CINTA YANG DIABAIKAN

CINTA YANG DIABAIKAN
Bab 70. Shaka dan Alana


__ADS_3

Arumi dan Gibran meninggalkan Alana dan Shaka berdua setelah beberapa saat mengobrol.


"Maaf Shaka, aku mau ke kamar. Capek banget pinggangku."


"Oh, silakan."


"Maaf Shaka,aku juga mau pamit. Kamu ditemani Alana aja. Aku mau temani Arumi ke kamar dulu," ucap Gibran.


"Oh, nggak apa-apa. Silakan!"


"Kami pamit ya," ujar Gibran kembali.


Arumi dan Gibran masuk ke kamar meninggalkan Alana dan Shaka berdua. Arumi udah ingin istirahat.


Alana memandangi Shaka yang terus menunduk setelah kepergian Arumi dan Gibran.


"Hhhhmmmm ...." dehem Alana.


Shaka memandangi Alana. Namun ia masih diam tanpa bicara sepatah katapun. Ia hanya tersenyum simpul.


"Jangan diam aja dong, Kak!" ucap Alana membuka pembicaraan.


"Aku harus ngomong apa?"


"Kakak tahu nggak?"


"Nggak ...."


"Ya jelas nggak tau, aku'kan belum ngomong," ucap Alana.

__ADS_1


"Jangan diam aja dong, Kak. Memang diam itu emas, tapi ketahuilah suara kamu itu seperti berlian. Mahal banget."


"Kamu bisa aja," ucap Shaka sambil tersenyum.


"Sebenarnya aku saat ini juga capek, Kak."


"Kalau capek istirahat aja. Aku juga akan pamit pulang."


"Aku tuh capek banget. Capek nahan kangen terus sama kamu,Kak!"


"Ternyata kamu Ratu gombal juga. Biasanya cowok yang suka ngegombal itu."


"Kalau harus menunggu cowok yang gombal, aku bisa mati duluan. Buat keluarin kata aja kamu irit. Apa lagi buat gombal,Kak."


"Aku tuh nggak biasa bicara sama cewek. Aku malu jika nanti nggak ditanggapi."


"Emang aku nggak cewek,Kak?"


"Buktinya kak Shaka saat ini bisa bicara denganku."


"Maksudnya gimana ya? Bukan nggak pandai bicara dalam artian sebenarnya. Tapi aku tuh malu kalau harus bicara berdua aja. Aku takut dicuekin dan diacuhkan."


"Emang Kak Shaka pernah dicuekin sama cewek ya?"


"Gimana ya? Bukan dicuekin juga tapi akunya aja yang udah malu duluan. Nggak usah ngomong itu lagi. Udah lama. Lupain aja."


"Kakak nggak usah malu atau minder, karena Tuhan itu sedang pamer melalui Kak Shaka. Makanya dia itu ciptain kakak buat buktiin dia punya ciptaan yang sempurna."


"Jangan gombalin aku terus, Alana. Nanti aku jatuh cinta benaran ama kamu."

__ADS_1


"Bagus dong."


"Usiaku saat ini bisa dikatakan dewasa. Udah 26 tahun. Jika aku menyukai wanita, aku nggak akan mau lama-lama berhubungan tanpa status yang jelas. Aku akan langsung mendatangi kedua orang tuanya. Nggak mau kehilangan lagi."


"Jadi jangan pancing aku, Alana. Kamu masih kecil. Belum wisuda."


"Mancing di kolam. Ngapain aku harus memancing Kak Shaka."


"Aku sebenarnya nggak pemalu, seperti yang orang katakan. Jika sahabatku, pasti tau sifat aku yang sebenarnya."


"Kalau gitu bolehlah aku jadi sahabat Kak Shaka. Handphone saja sanggup simpan foto sampai beribu-ribu, masa hanya untuk menyimpan aku, hati Kak Shaka nggak sanggup?"


"Jangankan menyimpan kamu dihatiku, namamu juga bisa aku abadikan di buku nikah nantinya."


"Duh, Kak Shaka. Meleyot aku jadinya," ucap Alana.


"Apa itu meleyot?"


"Ngomong ama Kak Shaka ini sepertinya aku harus menyiapkan ekstra sabar."


"Apa pertanyaannya Kakak salah?"


"Nggak, cuma masa nggak tau sih artinya meleyot. Meleyot, kata ini digunakan untuk menggambarkan kondisi meleleh terhadap sikap atau kalimat yang diutarakan oleh seseorang."


"Jadi itu artinya."


"Ho'oh."


Akhirnya Shaka mau bicara banyak. Dekat dua jam mereka mengobrol. Setelah itu Shaka pamit.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2