CINTA YANG DIABAIKAN

CINTA YANG DIABAIKAN
Bab 59. Pemakaman Papa


__ADS_3

Gibran langsung menghubungi temannya yang berada di Jakarta. Dari temannya ia tau jika Papa Arumi masuk rumah sakit.


Mendengar kabar itu, Gibran jadi kuatir. Ia meminta temannya mencari tahu kabar selanjutnya mengenai Arumi dan keluarganya.


Arumi masih terus menangis di depan jenazah ayahnya. Para keluarga yang melihat perutnya yang sudah membesar, menjadi bertanya-tanya. Siapakah bapak dari bayi yang Arumi kandung?


Setelah jenazah dimandikan, Arumi mengikuti, naik ke mobil ambulan. Shaka mengikuti dari bekakang.


Sampai di pemakaman, Shaka ikut masuk ke liang lahat untuk menguburkan jenazah Papa. Setelah itu Shaka naik dari dalam kubur. Ia menurunkan pasir untuk menutupi jenazah.


Arumi tak bisa lagi menahan kesedihannya. Tubuhnya luruh menyentuh tanah. Terduduk diatas tanah.


Mama mendekati Arumi dan membantunya kembali berdiri. Tapi tenaga Arumi yang lemah, tak mampu menopang tubuhnya. Ia tetap duduk di pasir.


"Papa ... maafkan Arumi. Kenapa Papa cepat meninggalkan Arumi," gumam Arumi.


"Sayang, ikhlaskan kepergian Papa, Nak," ucap Mama.


"Semua salahku," lirih Arumi.

__ADS_1


"Bukan, Nak. Bukan salah kamu, semua ini sudah menjadi suratan takdir," ucap Mama.


Arumi baru menyadari arti kehilangan seorang ayah. Dulu saat Alana menangis, ia menasihati agar Alana tabah dan bisa menerima semua kenyataan yang terjadi dengan lapang dada.


Sekarang baru ia rasakan, jika itu memang sakit. Kita hanya bisa menasihati saja, dan jika itu terjadi pada diri kita, belum tentu bisa kita menghadapinya dengan sabar dan tabah.


Alana yang mendapat kabar jika Papa Arumi meninggal langsung ke rumah. Namun saat sampai di rumah Arumi, jenazah telah dibawa ke pemakaman.


Alana yang datang bersama ibunya kaget melihat perut Arumi yang membesar. Makin kaget saat melihat Shaka membantu Arumi berdiri.


Apakah mbak Arumi telah menikah lagi. Secepat itukah ia melupakan cintanya pada mas Gibran.


"Alana ... Papa. Papa pergi. Mbak baru tau sekarang bagaimana sakitnya kehilangan Papa,"lirih Arumi.


"Mbak, seperti yang pernah mbak katakan padaku, semua itu sudah menjadi suratan Tuhan. Kita harus bisa menerimanya dengan lapang dada. Tuhan tidak akan menguji umatnya melebihi kemampuan."


Alana melonggarkan pelukannya saat merasakan perut besar Arumi. Ia takut akan menyakiti anak dalam kandungan Arumi.


"Mbak hamil ...? tanya Alana. Ia tak bisa lagi menyembunyikan keingin tahuannya.

__ADS_1


Ibu yang berdiri di samping Alana memukul pundak Alana pelan dan menggelengkan kepalanya. Ibu juga sebenarnya ingin tahu keadaan Arumi. Namun ini bukan waktu yang tepat buat bertanya.


Namun di luar dugaan Ibu, Arumi memeluk tubuh Ibu erat sambil berurai air mata.


"Maafkan Ibu, maafkan aku. Aku nggak bermaksud menyembunyikan semua ini. Aku takut mas Gibran nggak mau menerima anak ini."


Ibu dan Alana kaget mendengar ucapan Arumi. Alana kembali mendekati Arumi dan mengusap perut wanita itu.


"Apakah ini berarti anak mas Gibran?" gumam Alana, tapi masih dapat ditangkap oleh Arumi. Ia menganggukkan kepalanya.


Alana yang sedang mengusap perut Arumi menjadi sangat kaget. Ia lalu memandangi Arumi intens.


Ibu yang menyadari Alana akan marah, kembali mengusap lengan putrinya itu.


"Alana, ini bukan saat yang tepat untuk berdebat. Mbak Arumi sedang berduka. Kita bisa tanyakan alasan kenapa ia sembunyikan ini nanti."


Ibu memeluk bahu Arumi membawanya mendekati makam Papa. Pemakaman telah selesai dilaksanakan. Ustad akan membacakan doa. Mama Arumi yang duduk di dekat makam tak berhenti menitikkan air mata.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2