
Gibran yang mendapat kabar dari temannya jika Papa Arumi meninggal bersiap-siap pulang ke Indonesia.
Gibran juga baru mengetahui jika perusahaan Papa Arumi bangkrut dari media sosial. Ia ingin segera kembali untuk menghibur Arumi, wanita yang ia cintai itu.
Dua hari lagi, baru Gibran bisa kembali ke Indonesia. Hari ini ia akan rapat untuk kerjasama dengan perusahaan besar. Gibran tak mungkin meninggalkan proyek yang sangat ia tunggu ini. Bonus yang dijanjikan temannya cukup besar jika ia memenangkan proyek ini.
Maafkan aku, Arumi. Aku harus menunda kepulangan ke Indonesia. Ini semua juga untuk masa depan kita kelak jika bersatu lagi. Aku akan membangun kembali perusahaan Papa.
...............
Satu minggu kemudian.
Arumi duduk di taman belakang rumahnya. Ia masih sedih atas kepergian papa-nya. Arumi sering tampak termenung. Mamanya sering menghiburnya. Mengatakan semua yang terjadi bukanlah salah Arumi, itu semua takdir dari Tuhan.
Sore hari ini Arumi duduk di taman dekat kolam renang. Kakinya dimasukkan ke kolam. Shaka datang dan ikutan duduk di tepi kolam.
"Celana kamu nanti basah, Shaka. Duduklah di kursi taman itu," ucap Arumi.
"Enak juga bermain air seperti ini. Dingin."
"Kamu nggak kerja?"
"Aku tadi hanya ikut rapat. Setelah itu ke sini. Aku ingat kamu suka banget sama kue brownies ini. Makanya sempatin mampir."
__ADS_1
Shaka membelikan Arumi kue brownies yang diatasnya penuh dengan taburan keju. Arumi langsung menyantapnya.
"Aku heran aja, kenapa seleraku sekarang berubah. Padahal dulu aku nggak suka brownies yang bertabur keju."
"Masa sih?" tanya Shaka.
"Yang doyan banget dengan brownies ini sebenarnya mas Gibran."
"Gibran ...."
"Ya, Mas Gibran. Aku nggak tau kenapa sejak hamil jadi suka brownies ini."
"Mungkin karena anak kamu dan Gibran kangen ayahnya."
"Mungkin juga."
"Aku nggak mungkin menyembunyikan ini. Kehamilan aku nggak bisa ditipu. Kami pisah baru lima bulan dan saat ini aku sedang hamil enam bulan."
"Itu emang lebih baik. Bagaimanapun Gibran dan keluarganya harus mengetahui jika darah daging Gibran sedang tumbuh di rahim kamu saat ini."
Arumi, andai saja kamu saat ini tidak sedang hamil, mungkin aku akan berusaha lebih dekat denganmu. Namun wanita hamil nggak boleh menikah hingga anak yang dikandungnya lahir. Mungkin nanti saat kamu udah melahirkan aku coba beranikan diri mengungkapkan perasaanku.
Tiba-tiba Arumi merasakan pelukan. Ia menjadi kaget. Arumi berpikir Shaka yang memeluk tubuhnya saat ini.
__ADS_1
"Shaka, lepaskan. Nanti ada yang melihat bisa salah paham," ucap Arumi.
"Sayang ...." ucap sang pemeluk. Arumi menjadi bertambah kaget mendengar suara orang yang memeluknya.
Suara mas Gibran. Apakah aku begitu merindukannya sehingga mendengar suaranya?
Arumi berusaha melepaskan tangan yang memeluk bahunya dari belakang. Namun tangan itu begitu erat memeluknya.
Arumi merasakan bahunya basah. Ia lalu membalikkan badannya.
"Mas Gibran ...." ucap Arumi terbata melihat siapa pria yang memeluknya. Ternyata Gibran bukanlah Shaka.
"Maafkan jika aku baru sempat datang."
Arumi tidak bisa menahan tangisnya. Ia langsung terisak. Gibran membawa Arumi ke dalam dekapan dadanya.
Gibran membantu Arumi berdiri dan menuntunnya menuju bangku taman. Tempat favorit mereka berdua dulunya.
"Mas, Papa ...."
"Iya, Sayang. Aku udah dengar. Kamu yang tabah ya. Ikhlaskan kepergian Papa." Arumi memeluk pinggang Gibran dan menangis di dada bidang pria itu.
Tanpa mereka sadari Shaka berjalan perlahan meninggalkan dua insan yang masih saling menyayangi itu melepaskan kerinduan mereka.
__ADS_1
Bersambung.
Bagaimana nih? Apakah Arumi akan kembali bersama Gibran? Nantikan terus kelanjutan dari novel ini. 😍😍😍😍😍