CINTA YANG DIABAIKAN

CINTA YANG DIABAIKAN
Bab 63. Baby Boy


__ADS_3

Gibran mengajak Arumi masuk. Mama tadi mengatakan jika Arumi semenjak Papa meninggal makannya jadi nggak teratur.


"Kita makan dulu, setelah itu ke rumah sakit. Kontrol kehamilanmu. Aku ingin melihat perkembangan dari anak kita."


Arumi yang masih belum bisa percaya akan apa yang terjadi, hanya mengikuti kemana Gibran membawanya.


Gibran mengambil sepiring nasi dan lauknya. Ia lalu menyuapi Arumi. Wanita itu menyantapnya dengan perlahan.


"Kamu harus banyak makan,Arumi.Ada satu nyawa yang menumpang hidup bersamamu."


"Mas ...." panggil Arumi.


"Ya, ada apa?"


"Apa Mas tidak kerja. Kemarin Mas bilang, nggak akan kembali ke Indonesia sebelum berhasil mengembangkan usaha temannya, Mas."


"Emang begitu rencana awalnya. Namun apakah Mas bisa menahan diri setelah mendengar Papa meninggal."


"Mas ... udah makannya, kenyang." Gibran menambahkan nasi dan lauk buat dirinya.


Mama Arumi bergabung bersama anak dan mantan menantunya itu.


"Mama, maaf... aku makan duluan," ucap Gibran.


"Nggak apa. Mama senang Arumi udah mau makan," ujar Mama.


"Ma, aku mau bawa Arumi ikut denganku ke Brunei. Apakah mama izinkan?"


"Semua tergantung Arumi. Jika ia bersedia, mama pasti izinkan."

__ADS_1


"Kita udah pisah, Mas."


"Kita akan menikah lagi besok. Kamu bersedia'kan?"


Arumi memandangi wajah mamanya. Tampak mama menganggukan kepalanya sambil tersenyum.


"Jika kita menikah lagi, aku akan tetap di sini. Mama sama siapa kalau aku ikut Mas."


"Mama bisa ikut, kalau mau."


"Mama di sini saja. Kalian saja yang pergi."


"Tapi aku nggak mungkin meninggalkan Mama seorang diri."


"Apakah itu berarti kamu bersedia menikah kembali denganku?" Arumi hanya mengangguk sebagai jawabannya. Gibran tak dapat menyembunyikan rasa bahagianya. Langsung.memeluk Arumi.


...........


Di Rumah Sakit.


Gibran dan Arumi masuk ke ruang dokter setelah nama Arumi dipanggil perawat. Dokter menanyakan keluhan apa yang Arumi rasakan.


Arumi mengatakan saat ini sudah nggak ada keluhan, saat awal kehamilan ada merasakan mual, muntah dan sulit makan. Namun semua udah mulai jauh berkurang saat ini.


Dokter meminta Arumi naik ke tempat tidur. Gibran membantu mantan istrinya itu naik.


Dokter meminta Gibran dan Arumi melihat ke layar monitor. Dokter menjelaskan semua hal yang dianggap penting.


"Lihat ini Bapak, Ibu ... jenis kelamin anaknya laki-laki. Ini terlihat dari bentuk kelaminnya ini." Dokter menjelaskan semua secara detail.

__ADS_1


Gibran tampak takjub dengan apa yang ia lihat. Dari mulutnya tak berhenti mengucapkan syukur. Setelah pemeriksaan dirasakan cukup, Dokter meminta Arumi kembali duduk.


"Jadi anak kami laki-laki, Dok?"


"Ya, seperti yang bapak lihat tadi."


"Bagaimana kandungan istri saya," tanya Gibran. Arumi memandangi wajah Gibran saat mengatakan istri saya.


"Sehat, ibu dan bayinya sehat. Cuma ibunya perlu lebih banyak sedikit makannya. BB ibu-nya kurang untuk ukuran ibu hamil enam bulan."


"Baiklah,Dok."


"Saya resepkan vitamin buat ibunya. Jangan lupa di minum."


"Ya, Dok. Terima kasih." Gibran dan Arumi serempak mengucapkannya.


Setelah menerima resep dari Dokter dan bersalaman, Gibran mengantre buat menebus resep.


Arumi di minta duduk menunggu. Saat Arumi sedang asyik dengan ponselnya terdengar suara seorang wanita.


"Aku pikir kamu akan meminta cerai dari Gibran, ternyata malah hamil. Kenapa baru kepikiran saat ini memiliki anak?"


Arumi menghentikan kegiatannya, memandang kearah asal suara. Arumi kaget melihat siapa yang mengajaknya bicara.


"Joana ...." ucap Arumi kaget.


Bersambung.


Sedang apakah Joana di rumah sakit? Apakah ia akan memengaruhi Arumi? Makin penasaran nggak kelanjutan novel ini. Jangan lupa, nantikan terus kelanjutannya. 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2