
"Gugurkan kandungan ini?" tanya Arumi sambil menunjuk perutnya.
"Apa Papa nggak salah bicara?" tanya Arumi lagi.
"Ya, gugurkan kandunganmu. Anak itu akan menjadi beban bagimu. Apa lagi jika Gibran tau, bisa jadi alasan baginya untuk kembali denganmu."
"Aku nggak mau. Lebih baik Papa bunuh saja aku sekalian."
"Pa, pikirkan baik-baik omongan Papa!" ucap Mama.
"Jika Arumi hamil, ia akan jadi bahan gunjingan. Karena hamil tanpa suami."
"Jika begitu alasan Papa, aku akan pergi jauh. Aku nggak akan membuat Papa malu," ucap Arumi. Ia menghapus kasar air mata di wajahnya.
Hati Arumi sakit, kenapa Papanya tega ingin membunuh calon cucunya.
"Ini semua demi kamu. Jika kamu tak memiliki anak, pria manapun akan mudah kamu dapatkan."
"Aku nggak mau. Jika Papa memang tak bisa menerima bayi yang ada dikandunganku, aku akan pergi menjauh. Aku nggak akan kembali sampai ia lahir."
"Anak adalah anugerah terindah sekaligus amanah dan titipan yang Tuhan berikan kepada orang tua. Keberadaan anak sangat dinanti-nantikan oleh orang tua sebagai penyempurna kebahagiaan dalam keluarga. Tidak jarang pasangan yang belum dikarunia anak pun akan melakukan berbagai usaha demi mendapatkan anak,tapi Papa meminta aku menggugurkan."
Arumi berdiri dari duduknya dan berjalan menuju kamarnya. Langkahnya terhenti saat mendengar suara Papa.
__ADS_1
"Jangan jadi wanita bodoh untuk kedua kalinya Arumi. Cukup sekali kamu dibodohi Gibran. Apa kamu pikir Gibran akan percaya jika itu anaknya? Apa kamu bermaksud mengikat pria itu dengan anakmu?"
"Papa jangan takut. Aku nggak akan kembali dengan mas Gibran. Aku akan membesarkan anakku seorang diri."
"Di luar sana banyak wanita yang menginginkan memiliki keturunan, aku yang telah dianugerahi bayi, nggak akan membuangnya."
Arumi melangkah masuk ke kamar. Di dalam kamar ia menangis. Mengingat semua keinginan Papanya.
Arumi dari dulu memang menginginkan keturunan, tapi selalu ditunda atas perintah Gibran.
Mana mungkin aku membuang darah dagingku sendiri. Dari dulu aku telah menginginkan bayi hadir di rahimku. Sayang, mama akan menjagamu.
Mama Arumi masuk ke kamar anaknya. Ia duduk di samping Arumi yang sedang menangis.
"Arumi ...." ucap Mama pelan.
"Kenapa kamu berpikir begitu, Nak. Tentu saja kamu anak kandung Papa dan Mama."
"Jika aku anak kandung Papa,kenapa ia memintaku menggugurkan kandungan? Pasti papa bisa merasakan bagaimana sayangnya orang tua dengan anaknya."
"Arumi, pasti maksud papa kamu itu baik. Ia nggak mau anak itu akan menjadi penghalang kebahagiaan kamu."
"Tapi bayi ini akan menambah kebahagiaanku, bukan penghalang."
__ADS_1
"Mama juga nggak setuju dengan permintaan papa kamu."
"Jadi aku harus bagaimana?"
"Sebaiknya kamu tinggal di Villa kita aja hingga bayi ini lahir."
"Satu lagi permintaan Mama."
"Apa, Ma?"
"Jangan pernah katakan tentang kehamilanmu pada Gibran dan keluarganya."
"Apa Papa yang meminta mama mengatakan ini padaku."
"Arumi, mengertilah Nak. Papa kamu tak ingin kamu kembali pada Gibran. Cukup dua 'tahun kamu dibohongi."
"Tapi anak ini berhak juga mengetahui siapa ayah kandungnya."
"Anakmu bisa memiliki ayah lain yang bisa dianggapnya sebagai ayah kandungnya."
"Aku nggak tau Ma, apakah aku akan menikah lagi atau begini selamanya? Saat ini yang ada dalam pikiranku bagaimana membesarkan bayi ini dulu. Mengenai pendamping hidup nggak terlalu aku pikirkan," ucap Arumi.
Apakah yang mas Gibran pikirkan jika mengetahui kehamilanku? Bukankah dulu Mas Gibran juga nggak menginginkan keturunan dariku? Mama benar, sebaiknya aku memang menyembunyikan kehamilanku dari mas Gibran dan keluarganya.
__ADS_1
Bersambung.
Kemanakah Arumi akan pergi? Apakah Arumi akan menutup kebenaran tentang anak itu dari Gibran dan keluarganya?