
Joana memandangi Alana dan Shaka bergantian. Sekali lagi, ia memandangi Shaka. Joana baru menyadari jika Shaka adalah pria yang sering bersama Arumi.
"Bukannya aku sombong. Namun, aku harus pastikan jika bantuan yang Arumi berikan ini tidak ada maksud tertentu," ucap Joana memecahkan keheningan di antara mereka.
"Emang menurut Mbak Joana, apa maksud Mbak Arumi membantu? Apa yang ia inginkan dari Mbak?" ucap Alana sedikit emosi.
Alana tidak habis pikir, kenapa Joana bisa berpikir jika bntuqn yang Arumi berikan dengan maksud tertentu.
"Aku tau Alana, jika aku nggak memiliki apa-apa. Satu-satunya hartaku yang paling berharga saat ini adalah anakku."
Joana berhenti sejenak, ia menarik napasnya sebelum melanjutkan ucapan. Tampak Alana menunggu ucapannya.
"Aku nggak mau Arumi dan Gibran membantu pengobatan anakku, dengan niat suatu saat anakku yang mereka inginkan sebagai balasnya."
"Dengar Mbak Joana, mereka udah memiliki anak. Bisa saja tahun depan akan memiliki anak lagi. Untuk apa mas Gibran dan Mbak Arumi menginginkan anak anda."
Melihat Alana yang mulai emosi, Shaka menggenggam tangan Alana. Ia menggelengkan kepala saat Alana memandang. Shaka mengisyaratkan agar gadis itu jangan terbawa emosi.
Alana menarik napasnya dalam, dan mengangguk sebagai jawaban permintaan Shaka. Ia kembali memandangi Joana.
"Boleh saya bicara. Ini sebenarnya bukan urusan saya, tapi sebagai calon suami Alana saya ingin meluruskan semuanya." Shaka menghentikan ucapannya sejenak, untuk merangkai kata yang pas.
"Saya mengerti apa yang anda rasakan saat ini. Mungkin dalam hati anda berpikir, nggak mungkin seseorang yang pernah bermasalah dengan anda, membantu anda dengan percuma. Pasti ada maksud tertentu. Begitu'kan?"
Joana menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan ucapan Shaka. Pria itu tersenyum melihat Joana mengakui itu.
"Jika itu yang menjadi ketakutan anda, kita bisa membuat suatu surat pernyataan. Alana yang akan menandatangani sebagai perwakilan dari Arumi," ucap Shaka.
"Nanti akan dinyatakan jika anda tidak ingin ada tuntutan apa-apa atas bantuan yang diberikan. Bagaimana, apakah anda setuju? Kamu juga setuju'kan Lana?" ucap Shaka.
Shaka memandangi Alana dan memberikan senyuman termanisnya. Sebagai jawaban Alana hanya menganggukkan kepalanya.
"Bagaimana Mbak Joana, setuju?" tanya Shaka lagi.
__ADS_1
"Baiklah saya setuju."
"Oke, kalau begitu saya ambil dulu kertas meterai. Di mobil saya ada menyimpannya."
"Kamu tunggu di sini aja, ya. Aku sebentar," ucap Shaka dengan Alana.
Beberapa saat kemudian Shaka datang. Pria itu menuliskan surat pernyataan. Shaka meminta Alana dan Joana menanda tangani.
Setelah tanda tangan, Shaka menyerahkan surat dan uang titipan Arumi.
"Sama-sama enak'kan. Nggak ada lagi curiga," ucap Shaka.
"Aku boleh mengobrol dengan Arumi?" ucap Joana.
"Aku udah katakan dari awal, jika aku nggak izinkan Mbak Joana bertemu mbak Arumi."
"Melalyi ponsel aja. Aku mau ucapkan terima kasih."
"Tunggu aku hubungi Arumi dulu," ucap Shaka.
"Baiklah," ujar Joana.
Wanita itu meminjam ponsel Alana dan merekam suaranya. Ia hanya mengucapkan terima kasih atas bantuan Arumi. Setelah suara Joana di rekam, Alana dan Shaka pamit.
"Jangan lupa, sampaikan ucapan terima kasihku buat Arumi."
"Tentu,Mbak.Bukankah aku udah merekamnya."
"Semoga pernikahan kalian lancar nantinya."
"Terima kasih. Semoga anak anda segera sembuh," ucap Shaka.
Alana dan Shaka meninggalkan rumah Joana. Shaka mengendarai mobilnya menuju sebuah EO untuk bertanya tentang persiapan acara aqiqah anak Arumi dan pertunangannya.
__ADS_1
"Mbak Joana itu masih saja curiga, bukannya bersyukur dibantu," gerutu Alana saat di dalam mobil.
"Joana itu merasa bersalah. Ia sadar telah menyakiti Arumi. Makanya takut Arumi akan membalas melalui bantuan itu," ucap Shaka.
"Nggak bisa juga ia samakan pikirannya dan Mbak Arumi."
"Ia hanya dihantui ketakutan orang-orang akan membalas perbuatannya dulu."
"Terserah apa pikirannya. Namun, aku sebenarnya kasihan lihat keadaan mbak Joana saat ini."
"Semoga dengan bantuan yang Arumi beri bisa meringankan bebannya."
"Semoga, Kak."
Shaka dan Alana sampai di tempat EO. Mereka datang hanya ingin memastikan semuanya akan berjalan lancar.
Setelah dari EO, Shaka langsung menuju toko perhiasan mengambil pesanan cincinnya. Tiga hari lagi acara akan dilangsungkan.
Bersambung
Selamat Pagi. Semoga kita semua dalam lindungan Tuhan.
Mama membawa rekomendasi karya lama mama. Bisa mampir sambil menunggu novel ini update. Terima kasih.
JUDUL NOVEL : ANTARA CINTA DAN KEYAKINAN
Anindya Yasmin tak pernah mengira akan jatuh cinta pada sosok pria bernama Daniello Lucas Dathan sang ketua OSIS yang sangat tampan.
Daniel dengan segala kelembutan dan perhatiannya membuat Yasmin benar benar jatuh cinta.
Tapi cinta mereka tidak bisa berjalan mulus, karena berbeda keyakinan. Walau Daniel sangat menghormati Yasmin dengan keyakinannya dan begitu juga dengan Yasmin.
Orang tua merekalah yang tak bisa menerima semua perbedaan itu. Apakah pada akhirnya Yasmin dan Daniel menyerah pada keadaan. Dan memilih berpisah.
__ADS_1