CINTA YANG DIABAIKAN

CINTA YANG DIABAIKAN
Bab 55. Kembali ke Jakarta


__ADS_3

Arumi memegang dadanya yang terasa sesak, ia tak percaya dengan apa yang baru di dengar. Arumi berjalan perlahan menuju kamar dan mengganti pakaiannya.


Wanita itu memesan taksi untuk membawanya menuju terminal. Arumi ingin ke Jakarta sekarang juga.


Namun saat ia sampai di terminal tak ada satupun bus lagi. Semua telah berangkat.


Arumi akhirnya menghubungi Shaka, minta tolong pada pria itu mengantarnya hingga Jakarta.


Shaka memandang ke sekeliling terminal mencari keberadaan Arumi. Wanita itu mengatakan jika ia menunggu di terminal.


Shaka melihat Arumi dari kejauhan, ia melihat Arumi yang bersandar di dinding sambil menunduk. Shaka berjalan cepat, menghampiri Arumi.


"Arumi ...."


"Shaka, Papa ...." ucap Arumi menangis.


"Kita masuk mobil dulu. Angin malam nggak baik untuk wanita hamil."


Shaka mengajak Arumi masuk ke mobil dan berjalan perlahan meninggalkan stasiun.Di dalam mobil Arumi masih terus menangis terisak.


"Kenapa tadi kamu nggak langsung hubungi aku? Kenapa harus ke terminal? Sangat bahaya wanita sendirian di terminal."

__ADS_1


"Aku nggak tau harus melakukan apa? Yang aku tau, aku harus berangkat ke Jakarta secepatnya."


"Kamu bisa minta aku mengantarkan ke Jakarta."


"Aku takut merepotkan kamu. Namun aku kali ini terpaksa. Aku nggak mau terjadi sesuatu dengan Papa."


"Arumi, ini musibah. Nggak akan ada orang merasa direpotkan. Begitu juga aku. Apa artinya kita berteman jika kamu nggak ingin aku menolong saat kamu membutuhkan? Atau kamu nggak pernah menganggap aku temanmu?"


"Bukan begitu, Shaka. Aku panik. Nggak tau apa yang harus aku lakukan."


"Baiklah, aku mengerti. Tapi lain kali pikirkan juga risiko yang akan kamu dapatkan. Kamu tau, sangat bahaya bagi wanita, apalagi secantik kamu dan dalam keadaan hamil sendirian di terminal."


"Aku sangat kaget saat tau kamu menunggu di Stasiun. Aku kebut mobil agar cepat sampai."


"Berdoa saja semoga papa baik-baik saja, karena hanya doa yang dapat kita lakukan saat ini."


"Aku takut terjadi sesuatu dengan Papa."


Papa, cara kita memandang hidup memang berbeda, tetapi itu tidak berarti kita harus selalu bertengkar. Aku mencintai dan mengagumimu, tolong maafkan aku karena telah membuatmu sakit dengan apa yang aku lakukan.


Arumi yang mengantuk tertidur di mobil dalam perjalanan ke Jakarta. Shaka menghentikan mobilnya dipinggir jalan dan membuka jaket yang ia pakai. Shaka menutupi tubuh Arumi dengan jaketnya. Ia melihat Arumi yang menahan dingin.

__ADS_1


Setelah melewati empat jam perjalanan, akhirnya Shaka dan Arumi sampai di rumah sakit yang dikatakan orang kepercayaan Papa Arumi.


Shaka mengguncang bahu Arumi pelan, membangunkan wanita itu. Arumi tampak sangat lelap dalam tidurnya. Namun air mata masih tampak di sudut matanya.


"Arumi, kita sudah sampai," ucap Shaka pelan dengan mengguncangkan pelan lengan Arumi.


Perlahan wanita itu membuka matanya dan melihat sekeliling. Tampak rumah sakit didepan matanya.


Arumi melihat ada jaket yang menutupi tubuhnya. Ia meletakkan jaket di sandaran jok.


Keluar dari mobil air mata Arumi kembali mengalir, ia takut terjadi sesuatu pada Papanya.


Arumi berjalan menyusuri lorong rumah sakit dengan perasaan tak menentu. Entah apa perasan Arumi saat ini.


Dari kejauhan Arumi dapat melihat ibunya yang terduduk sambil menangis. Arumi mempercepat langkahnya..


"Mama ...." panggil Arumi. Mama Arumi itu memandang ke arah suara yang datang. Dilihatnya Arumi yang mendekat.


"Arumi ...." ucap Mama dengan suara gemetar melihat anak satu-satunya telah kembali.


Bersambung

__ADS_1


Selamat Pagi semuanya. Happy weekend. Terima kasih atas dukungannya selama ini . Lope-lope sekebon..


__ADS_2