
Alana bangun ketika sinar matahari menyinari kamarnya. Dia membuka mata dan melihat Shaka yang masih terlelap di alam mimpinya.
Alana bangun, dia ingin membersihkan tubuhnya. Namun rasa sakit di bagian inti bawah tubuhnya membuat Alana mengurungkan niatnya.
Alana melihat jam di ponsel miliknya. Dia kaget, ternyata jam sudah menunjukan pukul sebelas siang. Pantas cuaca sudah mulai panas.
"Aduh, udah jam sebelas. Ada banyak chat ini. Pasti dari keluarga. Aku harus ngomong apa saat ditanya, kenapa nggak ikut sarapan," gumam Alana pada dirinya sendiri.
Shaka membuka matanya ketika merasakan pergerakan Alana. Dia melihat wajah Alana yang kebingungan.
"Ada apa, Sayang? Keliatan bingung banget," ucap Shaka. Dia bangun dan bersandar di kepala ranjang.
"Kak Shaka coba lihat jam," ucap Alana.
Shaka mengambil ponselnya dan melihat jam berapa saat ini.
"Jam sebelas, emangnya kenapa?" tanya Shaka.
"Emangnya kenapa? Ini udah siang. Pasti keluarga yang lain dari tadi menunggu kita untuk sarapan. Lihat nih, puluhan panggilan nggak terjawab." Alana melibatkan ponselnya pada Shaka.
"Mau gimana lagi. Kita emang ketiduran," ucap Shaka santai.
"Ini semua gara-gara Kak Shaka!"
"Kenapa jadi aku yang salah?"
__ADS_1
"Kenapa subuh-subuh Kak Shaka masih aja pengin. Aku jadi capek dan ngantuk. Akhirnya ketiduran," gerutu Alana.
"Namanya baru, Sayang. Jadi penasaran dan pengin terus. Arumi dan Gibran dulu juga pernah pengantin baru. Pasti mereka mengerti."
"Kalau yang lain tanya, gimana?"
"Siapa? Ibu? Mereka juga pernah melewati malam pertama. Pasti akan mengerti juga."
"Kak Shaka sih ngomongnya enak saat ini. Coba jika udah berhadapan langsung, apa berani menjawab."
Alana kembali mencoba menggerakkan tubuhnya. Namun ia kembali meringis menahan rasa sakit.
"Sakit ya?" tanya Shaka.
"Masih aja tanya. Udah tau sakit."
"Kak Shaka. Nggak malu. Masih telanjang," ucapnya polos.
"Habis mandi aku langsung tidur," ucap Shaka dengan santainya.
Ia mendekati Alana, membuat gadis itu menutup matanya.
"Kenapa menutup matanya? Kamu udah melihat semua bagian di tubuh aku'kan?"
"Kak Shaka ngomong apa?"
__ADS_1
"Bahkan kamu juga udah merasakan bagaimana adik kecil aku bermain di gua kamu yang sempit itu Adik kecilku ini ketagihan bermain di gua kamu," ucap Shaka sambil tersenyum.
"Kak Shaka ngomongnya mesum banget."
Shaka tertawa melihat tingkah Alana yang malu-malu. Tiba-tiba Shaka menggendong tubuh Alana ala bridal style, membuat Alana kaget dan terpekik.
"Kak Shaka, buat aku kaget aja. Nggak ngomong-ngomong kalau mau gendong aku tuh." Alana melingkarkan tangannya di lehwr Shaka. Dia takut terjatuh.
Shaka menurunkan Alana ke bathtub, dan menghidupkan air hangat. Setelah itu Shaka ikut masuk. Dia membuka pakaian dalam yang masih melekat di tubuh Alana.
Shaka menyabuni tubuh Alana, mengusap seluruh bagian ditubuhnya. Nampak Shaka menarik napas panjang. Wajahnya memerah seperti menahan sesuatu.
"Kak Shaka kenapa?" tanya Alana.
"Sebenarnya aku pengin lagi, tapi nggak mungkin aku melakukan sekarang. Bisa-bisa nggak jalan kamu nantinya."
"Apaan? Kakak masih pengin?" tanya Alana dengan wajah kaget.
"Janji kamu tiga ronde. Kita baru dua ronde."
"Aku nggak mau!" ucap Alana.
"Iya, aku juga nggak tega. Makanya cepat selesaikan mandinya."
Setelah mandi dan berpakaian Alana bersama Shaka turun menuju restoran hotel. Keluarga udah menunggu untuk makan siang.
__ADS_1
Bersambung