
"Pergilah ... aku benci Mas!" teriak Alana.
Hati Gibran terasa sakit dan pedih mendengar ucapan adiknya itu. Salah satu alasan dulu ia mau menerima Arumi karena memikirkan masa depan Alana. Ia ingin adiknya sekolah tinggi, agar menjadi orang sukses.
"Jangan bicara begitu, Dek. Mas tau semuanya salahnya Mas. Maafkan, Mas."
Gibran bukannya pergi, tapi memeluk Alana erat. Adik yang sangat ia sayangi.
"Aku benci,Mas," ucap Alana kembali dalam pelukan Gibran. Namun Alana tak melepaskan pelukan Gibran, saudara yang paling ia sayangi.
Alana, sebagai anak bungsu ia memang agak manja. Alana dekat dengan ayah dan Masnya Gibran. Apapun yang gadis itu inginkan, selalu akan dikabulkan ayah atau Gibran.
"Maafkan, Mas. Mas datang hanya ingin pamit. Mungkin dua tahun atau lebih, baru kita akan bertemu lagi. Semoga saat bertemu, kamu udah nggak membenci Mas lagi."
Mendengar ucapan Gibran, membuat Alana kaget. Gadis itu melepaskan pelukan Gibran dan memukul dada saudaranya itu.
"Mas jahat, jahat ... setelah ayah pergi, sekarang Mas juga akan meninggalkan aku," ucap Alana sambil berurai air mata.
"Mas pergi juga untuk kamu dan ibu. Mas ingin buktikan jika mas juga bisa berhasil tanpa bantuan orang lain."
"Mas mau kemana?" ujar Alana di sela isak tangisnya.
"Mas akan ke Brunei. Dua tahun atau lebih, Mas akan kembali. Ingin membuka usaha. Selama Mas disana, kamu jaga ibu."
__ADS_1
Alana saat ini memang kecewa atas semua yang Gibran lakukan, tapi dari hati kecilnya ia masih sangat menyayangi saudara prianya itu.
Gibran duduk di samping Alana dan mengobrol dari hati ke hati. Gibran memberikan bukti pada Alana jika ia tak pernah meniduri Joana. Semua hanyalah fitnah.
"Jika Mas tak bersalah, kenapa tak berusaha meyakinkan Mbak Arumi untuk membatalkan perceraian. Kenapa Mas mau saja di gugat."
"Karena ini yang terbaik untuk kami. Mbak Arumi pastilah tidak sepenuhnya lagi percaya dengan Mas. Rumah tangga yang dibangun karena saling curiga juga tidak baik."
"Seperti kamu dan Mas saat ini, hatimu belum bisa menerima kesalahan Mas. Jika nanti Mas pergi, semoga luka dan sakit hatimu padaas akan hilang. Begitu juga yang Mas harapkan pada Mbak Arumi."
"Jika selama Mas pergi, Mbak Arumi menemukan jodohnya, bagaimana?"
"Berarti Arumi memang bukan jodoh Mas."
"Tapi cinta tak bisa dipaksakan."
Gibran mencoba kembali bicara dari hati dengan adiknya itu. Alana akhirnya luluh. Ia ingin mengantarkan kepergian Gibran ditemani Arumi.
Walau Alana udah mau bicara, tapi gadis itu tetap menyalahkan Gibran atas semua yang terjadi. Jika saja Mas-nya tidak dibutakan cinta Joana, mungkin semua akan berjalan baik.
............
Arumi datang menjemput Alana. Gadis itu meminta Arumi untuk menemaninya mengantar kepergian Gibran.
__ADS_1
Dengan menggunakan mobil Gibran, mereka menuju bandara. Ibu dan Alana ada di kursi belakang. Sambil menyetir, Gibran mencuri pandang pada mantan istrinya yang kelihatan makin cantik.
Menyadari Gibran yang sering mencuri pandang, Arumi menjadi salah tingkah.
"Mas, bawa mobil itu pandangan harus lurus kedepan. Konsentrasi."
"Aku ingin memandangi kamu hingga bayangan wajahmu selalu bermain dibenakku. Agar aku terus mengingatmu," ucap Gibran.
"Gombal. Apa Mas lupa jika diantara kita tak ada lagi terikat hubungan?"
"Aku akan selalu ingat, karena itu hari terburuk dalam hidupku. Terlambat menyadari cinta, hingga ia pergi meninggalkanku."
"Sudahlah, Mas. Semua itu takdir. Mungkin kita memang ditakdirkan hanya bertemu sesaat."
"Kamu salah Arumi, Mas yakin kita hanya dipisahkan untuk sementara. Suatu saat kita akan kembali bersama."
Penyesalanku adalah menerima orang yang salah, dan menolak orang yang tepat.
Arumi memandangi wajah Gibran. Pria itu serius mengucapkannya. Tidak tampak kebohongan.
Apakah mas Gibran sebenarnya memang mencintaiku? Apakah ia baru menyadari itu?
Bersambung
__ADS_1