CINTA YANG DIABAIKAN

CINTA YANG DIABAIKAN
Bab 36. Pengkhianat dan Pecundang


__ADS_3

Arumi keluar dari kamar setelah melihat Gibran sedikit tenang. Ia mengenakan hijab karena akan ada pengajian malam ini.


Gibran sudah melarang Arumi untuk membeliknan makanan buat pengajian, tapi istrinya itu masih tetap melakukan.


Sama seperti saat pembayaran rumah sakit, Gibran ingin menggantikan biaya rumah sakit yang dibayar Arumi tapi wanita itu tak mau menerimanya.


Alana duduk di sudut ruangan, masih terus menangis. Arumi mendekati dan memeluknya.


Saat pengajian akan dimulai, tampak Joana datang. Ia masuk ke rumah dengan langkah pasti. Gibran baru saja selesai berpakaian dan langsung bergabung dengan pelayat lainnya.


Joana duduk di antara ibu-ibu yang lainnya. Alana memandangi kedatangan Joana dengan tatapan tajam.


Setelah semua pelayat pulang, Joana masih duduk ditempat semula.


Alana berdiri dari duduknya dan mendekati Joana. Gadis itu menarik kerudung yang menutupi kepala Joana dan menarik rambutnya.


"Dasar perempuan ja*la*ng. Semua ini terjadi karena kau," ucap Alana menarik keras rambut Joana.


"Lepasakan, Alana, Sakit ...." ucap Joana.


Arumi datang menghampiri begitu juga Gibran. Arumi menarik tangan Alana yang menggenggam rambut Joana.


"Alana, lepaskan Dek. Nggak boleh gini!"


"Gara-gara wanita ini Ayah meninggal, Mbak," ucap Alana.

__ADS_1


"Semua takdir, kamu harus ingat itu."


"Alana ... Jangan main kekerasan. Lepaskan, Dek!" ucap Gibran.


"Mas dan wanita sangat cocok! Sama-sama pecundang dan pengkhianat!" teriak Alana.


Ibu yang sejak kepulangan para pelayat langsung masuk kamar, keluar mendengar suara ribut. Ia melihat Alana yang sedang marah dengan Joana. Ibu mendekati putrinya.


"Alana, sudahlah Nak. Nggak ada gunanya kamu marah-marah dan menyesali semua yang terjadi. Nggak akan bisa mengembaikan Ayah."


"Aku benci wanita ini, aku juga benci sama Mas!" teriak Alana dan setelah itu masuk ke kamar. Arumi mengikuti Alana.


Setelah Alana masuk ke kamar, ibu juga kembali masuk ke kamarnya. Hanya Manda yang masih melayani para pelayat yang tersisa. Yang tertinggal hanya keluarga terdekat hingga keluarga jauh.


Saat pacaran dulu, Gibran sering mengajak Joana jika ada pertemuan keluarga.


"Pulanglah! Jangan pernah datang lagi!" ucap Gibran.


"Kenapa? Apa salah jika aku datang melayat?"


"Salah! Karena kehadiranmu tidak pernah diharapkan."


"Aku ini calon ibu dari anakmu. Apa salah aku datang melayat saat calon mertuaku meninggal?"


"Salah! Sudah aku katakan dari tadi. Sebelum Kak Manda datang menemuimu dan terjadi keributan, aku mohon pulanglah. Kamu tau gimana kak Manda'kan"

__ADS_1


"Oke, aku pulang. Tapi kamu harus janji besok aku ke apartemen."


"Aku sedang berduka Joana. Mana mungkin aku meninggalkan rumah."


"Aku tak mau tau.Aku ingin kamu datang."


"Besok aku usahakan. Sekarang kamu pulanglah!" perintah Gibran lagi. Setelah Joana pergi barulah Gibran masuk.


Baru saja kakinya melangkah masuk terdengar suara Kak Manda.


"Sudah pergi simpananmu itu," ujar kak Manda.


"Jangan berkata begitu, Kak."


"Jadi apa sebutan yang pantas buat seorang wanita yang menjadi kekasih dari suami orang?"


"Kak, kita sedang berduka. Aku tak mau bertengkar. Aku minta maaf jika semua yang terjadi karena salahku."


"Baru kamu sadar akan kesalahanmu?"


"Maaf, Kak. Aku memang salah. Kakak pantas marah.Namun saat ini aku minta Kak Manda tahan dulu kemarahannya. Apapun bisa kalian lakukan padaku nantinya."


Gibran masuk ke kamar dan meninggalkan semua keluarga yang masih tersisa. Di dalam kamar Gibran menangis seorang diri.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2