
Telah dua minggu ini Arumi merasakan kepalanya pusing. Perusahaan milik orang tuanya saat ini di pimpin orang kepercayaan papa-nya.
Perusahaan banyak mengalami kemajuan sejak di pimpin Gibran. Arumi sendiri merasa tidak mampu jika ia yang memegang langsung.
Lagi pula dua minggu belakangan ini Aruni merasakan tubuhnya cepat lelah. Kerja sama dengan Shaka saja haeus ia tunda.
Arumi kembali membaringkan tubuhnya. Dari kemarin tak ada makanan yang masuk ke perutnya.
Sebenarnya hari ini Arumi telah janjian makan siang bareng Shaka. Tapi karena tubuhnya nggak bisa diajak kompromi, akhirnya ia memilih tidur.
Shaka dari kemarin telah mencoba menghubungi Arumi, tapi tak pernah di angkat wanita itu, ia menjadi sangat kuatir.
Setelah mengetuk pintu dan dipersilakan bibi masuk, Shaka menunggu di ruang tamu. Sebelum memanggil Arumi, bibi menyediakan segelas air minum dan sepiring camilan buat Shaka.
"Arumi ada, Bi."
"Ada, Tuan. Silakan minum. Saya panggilkan non Arumi dulu."
"Emang Arumi lagi ngapain, Bi."
"Dari kemarin non Arumi tidur aja. Kepalanya pusing."
"Arumi sakit ....?
"Nggak tau, Tuan. Bibi udah buatkan rebusan jahe untuk menghangatkan tubuh non Arumi."
"Kalau gitu, nggak usah dipanggilkan, Bi. Biar aja Arumi istirahat. Besok aja saya kembali," ujar Shaka.
"Bibi ngomong apa dengan non Arumi nanti."
"Katakan saja saya datang."
"Baik, Den." Bibi memang telah mengenal Shaka. Pria itu udah beberapa kali datang ke rumah.
__ADS_1
Shaka berdiri dari duduknya, ingin meninggalkan rumah Arumi. Baru saja sampai di pintu utama langkahnya terhenti karena suara panggilan dari Arumi.
"Shaka ...." panggil Arumi.
"Arumi, baru aja aku ingin pulang."
"Duduklah kembali, aku kebelakang sebentar," ucap Arumi dengan suara lemas.
Arumi keluar kamar untuk meminta bibi buatkan sup kerang. Saat akan ke dapur ia melihat Shaka.
Arumi meminta bibi membelikan sup kerang. Entah mengapa ia tadi teringat dengan makanan kesukaan Gibran itu. Arumi biasanya kurang menyukai sup kerang.
Setelah meminta bibi membelikan sup kerang, Arumi kembali ke ruang tamu menemui Shaka.
"Maaf harus menunggu, Shaka," ujar Arumi. Ia memilih duduk di hadapan Shaka. Pria itu memperhatikan wajah Arumi yang tampak sedikit pucat.
"Kamu sakit?" tanya Shaka.
"Aku rasa hanya masuk angin."
"Entahlah. Sejak berpisah dari mas Gibran, tubuhku terasa mudah lelah dan capek."
"Sejak berpisah dari suamimu?" tanya Shaka meyakinkan pendengarannya.
Arumi yang baru menyadari ucapannya menjadi terdiam. Ia hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Shaka.
"Kamu nggak kerja, Shaka?" tanya Arumi mengalihkan pertanyaannya Shaka.
"Aku memang telah mengosongkan jadwal hari ini. Bukankah kita telah berjanji akan makan siang.bareng."
"Sekali lagi maafkan aku, Shaka. Aku tak bermaksud mengingkari janji. Namun badanku sudah tak bisa diajak kompromi?"
"Apa kamu sudah periksa ke dokter."
__ADS_1
"Aku rasa hanya masuk angin biasa."
"Masuk angin? Aku rasa bukan. Kamu udah berulang kali merasakan itu."
"Jangan menyepelekan penyakit. Sebaiknya kamu pergi periksa. Biar lebih pasti sakit apa yang sedang kamu alami."
"Nggak apa, Setelah minum air jahe, biasanya agak enakan."
Shaka dan Arumi hanya bicara selama setengah jam. Setelah itu pria itu pamit. Arumi masuk kembali ke kamar. Ia kembali teringat saat-saat bersama mantan suaminya Gibran.
Memang sakit untuk melepaskan, tapi akan lebih sakit lagi jika terus bertahan. Kisah kita dahulu memang benar-benar tak akan bisa terlupakan. Namun, kan selalu ku ingat dan ku kenang, meski luka semakin terasa sakit saat mengenangnya. Aku hanya berharap suatu hari nanti, hatiku tak akan sakit saat mendengar namamu.
Bersambung
Selamat pagi CINTA YANG DIABAIKAN LOVERS. Sambil menunggu novel ini update bisa mampir ke novel teman mama, tak kalah menarik.
Judul. MAAFKAN AKU ISTRIKU
Perjuangan Abimanyu untuk mendapatkan kembali ci Renata, sang istri yang telah berulang kali disakitinya.
Tidak mencintai gadis yang menjadi wasiat terakhir ibunya membuat Abimanyu seringkali menyiksa dan menyakiti hati Renata hingga berkali-kali.
Akankah Bima bisa kembali mendapatkan cinta istrinya? Sementara hati Renata telah mati rasa akibat perbuatan Abimanyu yang telah menyebabkan buah hati dan ibunya meninggal dunia.
"Mas Bima-"
"Panggil aku Tuan seperti biasanya, karena kau hanyalah seorang pembantu di sini!"
"Ta-tapi Mas, kata Nyonya-"
"Ibuku sudah meninggal. Aku menikahimu karena keinginan ibuku, Jai kau jangan berharap dan bermimpi kalau aku akan menuruti keinginan ibuku untuk menjagamu!"
"I-iya, Tu-Tuan ...."
__ADS_1