DANCE FOR RICH MAN

DANCE FOR RICH MAN
S2. King - Hubungan Yang Renggang


__ADS_3

3 bulan kemudian.


Kedua kaki Alessia sudah sembuh, dan bisa berjalan seperti sedia kala. Hanya saja hubungannya dengan Alpha--adiknya menjadi renggang hingga saat ini. Bahkan Alpha memutuskan pindah kuliah ke Indonesia karena tidak ingin berdekatan dengannya. Alessia tentu merasa bersalah, dan beberapa hari yang lalu dia ingin membatalkan pernikahannya, namun kedua orang tuanya menolak keinginannya.


"Kau masih memikirkan Alpha?" tanya King pada Alessia yang duduk di sampingnya.


Malam itu calon pengantin duduk berdua di taman belakang-rumah Alessia. Mereka berdua duduk di kursi panjang sambil menikmati cahaya bintang yang kerpal-kerlip di langit malam. Cahayanya begitu indah, dan mampu menenangkan setiap orang yang melihatnya.


"Bagaimana aku tidak memikirkannya, jika dia pergi karena aku," jawab Alessia seraya menghela nafas kasar, tatapannya menunduk, menatap kedua tangannya yang saling bertaut di atas pangkuan. "Aku merasa bersalah. Dia mencintaimu, King," lanjut Alessia, lalu mengangkat kepala, menatap King dari samping yang terlihat sangat tampan. Ehem ... kenapa dia sekarang sering memuji pria yang duduk di sampingnya ini? Padahal dulu dia sama sekali tidak pernah melirik King, tapi sekarang ... sepertinya semuanya telah berubah dari mulai pikiran, hati dan perasaannya hanya tertuju pada King. Oh ... apakah dirinya saat ini telah jatuh cinta dan tergila-gila pada King?


Sepertinya Alessia belum menyadari perasaannya sendiri yang sudah jatuh cinta pada King.


"Cinta tidak bisa dipaksakan. Alpha masih kecil, pikirannya belum matang. Aku yakin beberapa tahun lagi dia akan memahami arti cinta yang sesungguhnya dan menyesali keputusannya karena sudah memusuhi saudarinya sendiri," jawab King dengan bijak, seraya memiringkan kepala, menatap Alessia yang terdiam tapi tatapanya terlihat kosong, seolah banyak beban yang mengganggu pikirannya.

__ADS_1


"Al, kau mendengar ucapanku?" tanya King seraya menggoyangkan telapak tangannya di depan wajah Alessia.


"Aku tidak tuli!" sungut Alessia seraya menepi kasar tangan kekar itu.


King mendengus, pasalnya Alessia masih saja ketus padanya, bahkan sampai saat ini dia belum bisa menaklukkan hati wanita pujaannya itu.


Untuk sesaat, kedua manusia itu saling diam. Hanya terdengar suara angin berhembus, seolah menjadi melody kehingan di taman tersebut. Tapi, tak berselang lama, Alessia bersuara.


"Kenapa? Apakah kau ingin berbaikan lagi dengan pria bajingan itu?" tanya King dingin dan datar, wajahnya mengeras, begitu pula dengan kedua tangannya ikut terkepal kuat.


"Tidak, bukan seperti itu maksudku ... aku hanya ..."


"Sudah malam, sebaiknya kau cepat tidur!" ucap King seraya beranjak berdiri, meninggalkan area taman itu, tanpa menoleh pada Alessia.

__ADS_1


"King!" panggil Alessia, sambil menatap kepergian King.


"Kenapa dia marah sih? Aku 'kan hanya bertanya saja," gumam Alessia sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


*


King meninggalkan rumah mewah tersebut dengan perasaan emosi. Bahkan dia membalas sapaan Carlos tanpa menoleh.


"Kalian bertengkar, King?" tebak Carlos, menahan King yang akan membuka pintu mobil.


"Aku tidak marah, hanya saja sedikit kesal!" jawab King seraya berkacak pinggang, lalu mendongak dan menghela nafas panjang. Rasanya itu lelah mengahadapi sikap Alessia yang tidak peka dan tidak mengerti perasaannya.


"Jangan pulang dulu. Kita ngopi bersama. Dan ceritakan masalahmu padaku." Carlos menepuk pundak King beberapa kali, lalu menggiring calon menantunya itu kembali masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


__ADS_2