DANCE FOR RICH MAN

DANCE FOR RICH MAN
Merindu


__ADS_3

"Mike pikirkan sekali lagi karena keputusanmu akan menyakiti hati istrimu." Carlos memberikan nasehat kepada Mike yang sudah dia anggap sebagai adiknya.


Mike diam tidak menjawab, pria tampan itu langsung keluar dari perpustakaan tersebut tanpa mengatakan sepatah kata apa pun.


Carlos menghela nafas kasar seraya menyilangkan kedua tangannya di dada, kedua matanya menatap ke arah luar jendela. Dia sangat hafal dengan sikap Mike yang tegas dan mempunyai pendirian yang teguh, dan ia yakin kalau Mike sedang diam berarti tengah memikiran sesuatu yang besar, dan ia tahu kalau Mike tidak akan mengambil keputusan yang akan merugikan atau menyakiti siapa pun.


Mike berjalan menuju kamarnya yang ada di lantai satu, saat sampai di tangga dia berpapasan dengan Arra.


"Kenapa wajahmu menekuk seperti itu?" tanya Arra menatap Mike dengan lekat.


"Hei!! Dasar bajingan tengik!!" seru Arra kesal karena Mike tidak menjawab pertanyaannya, dan langsung meninggalkannya begitu saja.


Sampai di dalam kamarnya, Mike langsung merebahkan diri di atas ranjang. Ia lelah apa lagi baru saja menempuh perjalanan jauh membuat dirinya merasakan Jetlag, dia harus segera beristirahat agar esok paginya kembali bugar.





__ADS_1




Pagi hari waktu Jakarta.


"Cih! Dia sama sekali tidak mengabariku? Apakah ini yang dia maksud konsekuensi yang harus aku terima! Arghh! Menyebalkan!" Quen membanting ponselnya di atas tempat tidur ketika tidak ada pesan atau panggilan masuk dari suaminya.


"Apakah dia begitu mudah melupakan aku? Oke, kita lihat sampai berapa lama dia tidak menghubungi aku!' Quen bergumam, dia merasa geram dan sangat kesal pada Mike.


"Arghhhh!!!" Quen menjerit kesal karena nyatanya dia yang sudah tidak tahan menghungi suaminya. Akhirnya mengambil ponselnya untuk menghubungi suaminya, setelah menurunkan rasa ego dan gengsi di dalam hatinya.


Quen menempelkan ponselnya di telinga kanannya, sambungan telepon sudah tersambung, Quen memasang telinganya dengan tajam.


Dua detik ...


Dan lebih dari lima detik, teleponnya tidak kunjung di angkat oleh suaminya. Tidak mau menyerah, Quen menghubungi suaminya lagi, dan akhirnya sambungan telepon terhubung.


"Quen ..." suara serak khas bangun tidur menyapa indra pendengaran Quen. Seketika wanita hamil tersebut menelan ludahnya dengan kasar, kenapa otaknya mendadak menjadi omes? Padahal hanya mendengar suara Mike tapi sudah membuat Quen membayangkan percintaan panas dengan suaminya.


"Mike, are you oke?" tanya Quen dengan nada di buat biasa.

__ADS_1


"Why? Kau mencemaskan aku?" Mike di seberang benua sana terdengar terkekeh pelan.


"Emh ... aku hanya ... hanya penasaran saja kenapa kau tidak menghubungiku?!" Quen terdengar sangat kesal.


Tapi, sikap istrinya yang seperti itu membuat Mike merindu.


Mike mengulas senyum, lalu merubah sambungan telepon biasa itu menjadi video call, ia ingin melihat wajah cantik Quen.


"Kau kesal?" tanya Mike sembari melihat wajah Quen yang memenuhi layar ponselnya.


Bibir manis yang mengerucut sebal ke arah kamera itu membuat Mike semakin gelisah, menahan rindu yang menerpa jiwa dan raganya, padahal baru satu hari berpisah dengan sang istri.


"Aku sangat kesal dan marah kepadamu!" balas Quen sewot.


"Kenapa menjadi marah kepadaku? Bukankah ini keinginanmu?" Mike kembali ke setelan awal, ketus dan datar pada istrinya guna menyembunyikan rasa rindunya yang tengah menyelimuti hatinya.


Quen mencebikkan bibirnya, menatap kesal pada suaminya, tapi di dalam hati dia juga sengat merindukan Mike, apa lagi melihat muka bantal Mike yang terlihat sangat hot dan tampan.


"Ya ampun, aku sangat merindukannya." Quen berkata di dalam hati seraya menghela nafas kasar.


****

__ADS_1


Dua-duanya saling gengsi dan egois ...


Jangan lupa like dan dukungan lainnya


__ADS_2