
Alana menunduk saat Shaka terus memandangi dirinya. Selama ini ia iseng gombalin Shaka karena melihat pria itu yang sangat pemalu. Alana pikir, Shaka tak akan menanggapi candaannya.
"Alana, apa kamu serius menyukai aku?" tanya Shaka.
Alana menegakkan kepalanya menghadap Shaka. Tampak sekali jika gadis itu salah tingkah.
"Aku, aku ...." ucap Alana gugup.
"Aku apa? Kalau kamu emang menyukaiku, kita bisa omongkan ini dengan serius. Aku nggak suka main-main."
"Kak Shaka marah jika aku menyukai Kakak," ujar Alana pelan.
"Alana ... kenapa aku harus marah. Aku malah bangga, gadis secantik kamu menyukai aku."
"Kenapa Kak Shaka tanya lagi?"
"Aku hanya ingin kepastian. Siapa tau selama ini kamu hanya sekadar bercanda. Aku nggak mau dikatakan kegeeran."
"Masa aku yang harus ngomong duluan. Malu dong, Kak."
"Bagaimana seharusnya? Aku yang harus ucapkan suka duluan?"
"Iyalah. Biar aku senang karena ditembak sama pria seganteng Kak Shaka."
Mendengar ucapan Alana, Shaka menjadi tertawa. Alana memandangi Shaka yang tertawa dengan keheranan.
"Kak Shaka bisa tertawa juga?" tanya Alana.
__ADS_1
"Emang kamu kira aku apa? Boneka? Jelas dong aku bisa tertawa."
"Kenapa Kak Shaka selalu diam dan tak membalas kalau aku gombalin. Kakak nggak suka dengan aku?"
"Alana, Saat seseorang mencintaimu, mereka tak harus mengatakannya. Kamu akan tahu dari cara mereka memperlakukanmu. Karena kata-kata tidak pernah bisa menjadi jaminan untuk hubungan yang kuat bertahan. Karena walaupun hari ini kau bahagia karena gombalannya, esok kau bisa tidak terima karena sikapnya."
"Apa itu artinya Kak Shaka juga suka denganku?" tanya Alana.
Shaka makin mendekatkan tubuhnya ke Alana, membuat gadis itu spontan mundur hingga membentur pintu mobil.
Melihat Alana yang salah tingkah, Shaka kembali tertawa. Ia lalu mengacak rambut Alana.
"Jangan pernah bercanda dengan pria lain di depanku, aku posesif dan pencemburu. Aku bisa menghajar pria yang menggoda wanita yang aku cintai."
"Mana aku tau jika Kak Shaka suka denganku?"
"Ah, Kak Shaka ... coba cubit aku."
Shaka mencubit pipi Alana pelan, membuat gadis itu kaget.
"Ini ternyata bukan mimpi. Kak Shaka juga mencintaiku?"
Shaka menangkup kedua pipi Alana, dan mengecup dahi gadis itu. Alana memandangi wajah Shaka yang begitu dekat dengannya.
Badan Alana terasa lemas saat Shaka mengecup dahinya. Baru kali ini ada pria yang berani menyentuh dirinya.
Setelah itu, Shaka mengantar Alana pulang. Gadis itu tampak sangat bahagia setelah mengetahui ternyata cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.
__ADS_1
.................
Sementara itu di kediaman Arumi, wanita itu sedang rebahan saat ada seseorang memeluk dirinya dari belakang. Arumi membalikkan tubuhnya dan melihat Gibran yang memeluk dirinya.
"Mas, kenapa sekarang nggak pernah ngomong sih kalau mau pulang?"
"Aku itu pulangnya mendadak. Kangen kamu."
"Tapi aku jadi kuatir setiap ponsel Mas tak bisa dihubungi."
"Aku nggak akan kemana-mana."
"Aku itu takutnya terjadi sesuatu dengan Mas."
"Jangan kuatir, aku akan selalu menjaga diri ini untuk kamu dan calon anak kita."
"Besok kita periksa kandunganmu. Udah dekat lahiran'kan?"
"Iya, Mas."
"Aku akan tetap di sini hingga kelahiran putra kita. Semua pekerjaan penting telah aku selesaikan."
"Aku senang dengarnya. Aku takut saat akan lahiran, Mas tak ada di sampingku."
Gibran memeluk tubuh istrinya itu. Arumi yang manja, telah kembali. Gibran tidak pernah menganggap manjanya Arumi, beban baginya. Ia malahan bersyukur jika Arumi bergantung dengannya. Sebagai pria ia akan merasa dibutuhkan.
Bersambung.
__ADS_1