
Gibran membasuh tubuh Arumi dengan telaten. Dengan lembut ia menyabuni tunuh istrinya. Setelah tubuh Arumi bersih, Gibran mengeringkan dan memakaikan baju.
Arumi keluar kamar mandi setelah bersih. Tidak lupa Gibran selalu di samping istrinya itu.
Seluruh keluarga Gibran telah kembali ke rumah. Hanya tinggal Gibran dan mama Arumi yang menemaninya.
Gibran membantu Arumi naik ke tempat tidur. Walau Arumi mengatakan jika ia bisa melakukan sendiri, tapi Gibran takut. Ia teringat perjuangan istrinya saat melahirkan.
Terkadang Gibran masih menangis, jika ingat kesakitan yang Arumi rasakan saat berjuang melahirkan putra mereka.
Gibran pamit keluar meninggalkan Arumi dan mama. Pria itu ingin membeli sarapan untuk Arumi dan ibu mertuanya.
Walau rumah sakit telah menyediakan sarapan, tapi Gibran tetap mencarikan untuk istrinya sarapan yang lebih enak.
Saat Gibran kembali dari membeli sarapan, ia dikagetkan dengan seseorang yang menabrak tubuhnya. Gibran mengangkat kepalanya, melihat siapa yang menabrak.
"Joana ...." ujar Gibran.
"Apa kabarmu? Kamu terlihat sangat bahagia."
"Sehat, dan emang saat ini aku sangat bahagia."
__ADS_1
"Kenapa aku berpikir Tuhan itu tidak adil. Kamu yang menyakiti hatiku, kenapa nggak mendapatkan karma atas kesalahanmu."
"Maksud kamu apa, Joan?"
"Aku yang menjadi korban janji manismu, harus hidup begini. Padahal aku di sini korban. Korban dari keegoisanmu. Aku harus hidup berdua dengan anakku, mencari nafkah sambil menjaga dirinya yang sakit-sakitan."
"Aku harus banting tulang buat biaya pengobatan anakku. Kenapa cobaan tak berhenti menghampiri aku?"
Gibran melihat air mata Joana mulai jatuh membasahi pipinya. Wanita itu saat ini memang tampak kurus dan kurang terawat. Ada rasa iba saat Gibran melihat keadaannya.
Bagaimanapun, mereka pernah menjalin hubungan hingga tujuh tahun. Itu bukan waktu yang sebentar.
"Anakmu sakit apa? Kemana bapaknya?"
Sebenarnya nasib Joana sangat miris, tapi apa yang mau dikatakan. Itu pilihan hidupnya. Mengapa ia mengambil jalan pintas berhubungan badan dengan bosnya yang jelas telah memiliki istri.
"Apa itu cacat septum atrium?" tanya Gibran.
"Merupakan salah satu jenis kelainan jantung bawaan yang sederhana. Kondisi ini kerap kali tidak membutuhkan operasi perbaikan karena lubang yang terbentuk di bilik atas akan menutup dengan sendirinya seiring waktu."
"Jadi tindakan apa yang harus dilakukan?"
__ADS_1
"Pada kasus ini dan cacat jantung sederhana lainnya, dokter mungkin hanya akan merekomendasikan perawatan dengan minum obat-obatan," jawab Joana.
"Apakah bapaknya tidak memiliki perasaan atau ikatan batin? Sudah pernah ia melihat anaknya?"
"Dia hanya memberikan uang sesukanya, karena masih meragukan anak itu."
"Kenapa ia meragukan jika itu anaknya. Apakah kamu pernah tidur dengan pria selain bapak anakmu."
Joana hanya diam dan menundukkan kepalanya. Saat ini ia sangat menyesal atas apa yang pernah ia lakukan dulu. Memang ia pernah tidur dengan rekan kerja bosnya hanya untuk dapat menangkan proyek dan ingin dapat bonus besar.
Joana menyesal karena pernah terjerumus, hanya karena ingin mendapatkan uang banyak. Selain uang alasan Joana tidur dengan pria lain, hanya karena rasa sakit hatinya pada Gibran. Ia sering membayangkan Gibran yang sedang bercinta dengan Arumi.
Joana berpikir, kenapa ia tidak melakukan hal yang sama. Ia juga dapat bercinta dengan pria lain, tidak harus menangisi nasibnya.
Saat Gibran dan Joana lagi mengobrol, ponselnya berbunyi. Gibran melihat nama Arumi yang tertera. Ia baru sadar jika membeli sarapan buat istrinya itu.
Bersambung.
Kasihan juga melihat nasib Joana, ya? Tapi itu telah menjadi pilihan hidupnya. Mengapa harus mengambil jalan yang salah.
Jangan lupa mampir ya ke novel terbaru mama, HASRAT TERLARANG GIGOLO.
__ADS_1