CINTA YANG DIABAIKAN

CINTA YANG DIABAIKAN
Bab 24. Aku Ingin Mengakhiri Semua


__ADS_3

Arumi berjalan menuju kamarnya setelah menyelesaikan sarapan. Mama Arumi mengikuti langkah anaknya. Atas perintah Papanya.


Arumi membaringkan tubuhnya. Mama mengikuti dengan duduk di tepi ranjang. Ia mengusap rambut putri semata wayangnya itu.


Mama tersenyum, sebelum bertanya.


"Mana Gibran? Kenapa datang sendirian?"


"Ma, Aku mau pisah dengan Mas Gibran," ucap Arumi. Mama Arumi kaget mendengar ucapan anaknya itu. Tapi ia segera menetralkan perasaannya.


"Kenapa ingin pisah? Selama ini Mama lihat kamu dan Gibran baik-baik saja."


"Mas Gibran tak pernah mencintaiku."


"Kamu yakin?"


"Mas Gibran memiliki wanita lain. Kekasihnya sejak SMA dan ternyata selama ini, Mas Gibran dan wanita itu tetap berhubungan."


"Mama boleh tanya sesuatu?"

__ADS_1


"Tentu saja, Ma."


"Apakah selama kamu berumah tangga dengan Gibran, ia pernah menyakiti hatimu atau fisik?"


"Nggak. Mama pasti bisa melihat gimana sikap Mas Gibran denganku. Selama ini ia begitu perhatian dan sayang. Tapi ternyata itu semua untuk menutupi kebohongan dan pengkhianatan yang ia lakukan."


"Baiklah jika memang begitu. Tapi kamu udah yakin'kan untuk berpisah."


"Yakin,Ma. Dari pada jika dipaksakan bersama saling menyakitkan.Cinta tak bisa dipaksakan. Aku tak mau jika Mas Gibran tertekan hidup denganku, wanita yang tak pernah ia cintai. Kai juga tak mungkin bersama, itu akan menyakitkan."


"Nanti mama bicarakan dengan Papa."


"Kalau Mas Gibran datang mencariku,Mama.aja yang menemuinya. Aku tak mau."


"Selama ini juga sikap Gibran sangat baik dan perhatian.Tak pernah sekalipun Gibran berkata kasar atau berbuat kasar."


Arumi hanya mengangguk menanggapi ucapan mama. Diakuinya perlakuan Gibran padanya sangat baik, bahkan dibandingkan dengan suami temannya, Gibran jauh lebih baik.


Gibran selalu menuruti apapun yang Arumi inginkan. Gibran juga selalu bersikap manis. Setiap pulang kerja, akan mencium dan memeluk dirinya dulu sebelum mandi.

__ADS_1


Pernah juga Gibran sedang lembur, turun hujan yang sangat deras dan petir menyambar di langit sahut menyahut. Gibran meninggalkan pekerjaannya dan langsung pulang. Semua dilakukan Gibran karena ia tahu, Arumi sangat takut petir.


Di suatu hari pernah juga Gibran harus lembur, dan Arumi ingin ke pesta ulang tahun temannya. Arumi menghubungi Gibran dan mengatakan tak akan pergi jika tanpa dirinya. Gibran juga langsung meninggalkan pekerjaan demi menemani istrinya.


"Gibran itu hanya belum menyadari jika dia juga mencintaimu. Menurut mama begitu."


"Tapi aku sudah nggak mau bersama Mas Gibran lagi. Aku pasti nanti akan curiga setiap kali dia lembur atau keluar kota. Rumah tangga kami pasti nggak akan sama lagi. Dari pada dilanjutkan dan akan saling curiga, lebih baik diakhiri."


"Baiklah, Nak. Sekarang kamu tidurlah. Istirahat. Mama akan bicarakan semua ini dengan papa kamu."


"Ma, aku boleh minta sesuatu?"


"Apa itu, Sayang."


"Jika nanti aku dan Mas Gibran benar-benar harus mengakhiri rumah tangga kami, aku mau mama meminta pada Papa, tetaplah bantu orang tua Mas Gibran. Ayah sangat butuh dana untuk kesehatannya. Alana juga masih butuh biaya buat kuliah."


"Kamu bisa bicarakan sendiri dengan Papa. Jika kamu yang minta pasti Papa akan mengabulkan."


"Nanti aku bicarakan. Saat ini badanku capek. Ingin istirahat."

__ADS_1


Tidurlah. Mama bicarakan dulu sama Papa, nanti kamu yang lanjutkan. Mama mengecup dahi Arumi sebelum meninggalkan kamar putrinya itu.


Bersambung


__ADS_2