
Sepanjang perjalanan Arumi tampak diam tanpa suara. Gibran menyadari semua itu pastilah karena ucapan Joana.
Gibran membawa Arumi ke salah satu kafe. Saat diparkiran Arumi masih duduk di mobil tanpa ada keinginan keluar.
"Arumi, kita makan dulu ya. Kamu ingat'kan kata dokter. Kamu itu harus lebih banyak makan," ucap Gibran pelan. Gibran paling tahu perubahan sikap Arumi. Wanita itu jika sedang marah pasti lebih banyak diam.
"Atau mau aku gendong," ucap Gibran sambil bercanda.
"Aku masih kenyang, Mas."
"Turun dulu, nanti kalau masih kenyang. Berarti temani aku makan aja."
"Aku mau pulang aja," gumam Arumi, namun suaranya masih dapat di dengar Gibran.
Gibran memiringkan tubuhnya menghadap Arumi. Pria itu menarik pelan bahu Arumi agar menghadap dirinya juga.
"Dengar Arumi, aku tau kamu saat ini ragu setelah mendengar ucapan Joana. Aku berjanji nggak akan pernah lagi menduakan kamu. Apa yang harus aku lakukan agar kamu percaya?"
Arumi mengusap perutnya, bukan menjawab perkataan Gibran.
"Arumi, coba kamu pikirkan baik-baik. Apa aku pernah menyakiti kamu secara langsung? Semua yang aku lakukan, karena aku yang belum menyadari jika aku mencintaimu."
Gibran menagkup kedua pipi Arumi dan mengecup dahinya.
"Aku tau saat ini kamu masih ragu, tapi aku mohon pikirkan bayi yang ada dalam kandungan kamu. Anak ini berhak mendapatkan kasih sayang yang utuh dari kedua orang tuanya. Malam nanti kita menikah lagi. Aku udah panggilkan penghulu untuk menikah kembali. Pengacara juga sedang mengurus pembatalan perceraian kita."
Arumi akhirnya mengangguk, membuat Gibran tersenyum semringah. Gibran mengecup bibir istrinya lembut.
"Kita keluar ya. Aku takut khilaf. Kita harus menikah lagi dulu," ujar Gibran sambil mencubit pelan pipi Arumi.
Gibran menggandeng tangan Arumi memasuki kafe. Gibran memilih duduk di ruang VIP. Ia memesan makanan kesukaan Arumi.
__ADS_1
Setelah pesanan datang, Gibran meminta Arumi makan. Gibran heran melihat Arumi mengambil makanan yang ia pesan buat dirinya. Yang Gibran tau Arumi tidak menyukai makanan pedas seperti yang ia pesan.
"Sayang, mie rebus itu pedas banget loh," ucap Gibran.
"Aku suka makanan pedas,Mas.Kalau nggak terasa cabenya, aku mual."
Gibran merapatkan tubuhnya dengan Arumi. Menunduk dan mengecup perut Arumi.
"Pasti baby boy ayah yang inginkan semua ini. Seleranya sama dengan ayah," ucap Gibran sambil mengecup perut Arumi.
"Mungkin,Mas. Sejak aku hamil, seleraku berubah. Aku juga suka brownies keju."
"Betulkah? Nanti kita beli banyak, ya?" ucap Gibran senang.
Gibran memesan makanan yang pedas satu lagi untuk dirinya. Ia menyuapi Arumi makanan yang ia pesan. Arumi memang menyukainya.
Gibran senang melihat Arumi wanita yang ia cintai itu lahap makannya. Padahal Mama Arumi mengatakan jika udah hampir satu minggu sejak Papa meninggal ia jarang makan.
Ibu Gibran telah menyiapkan semuanya. Akad nikah dilangsungkan sehabis solat magrib. Gibran hanya melafazkan sekali tarikan nafas.
Setelah akad nikah, Gibran meminta para tamu mencicipi hidangan yang telah disiapkan ibunya.
Tampak ibu Gibran dan Mama Arumi tersenyum bahagia. Mereka senang akhiranya Gibran dan Arumi bersatu kembali.
Setelah para tamu undangan pulang, Gibran dan Arumi pulang ke rumah mereka bersama mama Arumi.
Gibran membersihkan diri sebelum membaringkan tubuhnya di samping Arumi yang lebih dahulu tidur.
Gibran memiringkan tubuhnya menghadap Arumi dan mengecup dahi istrinya itu.
"Mas Gibran, udah selesai mandinya."
__ADS_1
"Udah.Aku kira kamu akan masuk ikutan mandi bareng. Kangen mandi bareng," bisik Gibran.
"Apaan sih, Mas. Aku malu."
"Kenapa malu. Aku masih hafal bentuk tubuhmu."
"Pasti beda. Sekarang perutku udah membuncit."
"Kamu pasti akan tambah seksi jika tanpa busana dengan perut buncitnya."
"Jangan mesum, Mas."
Gibran tertawa melihat Arumi yang cemberut dengan wajah memerah..
"Kamu benar Arumi, kita tak boleh mesum. Pembaca banyak yang puasa."
Gibran menarik tubuh Arumi agar lebih merapat ke badannya, dan memeluk erat.
Bersambung.
Mama membawa rekomendasi novel teman nih, bisa mampir sambil menunggu CINTA YANG DIABAIKAN update.
Judul novel : ISTRI YANG TAK DIHARGAI.
Aisyah, seorang istri yang di jadikan pembantu di rumah suaminya sendiri. Bahkan dirinya harus menerima pernikahan suaminya dengan kekasihnya. Penghinaan kerap dia rasakan dari suami, ibu mertuanya, dan juga istri kedua suaminya. Aisyah hanya di jadikan istri yang tak di hargai oleh suaminya yang bernama Kenzi.
Namun pertemuannya dengan sang dewa penolong merubah takdirnya. Aisyah yang memiliki kulit tak terawat ( jelek ) dan penampilan kampungan berubah menjadi sosok wanita cantik dan memukau. Di tambah pertemuannya dengan orang masa lalunya yang membantu dirinya mewujudkan balas dendamnya.
Yuk ikuti kisah Aisyah dalam merubah takdirnya dan membalaskan dendamnya atas perbuatan mantan suami, mantan madunya, dan keluarga mantan suaminya.
__ADS_1