
"Joana ... " ucap Arumi. Wanita itu sedang menggendong seorang bayi mungil yang masih merah.
"Bahagia sekali pastinya kamu dan Gibran saat ini."
"Apa maksud perkataanmu, Joana?"
"Seharusnya yang mengandung anaknya Gibran itu aku. Kami telah menjalin hubungan tujuh tahun lebih."
"Mungkin Mas Gibran bukan jodohmu," lirih Arumi.
"Kamu bisa berkata begitu karena bukan sebagai korban. Coba jika kamu yang berada di posisiku. Apa kamu bisa menerima? Di khianati dalam masa pernikahan yang baru dua tahun, kamu udah nggak tahan. Kabur dan sempat menggugat cerai'kan?"
"Joana, kamu dan aku berbeda. Kamu masih berstatus pacaran. Sedangkan aku telah terikat pernikahan. Kamu juga tau segalanya. Kamu tau jika Gibran telah menikah, dan masih tetap mau menjalani hubungan dengannya. Siapa yang salah? Kamu yang menggali kuburan buat dirimu sendiri."
"Aku tidak pernah tau jika kamu telah menjalin hubungan dengan mas Gibran. Lagi pula ia tidak pernah mengatakan jika ada kekasih. Jika aku tau, tak mungkin aku mau menikah dengannya. Namun kamu, sudah tau Mas Gibran telah menikah tetap aja mau dijadikan simpanan," ucap Arumi dengan sedikit emosi.
__ADS_1
Selama ini ia telah memendam semuanya. Tak ingin berdebat dengan Joana. Namun kali ini ia tak akan mengalah.
Arumi telah memikirkan semuanya. Ia akan memperbaiki semuanya demi buah hatinya. Kehilangan Papa membuat Arumi sadar arti dari seorang bapak.
"Oh, jadi kamu ingin mengatakan jika aku yang salah."
"Kamu yang menyimpulkan sendiri. Aku tak mengatakannya. Karena bagiku, baik kamu atau mas Gibran ada andil dalam kesalahan ini."
"Sombong sekali kamu, Arumi. Apakah kamu yakin jika Gibran tidak akan mengulangi lagi perbuatannya? Sekali pria berkhianat besar kemungkinan akan mengulangnya lagi."
"Kesalahan pertama adalah ‘learning mistake’, tetapi kesalahan kedua dan berikutnya adalah ‘stupid mistakes."
Gibran yang menjawab ucapan Joana. Arumi memandang kebelakang, tampak Gibran yang berdiri dengan kantong obat yang baru ditebusnya.
"Apa kamu sudah yakin dengan ucapanmu, Gibran. Kamu lupa jika aku yang meminta agar nggak memiliki anak dari Arumi. Itu supaya kamu bisa berpisah dengan Arumi tanpa ada penghalang."
__ADS_1
"Bodohnya aku mengikuti kata-katamu dulu. Namun saat ini aku telah menyadari semua kesalahan dan bersyukur cepat disadari dari semua itu."
"Arumi, aku rasa tak ada yang perlu kita omongkan lagi dengan Joana. Mari kita pergi dari sini."
"Arumi,aku berdoa, semoga kamu merasakan apa yang saat ini aku jalani. Dicampakkan setelah diberi harapan-harapan."
"Jangan. memancing amarahku, Joana. Dalam hal ini, Arumi tidak salah. Yang pantas disalahkan itu, Aku. Arumi nggak pernah tau tentang hubungan kita. Arumi itu korban. Jangan merasa kamu yang menjadi korban. Playing victim."
"Kita berdua yang salah. Kenapa jadi Arumi yang kamu salahkan. Mulai hari ini, aku minta jangan pernah dekati Arumi. Apa. lagi sampai menyakitinya. Aku tak akan pernah tinggal diam."
Gibran menggenggam tangan Arumi membawa nya meninggalkan Joana. Wanita itu memandangi kepergian Arumi dan Gibran dengan hati yang dongkol.
Seharusnya tangan aku yang kamu genggam, bukan Arumi. Aku yang ada disampingmu dan rmenemani kamu melewati hari.
Bersambung.
__ADS_1