nanti ada fitnah dan ke salah pahaman."


"Iya, Bu."

__ADS_1


Alana dan ibunya pamit dengan Arumi. Wanita itu memeluk Alana dan ibu dengan deraian air mata. Ia sangat dekat dengan kedua orang itu.


Bersambung


__ADS_2