CINTA YANG DIABAIKAN

CINTA YANG DIABAIKAN
Bab 88. Rendra


__ADS_3

Alana masuk ke kamar Arumi setelah mengetuk pintu. Arumi sedang menyusui putranya Rendra. Bayi itu sangat kuat menyusui. Sehingga Arumi harus menambahkan susu formula.


"Gantengnya aunty, tambah gemoi aja." Alana mencubit pipi Rendra yang sedang menyusui.


Sekitar sepuluh menit menyusu, Rendra tertidur. Arumi menidurkan di atas kasur.



"Jadi hari ini kamu mau menemui Joana?" tanya Arumi.


"Ya, Mbak. Aku dan Kak Shaka sekelian nanti mampir ke EO dan toko perhiasan."


"Mbak senang banget akhirnya kamu dan Shaka menuju halal."


"Aku sebenarnya masih takut, Mbak."


"Apa yang kamu takutkan?" tanya Arumi.


Alana memainkan jari Rendra. Tampaknya Alana ragu menjawab pertanyaan Arumi. Ia memandangi Arumi sekali lagi.


"Aku takut karma atas perbuatan Mas Gibran menimpaku," gumam Alana. Namun perkataan Alana masih dapat didengar Arumi.


"Karma?"


"Karma karena Mas Gibran pernah duakan Mbak Arumi. Aku takut nanti diduakan juga dengan suamiku. Pasti aku nggak sekuat Mbak menghadapi semuanya."


"Nggak ada karma dalam agama kita. Yang ada itu adalah balasan dari perbuatan seseorang dan itu akan ditanggung sipelaku sendiri. Jika kamu mengalami apa yang pernah dilakukan Mas Gibran, itu hanya kebetulan,mungkin nasibmu memang ditakdirkan sama."


"Semoga saja apa yang aku takutkan nggak akan terjadi."


"Kamu gadis yang baik, pasti akan dapat suami yang baik. Selama Mbak mengenal Shaka, belum pernah ada keburukan yang tampak."

__ADS_1


"Ya, Mbak."


"Shaka-nya mana. Kamu mau pergi dengan Shaka'kan?


"Menunggu di luar, ruang keluarga."


"Astaga, Alana. Kita asyik mengobrol, Shaka dibiarkan sendirian. Tunggu sebentar, Mbak ambilkan uang buat Joana dulu."


Arumi berjalan menuju lemari dan mengambil amplop yang telah ia dan Gibran siapkan. Arumi tetap meminta izin, walau uang yang ia berikan dari simpanannya.


Arumi mengajak Alana menemui Shaka. Pria itu tampak sedang asyik bermain ponsel, untuk menghilangkan suntuk.


"Maaf, Shaka. Harus menunggu lama. Maklum kalau udah ketemu Lana pasti bawaannya lupa waktu kalau mengobrol."


"Nggak apa, Rumi," ucap Shaka.


"Nggak apa. Dalam hati Kakak pasti dongkol, dan berkata "ngomongin apa sih orang berdua. Kalau udah ketemu sampai lupa waktu. Nggak tau apa, aku bete menunggu",pasti itu yang kakak ucapkan di hati."


Arumi tersenyum mendengarnya . Diakui setiap bertemu Alana, ia memang agak lupa waktu. Ada saja yang di bahas gadis itu. Arumi menyerahkan amplop pada Alana dan Shaka.


"Shaka, maaf ya. Aku jadi merepotkan kamu."


"Nggak apa-apa, Rumi."


"Pasti kak Shaka senang, Mbak. Dengan begini aku dan Kak Shaka bisa pergi bareng agak lamaan. Betul'kan, Kak"


"Udah, Alana. Jangan goda Shaka terus. Pergilah."


"Siap bu Bos."


Shaka dan Alana pamit dengan Arumi. Shaka langsung menuju rumah kediaman Joana yang ia dapat dari salah seorang bawahannya.

__ADS_1


Saat ini Joana hanya tinggal dikontrakan kecil. Ia nggak sanggup menyewa sebuah apartemen.


Shaka membawa Alana menuju sebuah tempat di pinggiran ibu kota. Hampir satu jam perjalanannya.


"Kak Shaka yakin kalau Mbak Joana tinggal di daerah sini."


"Yakin. Orang yang memberi alamat sempat memotret saat Joana duduk di depan rumahnya."


Shaka menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Mereka berjalan kaki menuju Rumah Joana yang berada di gang sempit.


Tiba di satu rumah kontrakan kecil, Shaka mengetuknya. Alana melihat dengan pandangan kurang percaya.


Tidak berapa lama, terdengar suara langkah kaki mendekati pintu. Seorang wanita tampak berdiri di balik pintu.


"Alana ...."


"Mbak Joana. Jadi benar ini rumah, Mbak. Aku takut salah. Boleh kami masuk."


Joana tampak berpikir. Ia memandangi Alana dan Shaka bergantian.


Bersambung.


Apakah Joana mengizinkan Shaka dan Alana masuk? Jangan lupa nantikan terus kelanjutannya. 😍😍😍😍😍


Bonus visual tokoh utama. Kemarin banyak yang minta. Pada lupa mungkin visual Arumi dan Gibran.


ARUMI



GIBRAN

__ADS_1



__ADS_2