
Arumi dan mamanya hari ini pergi ke salah satu toko perlengkapan pakaian bayi. Sebelum berangkat Gibran meninggalkan uang untuk kebutuhan Arumi dan mamanya.
Arumi asyik memilih pakaian buat bayinya. Tidak menyadari ada Alana dan ibunya. Alana memeluk tubuh Arumi dari belakang.
"Mbak Sayang," ucap Alana. Arumi membalikkan tubuhnya dan tersenyum melihat siapa yang memeluknya.
"Kamu kok tau mbak disini? Sama siapa?" tanya Arumi.
"Mas Gibran yang ngomong. Katanya Mbak mau beli pakaian buat anak hari ini. Aku dan ibu diminta menyusul. Biar bisa bantu milih-milih buat anak pertamanya. Mas Gibran antusias banget. Ini udah transfer uangnya," ucap Alana.
"Kenapa tranfers lagi. Udah Mbak katakan uang yang diberikan cukup buat beli ini."
"Karena Mbak nggak mau terima, makanya ditransfer denganku. Sekalian buat ibu."
"Kenapa sih Mbak nggak diterima? Berapapun Mas Gibran mau transfer terima aja. Jangan sampai kayak dulu lagi. Itu hak Mbak sebagai istrinya."
"Uang dari hasil jualan online Mbak juga udah cukup buat kebutuhan sehari-hari."
"Simpan uangnya Mbak. Aku mau berapapun yang akan dikirim Mas Gibran, Mbak terima. Buat tabungan. Jangan terlalu baik jadi wanita."
"Kamu ini ada-ada aja. Mas Gibran itu, Mas kamu."
"Aku ngajarin gini, agar Mbak dan Mas Gibran nggak terpisah lagi. Aku maunya Mbak jadi iparku. Nggak mau yang lain."
Arumi tersenyum dan mengusap kepala Alana. Ia melihat mama dan ibu Gibran lagi ngobrol. Arumi menghampiri mertuanya dan mencium tangan wanita itu.
"Ibu sehat."
"Sehat, kamu sehat Nak." Ibu mengusap perut Arumi.
"Sehat, Bu. Aku mau pilih perlengkapan buat bayi. Apa ibu mau ikut pilih juga."
"Kamu dan Alana aja. Gibran bilang jangan lupa vidio call biar dia melihat mana yang kamu piih," ucap Ibu.
__ADS_1
"Mas Gibran apaan sih? Masa ngomong lagi sama Ibu. Padahal udah cukup sama aku aja."
"Gibran sangat antusias menanti kelahiran putra pertamanya. Jadi ia ingin semua terlibat. Padahal Ibu udah ngomong, nggak perlu ikut beli pakaian ini. Gibran tetap memaksa."
"Nggak apa, Bu. Aku juga senang Ibu ikut."
"Mbak Arumi, ayo ... aku nggak sabar nih pengin ikutan milih buat jagoan Mbak dan Mas Gibran."
Alana menarik tangan Arumi pelan. Wanita itu akhirnya mengikuti Alana. Mereka berdua memilih berbagai perlengkapan bayi.
Setelah dirasakan cukup, Arumi mengajak Alana dan Ibu ke salah satu restoran.
Saat mereka sedang asyik menyantap makanan, Shaka muncul.
"Selamat siang Mama, Arumi," ucap Shaka.
"Selamat siang, Nak Shaka."
"Shaka, dari mana? Sini makan sekalian," ucap Arumi.
"Shaka, kenalkan ini ... Alana. Adik ipar aku yang paling cantik dan cerewet," ucap Arumi mengenalkan. Setelah itu Arumi mengenalkan ibu mertuanya.
Arumi meminta Shaka duduk sebentar, mengajaknya mengobrol mengenai kasus penipuan yang dilakukan orang kepercayaan papanya.
Shaka menawarkan bantuan pada Arumi untuk menangani kasus penipuan yang dilakukan karyawan papanya.
Pengacara Shaka yang akan mengurus semuanya hingga tuntas. Arumi telah meminta izin Gibran untuk masalah ini.
Gibran menyetujui semua yang terbaik buat perusahaan. Setelah dana terkumpul Gibran berencana akan mengembangkan kembali perusahaan peninggalan orang tua Arumi yang saat ini telah tutup.
"Shaka ... kamu belum ada pasangan'kan?" tanya Arumi tiba-tiba.
"Kenapa? Pertanyaan kamu ada-ada saja," ucap Shaka malu.
__ADS_1
"Alana juga belum ada pasangan, loh," ujar Arumi lagi.
"Apaan sih, Mbak?" ucap Alana malu.
"Shaka ini baik, wanita yang menjadi pasangannya pasti akan bahagia," ujar Arumi lagi. "Ibu pasti nggak rugi dapat menantu Shaka. Ibu setuju'kan?" ujar Arumi lagi sambil tersenyum.
"Ibu terserah aja. Yang penting anaknya suka."
Alana dan Shaka tertunduk malu mendengar candaan Arumi. Diam-diam Alana mencuri pandang ke arah Shaka.
Ganteng juga. Kelihatan baik lagi. Tapi ia menyukai mbak Arumi.
Bersambung
Mungkinkah Shaka mau menerima saran Arumi untuk mengenal Alana lebih dekat lagi? Nantikan terus ya kelanjutan novel ini.
Sambil menunggu novel ini update, bisa mampir ke novel my bestie 😍😍😍😍
KEMBALI KE MASA SMA
(Tita Dewahasta)
Madya gagal dalam rumah tangganya. Mantan suaminya kemudian menikah dengan mantan baby sitter yang bertahun-tahun bekerja padanya.
Dia pun frustasi dan berandai kembali ke masa lalu untuk memperbaiki keadaan. Dalam sebuah perjalanan, kepala Madya terantuk setir mobil.
Beberapa saat setelahnya, dia kembali ke 18 tahun silam.
Dapatkah Madya memperbaiki hidupnya?
Dan bisakah Madya kembali ke masa sekarang, atau dia akan terjebak selamanya di kehidupan baru masa mudanya?
Ikuti kisahnya dalam novel 'KEMBALI KE MASA SMA
__ADS_1