
Arumi memasukan semua barang yang ia butuhkan ke dalam koper. Ia akan meninggalkan rumah menuju villa yang papa dan mamanya katakan.
Sambil berurai air mata Arumi memegang perutnya yang masih rata.
"Sayang, Bunda akan mempertahankan kamu walau banyak yang tak menginginkan kehadiranmu. Apapun akan Bunda lakukan agar kamu tumbuh dan berkembang di rahim bunda."
Arumi teringat akan Gibran yang selalu memintanya untuk menunda kehamilan. Pastilah semua karena pria itu tak pernah menginginkan keturunan darinya.
Setelah memasukan baju yang dibutuhkan, Arumi berjalan ke luar dari kamar. Ia melihat Papa dan Mamanya duduk di sofa ruang keluarga.
Mama berdiri dari duduknya dan menghampiri Arumi. Ia menggenggam tangan putrinya.
"Sayang, jangan berpikir kami kejam denganmu. Semua Papa dan Mama lakukan untuk kebahagiaan kamu. Jika anak itu telah lahir, kamu bisa kembali bersama kami. Biar anakmu, mama yang jaga. Jangan pernah ada yang tau jika itu darah dagingmu."
Arumi memandangi wajah mamanya dengan sorot mata tajam. Wanita itu berpikir mama akan membelanya. Namun semua sama saja.
__ADS_1
"Bagaimana mungkin aku tak mengakui darah dagingku? Maaf, Ma. Aku tak sependapat dengan mama. Aku akan tetap mengakui darah dagingku ini."
Arumi tanpa pamit pergi ke luar rumah dan masuk ke mobil. Di dalam mobil tangisnya pecah.
Sayang, jangan sedih Nak. Walau tak ada yang mau mengakui kehadiranmu, Bunda akan tetap pertahanan kamu. Tidak ada yang bisa memisahkan kita.
Tanpa orang tuanya tahu, Arumi tidak menuju Villa keluarga. Setelah supir mengantarnya ke Villa, Arumi memesan taksi untuk membawanya pergi dari sana.
Arumi tak mau dipisahkan dari anaknya. Ia takut jika tinggal di Villa saat melahirkan Papa dan Mama mengambil anaknya dan dijauhkan dari dirinya.
...........
Gibran ingin perusahaan sahabatnya David, dapat berkembang dengan cepat sehingga ia juga bisa kembali ke Indonesia secepatnya.
Gibran termenung di meja kerjanya. Di buka ponselnya. Tampak foto Arumi yang memeluk lengannya dengan manja. Foto yang di ambil saat mereka bulan madu.
__ADS_1
Arumi, aku kangen. Saat jauh begini, baru aku rasakan arti kehadiranmu. Biasanya kamu akan menghubungiku setiap waktu jam makan,hanya sekadar mengingatkan agar aku jangan tekat makan. Kamu juga tak akan mengizinkan aku lembur hingga tengah malam. Kamu akan datang ke kantor dan memaksaku pulang.
Tunggulah Arumi, aku akan kembali. Akan aku buktikan jika aku sangat mencintaimu. Akan aku tebus waktu yang terbuang percuma. Kita akan bahagia bersama dalam rumah tangga yang baru.
Gibran kembali larut dalam pekerjaannya. Ia sengaja tak pernah menghubungi Arumi. Gibran takut jika ia melihat atau mendengar suara wanita itu, ia tak akan tahan dan akan segera kembali ke Indonesia.
.............
Arumi mengontak sebuah rumah mungil di kota Bandung. Ia tak ingin seorangpun dari keluarga yang tau keberadaannya.
Dengan modal simpanan yang ia punya, Arumi akan membuka usaha. Namun saat ini ia masih memikirkan usaha apa yang akan ia jalani.
"Aku pasti bisa hidup tanpa bantuan siapapun. Akan aku buktikan jika aku bukanlah wanita manja dan lemah. Aku juga bisa mandiri. Demi anak yang ada dalam rahimku. Aku harus kuat."
Bersambung.
__ADS_1