
Joana duduk dihadapan Arumi dan Gibran. Suami Arumi itu tampak gelisah. Ia masih tidak mengerti kenapa istrinya masih saja bersikap baik dengan Joana.
Gibran sendiri, hingga detik ini belum bisa memaafkan dirinya atas pengkhianatan yang ia dan Joana lakukan. Setiap Arumi tidur, Gibran pasti akan mengecup pipi istrinya berulang kali, meminta maaf atas luka yang dulu ia torehkan di hati sang istri.
Pernah Gibran cerita dengan ibunya, jika ia setiap hari dihantui ketakutan. Gibran takut suatu hari Arumi membalas perbuatannya dulu dengan berselingkuh bersama pria lain.
Gibran pasti tidak akan bisa menerimanya. Gibran tidak bisa membayangkan rasa sakit yang akan ia terima. Gubran baru menyadari sekarang, jika ia sangat mencintai istrinya.
"Bagaimana kesehatan anakmu, Joan?" tanya Arumi. Suara istrinya itu membuat Gibran tersadar dari lamunan.
"Udah mulai membaik," jawab Joana.
"Syukurlah. Semoga makin membaik dan sembuh."
"Aku mau ucapkan terima kasih, Arumi. Bantuanmu sangat membantu. Aku bisa membawa anakku berobat."
"Jika kamu masih butuh bantuan, hubungi saja Alana. Jangan sungkan," ujar Arumi.
"Aku bukan sungkan. Namun, aku sangat malu denganmu. Aku yang dulu sengaja menyakiti kamu, mengkhianati kamu, tapi kamu membalasnya dengan kebaikan. Aku nggak tau harus berkata apa untuk mengungkapkan penyesalanku."
Gibran tampak gelisah. Ia tau jika kesalahan yang Joana lakukan, juga atas andil dirinya. Ia dan Joana melakukan kesalahan yang sama dengan Arumi.
__ADS_1
Joana menundukkan kepalanya, ia tampak menahan air mata. Anak Joana yang ada di gendongannya tampak gelisah dan terbangun.
Gadis cilik itu menangis. Joana mengambil botol susu dari dalam tasnya.
Makanan datang, Joana masih sibuk dengan anaknya. Arumi yang kasihan, berdiri dari duduknya.
"Biar aku yang gendong anakmu. Kamu makan aja dulu. Siapa namanya?" tanya Arumi.
"Bulan, aku berharap ia seperti bulan yang menerangi bumi di malam hari."
"Nama yang bagus."
"Makanlah, selagi Bulan tenang bersamaku."
Perlahan Joana memakan makanannya. Ia tampak lahap. Gibran hanya bisa diam. Setelah Joana menghabiskan makanannya, ia meminta Bulan kembali.
"Terima kasih, Arumi. Bulan tenang bersama kamu. Pasti ia nyaman berada dalam pelukan orang baik seperti kamu."
"Jangan terlalu memuji. Aku nggak sebaik yang orang pikirkan. Aku juga manusia biasa. Aku punya rasa marah dan kecewa. Cuma aku berusaha meredam dan mengendalikan semua kemarahanku. Aku nggak mau menyesal akhirnya jika mengikuti amarah dan emosi."
"Arumi, kamu mau percaya atau tidak, jika aku saat ini benar-benar menyesal karena pernah menyakiti orang baik seperti kamu."
__ADS_1
Joana kembali tertunduk. Air mata jatuh membasahi pipinya. Ia tidak bisa menahannya lagi.
"Aku tau, kesalahan aku padamu nggak mudah dimaafkan. Aku akan terus meminta maaf walau kamu mengatakan telah memaafkan kesalahanku."
Joana diam sejenak. Ia menghapus air mata dipipinya. Joana menarik napas dalam sebelum melanjutkan ucapannya.
"Mungkin yang terjadi pada hidupku saat ini adalah karma dan balasan atas perbuatanku dulu padamu. Aku yang sengaja bersenang di atas penderitaan seorang istri. Dengan segenap hati, aku mohon sekali lagi. Maafkan aku." Akhirnya tangis Joana pecah.
Gibran juga tampak gugup. Ia pasti sadar jika mereka berdua melakukan kesalahan yang sama dengan Arumi. Lebih jahat dirinya, yang membohongi istri sebaik Arumi.
"Aku telah memaafkan semua kesalahanmu dan juga kesalahan Mas Gibran. Jika aku belum memaafkan, nggak mungkin aku bisa menerima Mas Gibran kembali."
Joana dan Gibran tampak saling memandangi tanpa satu katapun keluar dari bibir mereka.
Tidak ada gunanya menyimpan amarah kepada orang lain. Jika sifat itu bakal membuatmu lebih menderita. Rasa benci, amarah, dan dendam hanya akan melukai diri sendiri. Sebab itu, pergunakan ketulusan hatimu untuk memaafkan orang yang bersalah denganmu.
Bantulah hatimu untuk memaafkan, meski ia belum meminta maaf sekalipun. Sebab memaafkan orang lain akan terasa berat apabila tidak berasal dari hati.
Saya tidak memaafkan orang karena saya lemah. Saya memaafkan mereka karena saya cukup kuat untuk memahami orang yang membuat kesalahan. Memaafkan orang yang sudah mendzalimi dan menyakiti kita ialah menolong diri kita sendiri biar kita bisa melepaskan diri dari rasa marah, kecewa, benci, dan dendam.
Bersambung
__ADS_1