
Arumi duduk di sofa yang ada di ruang rawat inapnya sambil menggendong putranya Rendra.
Hari ini Arumi telah diizinkan dokter kembali ke rumah. Mama Arumi telah terlebih dahulu pulang, ia meminta bibi membersihkan kamar bayi yang telah Gibran dan Arumi siapkan.
Alana membantu merapikan barang-barang Arumi yang akan di bawa pulang. Saat sedang asyik membereskan barang, terdengar suara Shaka menyapa..
"Selamat sore semuanya," ucap Shaka.
Mendengar suara Shaka, Alana langsung menghentikan kegiatan dan tersenyum menyambut kedatangan Shaka.
Gibran dan Arumi tersenyum melihat adiknya yang sedang jatuh cinta. Shaka membalas senyuman Alana dengan malu-malu.
"Tau aja kalau aku kangen," ucap Alana.
"Kakak tau nggak, perbedaan kak Shaka dan kipas angin?" ucap Alana saat Shaka baru saja duduk.
"Aku rasa semuanya berbeda antara aku dan kipas angin," ucap Shaka.
"Bedanya kakak sama kipas adalah, Kalau kipas bikin angin, kalau kamu bisa bikin kangen."
"Alana, Shaka baru aja datang udah digombalin. Jadi cewek itu harus jaim. Jangan malu-maluin," ucap Gibran.
"Malu-maluin apa?" tanya Alana.
"Masa cewek yang gombalin cowok," ucap Gibran.
__ADS_1
"Ini udah zaman modern, nggak ada bedanya cowok atau cewek. Dari pada nunggu Kak Shaka gombal, bisa mati duluan aku. Nggak akan pernah ia melakukan itu."
Gibran dan Arumi yang mendengar ucapan Alana jadi tertawa. Alana emang tak pernah bisa basa-basi. Apa yang ada dipikirannya akan ia ungkapkan.
Shaka duduk di dekat Gibran diikuti Alana. Gadis itu telah selesai membereskan semua barang Arumi.
Ia memilih duduk di dekat Shaka, membuat pria itu makin kikuk. Alana tersenyum semringah, agar Shaka tak gugup.
"Jangan gugup gitu, Kak. Mas Gibran nggak makan orang, cuma kalau ngamuk suka gigit aja."
"Aku nggak gugup, kok," ucap Shaka.
"Kak Shaka tau nggak, kalau Kakak itu seperti lempeng bumi, bergeser sedikit saja sudah mengguncang hatiku."
"Jangan gombalin Kakak didepan Mas dan Mbak kamu. Nanti Kak Shaka balas, kamu bisa malu," ucap Shaka.
"Alana, kak Shaka tau kita tak seumuran, tapi aku ingin seumur hidup dengan kamu."
"Oh, meleyot hatiku. Dadaku sesak, aku butuh oksigen."
"Lebay, kamu," ucap Gibran.
"Idih, Mas Gibran merusak suasana hatiku yang lagi bahagia karena di gombalin."
"Nanti jika kita udah menikah, aku nggak akan gombalin kamu dengan kata-kata tapi dengan perbuatan langsung," ucap Shaka.
__ADS_1
"Kak Shaka bisa aja buat hatiku mengembang."
"Aku udah bicara dengan Mas Gibran, jika saat aqiqah Rendra, kita akan lamaran dan sekeligus bertunangan."
"Tunangan ...."
"Ya, aku nggak suka main-main Alana. Jika tujuan kita mengenal lebih dekat untuk menikah, kenapa harus di tunda jika telah merasa nyaman."
"Kamu itu harus siap jadi seorang istri. Jangan manja dan kolokan lagi," ucap Gibran.
Alana jadi terdiam. Ia tak mengira Shaka telah melamarnya melalui Gibran. Ia pikir Shaka tidak akan serius menjalin hubungan dengannya.
Setelah cukup perbincangan mengenai acara aqiqah Rendra dan lamaran Alana, Gibran mengajak Shaka sekalian ikut mereka pulang.
Arumi dibantu Gibran menuju mobilnya. Bayi mereka di gendong Alana, di samping gadis itu berjalan Shaka.
"Kamu udah cocok menggendong bayi," ucap Shaka.
"Apaan sih Kak Shaka. Udah mikirin anak aja," ucap Alana malu.
"Jika kita menikah, pasti tujuan selanjutnya memiliki keturunan."
"Nanti aja ngomong itu setelah kita menikah. Kalau sekarang aku malu," ucap Alana.
Shaka jadi tersenyum melihat wajah Alana yang langsung memerah karena menahan malu. Ia yakin pilihannya tepat. Alana wanita yang tepat untuk menjadi pendamping hidupnya.
__ADS_1
Bersambung.