
Setelah Arumi pikirkan, ia akhirnya menerima tawaran Shaka pindah ke kontrakan milik seorang bidan.
Hari ini Shaka membantu Arumi pindah ke kontrakan itu. Arumi hanya membawa pakaian karena semua peralatan rumah tangga punya pemilik kontrakan.
Di rumah kontrakan baru ini juga semua peralatan rumah tangga telah lengkap disediakan pemiliknya.
Setelah berkenalan dengan Bidan Nurul, pemilik kontrakan itu, Arumi pamit untuk membersihkan kontrakannya.
"Biar aku aja yang mengepel lantainya," ucap Shaka mengambil pel dari tangan Arumi.
"Aku aja, Shaka. Masa kamu, nggak enak akunya."
"Kenapa nggak enak? kurang micin ya," ucap Shaka sambil tertawa.
Sebelum ke tempat ini, Shaka dan Arumi mampir ke supermarket. Arumi membeli bahan makanan buat memasak.
"Kamu udah nolong aku, malah direpotkan juga."
"Aku yang mau, bukan kamu yang minta."
"Baiklah Tuan, sekarang hamba masak dulu," ucap Arumi sambil tersenyum.
Arumi beranjak menuju dapur dan membuat sayur capcai dan udang goreng balado. Semenjak ia tinggal sendiri, Arumi belajar masak. Saat ini rasa makannya udah agak enak.
Hidangan telah Arumi tata di meja makan. Ia lalu menghampiri Shaka yang sedang mengepel teras.
__ADS_1
"Shaka, aku telah masak. Kita makan dulu."
"Nanggung Arumi, tinggal teras aja, Kok."
"Rajin banget. Apa kata karyawan kamu kalau melihat bosnya menyapu dan mengepel, ya?"
"Emang salah kalau aku ngepel. Biar aja pada mau ngomong apa."
Setelah mengepel teras, Arumi mengajak Shaka makan.
"Kalau nggak enak, jangan dicaci ya. Maklum aja, aku baru belajar masak sejak nggak tinggal bersama orang tua."
"Pasti enaklah, nggak ada masakan yang tak enak." Shaka mengambil nasi dan lauknya. Ia makan dengan lahapnya.
Sehabis makan Shaka istirahat sebentar sambil mengobrol. Sore hari menjelang magrib barulah Shaka pulang.
Arumi masuk ke kamar, pikirannya tak enak. Dari tadi ia selalu teringat kedua orang tuanya.
Papa, Mama, Arumi kangen. Apakah Papa dan Mama akan menerima anak Arumi.
Kalian mengenalku lebih baik dari siapa pun dan hanya menginginkan yang terbaik untukku. Akan tetapi, aku buta karena kesombongan dan tidak mendengarkan nasihatmu. Aku mohon Papa dan mama bisa memaafkanku.
Cara kita memandang hidup memang berbeda, tetapi itu tidak berarti kita harus selalu bertengkar. Aku mencintai dan mengagumimu, tolong maafkan aku karena telah membuatmu sakit dengan apa yang aku katakan.
Aku minta maaf karena ternyata membesarkan seorang anak bukan hal yang mudah. Aku minta maaf karena Papa dan Mama harus menghadapi semua kesulitan dan tantangan itu karena memilikiku.
__ADS_1
Arumi mencoba memejamkan mata. Namun pikirannya masih terus pada kedua orang tuanya.
Wanita itu lalu bangun dari tidurnya. Di ambil ponselnya dan menghubungi orang kepercayaan Papanya.
Arumi makin gelisah saat ponselnya tersambung, tapi tak diterima juga oleh orang kepercayaan papanya. Biasanya sekali dihubungi langsung di angkat.
Setelah lebih dari setengah jam Arumi termenung di ruang tamu sekaligus ruang keluarga itu, terdengar suara ponselnya berdering.
Arumi mengambil dan melihat siapa yang menghubunginya. Ternyata orang kepercayaan Papanya itu. Arumi langsung mengangkatnya.
"Selamat malam, Bang. Maaf aku mengganggu,aku hanya ingin tau kabar Papa dan Mama."
"Oh, tuan saat ini, sedang ...."
"Kenapa Papa, Bang."
"Tuan ...."
"Bang, katakan cepat, Papa kenapa?" tanya Arumi makin tak sabar.
"Tuan saat ini masuk rumah sakit, terkena serangan jantung," ucap Alex di seberang.
Arumi merasa tubuhnya lemah mendengar ucapan dari Alex. Ia bersandar ke sofa.
Bersambung
__ADS_1