CINTA YANG DIABAIKAN

CINTA YANG DIABAIKAN
Bab 43. Pelukan Pepisahan


__ADS_3

Saat Gibran mengecup dahinya Arumi tak bisa menahan tangisnya lagi, air mata mbnajiri wajahnya.


Gibran membawa Arumi ke dalam pelukannya. Ia mengusap punggung mantan istrinya itu. Gibran masih ingat jika Arumi ada masalah, ia akan tenang saat punggungnya diusap.


"Maafkan jika selama menjadi suami aku selalu membohongimu."


Arumi memeluk erat Gibran. Pria yang dulu sangat dicintainya. Mungkin saat ini masih dicintai, tapi rasa kecewa membuat Arumi menepis rasa cintanya.


Meski berat, namun keputusan ini terpaksa Arumi ambil demi kebaikan bersama dan menghindari hubungan toxic.


Kau adalah alasan mengapa ku tersenyum. Tapi terkadang kau alasan mengapa aku menangis.


Arumi melepaskan pelukan Gibran dan menghapus air matanya.


"Aku memang bukan orang yang sempurna. Aku lemah dan pengecut. Meski demikian, aku rela jika harus melepasmu untuk sebuah kebahagiaanmu," ucap Gibran.


Ia menghapus sisa air mata yang ada di pipi mulus Arumi.

__ADS_1


"Sekeras apa pun aku berlari dari kenyataan. Sekeras apa pun aku berlari dari takdir. Sekeras apa pun aku mencari jawaban dari semua pertanyaan, jawaban dari semua itu cuma ada satu, yaitu aku yang terlambat menyadari cintaku padamu. Aku yang terlalu bodoh menyiakan cintamu yang tulus padaku dulu."


"Hanya karena hubungan berakhir, belum tentu kita tidak mencintai satu sama lain. Hanya kita tidak ingin menyakiti satu dengan yang lain. Ini adalah keputusan terbaik yang kita ambil," ucap Arumi.


"Semoga nanti kamu dipertemukan dengan pria yang jauh lebih baik dariku, dan mencintaimu dengan tulus. Jika suatu hari kamu tidak bisa menemukan hati yang cocok denganmu, inagtlah aku, kembali padaku. Aku akan tetap menunggu sampai kapanpun itu."


Arumi dan Gibran pamit setelah dua jam lamanya mereka mengobrol.


Gibran memberikan kunci dan surat apartemen yang ia beli untuk ditempati Joana dulu pada Arumi.


Wanita itu awalnya menolak, tapi setelah Gibran memaksa, barulah Arumi menerimanya.


"Aku tak mengharapkan apa-apa."


"Arumi, aku pamit. Mungkin kita tak akan bertemu dalam waktu dua tahun lamanya. Aku berharap saat aku kembali hati ini masih milikku dan untukku. Boleh aku mengecup sebagai salam perpisahan."


Arumi hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Gibran mengecup pucuk kepala Arumi, dahi dan kedua pipinya.

__ADS_1


Setelah itu mereka berpisah. Arumi kembali ke rumah yang dulu mereka tempati. Gibran pulang ke rumah orang tuanya.


Sejak ayahnya meninggal, Gibran mengontrak satu rumah kecil untuk ia tempati. Pria itu memilih keluar dari rumah untuk menghindari perselisihan. Amanda selalu saja mengungkit semua kesalahan yang pernah ia lakukan.


Gibran mengetuk pintu rumah orang tuanya. Ibu membukakan pintu. Melihat ibu, Gibranangsung memeluk wanita yang sangat disayanginya itu.


Ibu membawa Gibran duduk. Pria itu menggenggam tangan wanita yang telah melahirkan dirinya.


"Ibu, aku datang untuk pamit. Aku akan pergi ke Brunei selama dua tahun. Aku berharap selama aku berada di sana, ibu sehat selalu."


Dadanya Gibran terasa sesak. Ia berusaha menahan tangisnya.


"Doakan anakmu ini sukses di negara orang. Aku akan kembali setelah bisa membawa uang untuk membuka usaha di sini. Jika selama dua tahun belum cukup uang yang aku kumpulkan, mungkin aku akan lebih lama lagi di negara itu."


Ibu tampak kaget mendengar perkataan Gibran. Selama ini anaknya tak pernah menyinggung akan pergi meninggalkan negara ini.


Bersambung

__ADS_1


Sambil menunggu update bisa mampir ke novel teman mama dibawah ini.



__ADS_2