DANCE FOR RICH MAN

DANCE FOR RICH MAN
S2. King - Jantungku


__ADS_3

King dan Alessia berpamitan setelah menyelesaikan urusan mereka di gedung bercat putih itu.


"Thanks, Tuan Brown. Bantuan Anda sangat berarti untuk anak-anak di sini," ucap seorang wanita paruh baya--pendiri yayasan anak-anak jalanan tersebut. Saat ini mereka berada di halaman luas  yayasan.


King memberikan donasi berupa uang dan bahan-bahan pokok untuk yayasan tersebut. Dia sudah menjadi donatur tetap di sana sejak fokus mengelola perusahaan ayahnya, tepatnya 5 tahun yang lalu.


"Ini bukan apa-apa, Mom," jawab King merendah, seraya memeluk wanita paruh baya itu sesaat.


"Terima kasih juga untuk Anda Nona cantik. Apakah kau kekasih Tuan Brown?" tanya wanita tersebut memandang  Alessia dengan perasaan senang.


"Iya, kami akan menikah satu minggu lagi," jawab King seraya mengerlingkan sebelah matanya pada Alessia.


Alessia pun menjadi kesal tapi dia tidak bisa menutupi rona wajahnya.


"Bila berkenan datanglah ke pesta pernikahan kami." Alessia tersenyum lalu mengambil sesuatu dari dalam tasnya, sebuah undangan dengan desain mewah di berikan pada wanita paruh baya itu.


"Oh...of course, I would be happy to come." Wanita tersebut menerima udangan itu, lalu memeluk Alessia dengan hangat.


"Semoga kalian selalu di limpahkan kebahagiaan. Garis wajah kalian sangat cocok dan kalian akan selalu bahagia dan mempunyai anak-anak yang lucu," ucap wanita tersebut memandang King dan Alessia bergantian.

__ADS_1


"Amenn," jawab King dan Alessia bersamaan.


"Sebetulnya kami menikah karena dijodohkan," jelas Alessia, membuat King mendengus kesal saat mendengarnya.


"Apa pun itu. Jodoh datang dengan caranya yang tidak di duga. Tuhan sudah mengatur ini semua untuk kalian berdua," jawab wanita paruh baya itu dengan bijak dan sopan.


"Jangan terlalu keras sayang. Pria di sampingmu ini adalah pria baik dan tepat untukmu." Wanita itu mengusap pucuk kepala Alessia dengan lembut, lalu memejamkan matanya sejenak seolah sedang membaca pikiran Alessia.


Alessia melirik King seolah bertanya pada pria tersebut melalui bahasa isyarat, 'apakah Ibu ini mempunyai kekuatan supranatural yang bisa membaca hati dan pikiran orang?' 


King hanya menaikkan kedua bahunya secara bersamaan, karena tidak paham dengan bahasa isyarat  yang di tunjukkan  Alessia.


"Sorry, Mom. Apakah Mom bisa membaca pikiran dan melihat masa depan?" tanya Alessia sangat penasaran.


Wanita paruh baya itu hanya tersenyum menanggapinya, lalu masul ke dalam gedung tersebut tanpa menjawab pertanyaan Alessia.


Alessia melihat kepergian wanita itu dengan tatapan penasaran, lalu beralih menatap King yang di sampingnya.


"Apakah menurutmu semua ucapannya benar?" tanya Alessia pada calon suaminya yang kini meraih tangannya dan menggenggamnya sangat erat.

__ADS_1


"Maybe yes, tapi aku percaya dengan hal positif," jawab King, menarik tangan Alessia menuju mobilnya yang terparkir di halamanan bangunan putih itu.


Alessia mengangguk, dan mencoba untuk mempercayai ucapan wanita paruh baya itu.


*


*


"King, sejak kapan kau menjadi baik dan peduli dengan orang lain?" tanya Alessia ketika sudah di dalam mobil.


"Maksudmu?" King menatap tajam Alessia.


"Maksudku, kau menjadi dermawan seperti ini."


"Tidak semua hal tentang diriku harus kau ketahui Al," jawab King, terdengar ambigu di indra pendengaran Alessia.


"Hei! Apa maksudmu? Jadi kau menyimpan banyak rahasia dariku?!" Alessia berkacak pinggang, melotot tajam pada King.


King terkekeh, lalu mengacak rambut pucuk Alessia dengan asal, "kenapa kau menjadi menggemaskan seperti ini." King masih terkekeh, bibirnya mengembang tanpa paksaan, dan hal itu membuat Alessia semakin terpesona melihat ketampanannya yang berlipat ganda jika sedang tersenyum seperti ini.

__ADS_1


"Ah, jantungku!" batin Alessia ketika merasakan jantungnya berdetak tak karuan.


__ADS_2