DANCE FOR RICH MAN

DANCE FOR RICH MAN
Lampu hijau


__ADS_3

"Sudah merasa lebih baik, Nyonya?" tanya Quen kepada Cecilia, katika dia sudah selesai memijat kepala wanita itu.


Cecilia tersenyum sambil mengangguk, seraya memutar lehernya ke kiri dan ke kanan, meski rasa sakit kepalanya masih terasa tapi rasanya lebih mendingan setelah di pijat.


"Terima kasih, kenapa kamu begitu baik mau menolongku?" tanya Cecilia sembari menatap semua fashion yang di kenakan wanita muda yang ada di sampingnya itu, mulai dari pakaian, tas, celana dan sepatu.


"Semua yang dikenakan wanita muda ini serba mahal dan limited edition, pasti orang kaya dan sepertinya sangat cocok dengan Mike," batin Cecilia, di tambah lagi wajah Quen sangat cantik.


"Tidak ada maksud apa-apa, bukankah sudah menjadi kewajiban kita untuk menolong sesama," jelas Quen sambil tertawa pelan.


"Hatimu juga baik dan tulus, siapa namamu?" tanya Cecilia menatap Quen.


"Quen Smith, panggil Quen saja," jawab Quen tersenyum simpul.


"Baik, Quen, senang bertemu denganmu. Emh ... apakah kamu ke rumah sakit ini sedang berobat?" tanya Cecilia penasaran.


"Bukan, tapi sedang memeriksakan kandungan. Ah ... itu suamiku, aku permisi, Nyonya, semoga suatu saat kita bertemu lagi," ucap Quen saat melihat Mike berjalan mendekat ke arahnya.


Cecilia sedikit kecewa, ketika mengetahui klaau Quen sudah menikah.

__ADS_1


Karena Mike memakai masker, kaca mata dan topi, jadi Cecilia tidak mengenali putranya sendiri, tapi tidak dengan Mike, pria tersebut membulatkan kedua matanya saat melihat ibunya berada di dekat istrinya.


Cecilia menatap suami Quen dengan kening berkerut, dari postur badan pria itu sepertinya dia sangat mengenalnya, begitu pula dengan cara berpakaiannya.


"Seperti tidak asing dengan suami Quen," gumamnya di dalam hati.


Quen segera merangkul langan suaminya dengan mesra, lalu meninggalkan area rumah sakit tersebut menuju parkiran mobil. Sampai di parkiran, pasangan suami istri itu langsung masuk ke dalam mobil.


"Wanita tadi siapa? Dan kenapa mengajakmu ngobrol?" tanya Mike seraya melepaskan kaca mata dan maskernya lalu meletakkannya ke dalam laci dasboard mobil.


"Aku hanya membantunya meringankan sakit kepalanya, katanya sih vertigo. Lalu dia mengajakku ngobrol," jelas Quen kepada suaminya.


"Tidak mengatakan apa pun, hanya mengobrol biasa. Memangnya ada apa? Kenapa kamu begitu cemas?" tanya Quen penasaran.


"Tidak apa-apa, lain kali jangan berbicara akrab dengan orang asing," jelas Mike seraya melajukan mobilnya, keluar dari area parkiran rumah sakit tersebut.


Karena tidak ingin berdebat, Quen menganggukkan kepala, menyetujui ucapan suaminya.


*

__ADS_1


*


"Ada apa Nyonya?" tanya Josep yang baru datang dari apotek menebus obat majikannya, dan ia melihat Cecilia melamun.


"Tidak ada apa-apa, hanya saja tadi habis melihat seseorang yang pernah aku kenal, tapi aku lupa," jelas Cecilia beranjak dari duduknya di bantu oleh Josep.


"Siapa? Apakah Tuan Mike?" tanya Josep lagi.


"Mike?" beo Cecilia sambil berpikir.


Apakah benar kalau suami Quen adalah Mike? tanyanya di dalam hati.


"Apakah aku salah bicara?" tanya Josep, membantu majikannya berjalan keluar dari lobby rumah sakit itu.


"Tidak." Cecelia menjawab diiringi dengan gelengan kepala. "Mana mungkin pria tadi adalah Mike, tapi kalau pun itu dia, aku setuju kalau dia menikah dengan Quen," batin Cecilia.


Wah, sepertinya Cecilia memberikan lampu hijau atas hubungan Mike dan Quen.


***

__ADS_1


Jangan lupa kasih Like-nya


__ADS_2