
King duduk di depan ruang tunggu operasi sambil bersedekap di dada, dan menyandarkan punggungnya ke dinding yang dingin itu. Salah satu kakinya mengetuk-ngetuk ke atas lantai sesekali melirik jam tangan mewah yang melingkar dipergelangan tangan kirinya. Waktu sudah menunjukkan jam 12 malam. Sudah dua jam lamanya Alessia berada di ruang operasi. King menoleh dan menatap sekitarnya, di mana aunty Arra masih menangis di pelukan Achelio, lalu Alpha tertidur di kursi setelah kelelahan menangis, sedangkan Uncle Carlos sedang berbicara dengan seorang polisi tidak jauh dari sana.
"Berdasarkan penyelidikan, kecelakaan itu murni kecelakaan tunggal di mana putri Anda melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata, hingga membuatnya kehilangan kendali dan akhirnya membanting setir ke kiri dan menabrak pembatas jalan," jelas pria berbadan tambun dan memakai seragam polisi.
"Putriku adalah gadis yang sangat taat dalam berkendara dan mematuhi peraturan lalu lintas. Pasti ada sesuatu yang membuatnya kehilangan kendali," ucap Carlos sambil mengusap wajahnya dengan resah.
"Mungkin putri Anda mempunyai masalah pribadi yang membuatnya emosional. Dan sekali lagi kecelakaan ini murni kelalaian putri Anda, dan sama sekali tidak ada unsur sabotase," jelas polisi tersebut.
"Terima kasih atas penjelasannya, dan maaf sudah merepotkanmu, Pak," ucap Carlos lalu menjabat tangan polisi tersebut.
"Sudah menjadi tugas kami, Tuan. Semoga putri Anda segera keluar dari ruang operasi dan segera pulih kembali," ucap polisi itu sebelum berpamitan.
"Amin, semoga Tuhan selalu memberkatimu," ucap Carlos.
__ADS_1
"Amin." Polisi itu menyahut seraya memakai topinya lagi, kemudian segera berlalu dari sana.
Carlos menghela nafas kasar, ketika polisi itu sudah tidak terlihat. Dia berjalan ke arah istrinya yang terpukul dengan kejadian ini.
"Lio, kamu sudah menghubungi tunangan adikmu?" tanya Carlos seraya mengambil alih Arra ke pelukannya.
"Belum, Dad, aku akan menghubunginya sekarang," jawab Lio lalu mengambil ponselnya untuk menghubungi Dexter dan keluarganya, akan tetapi tak ada satu pun yang mengangkat panggilannya, mungkin karena sudah tengah malam, jadi mereka sudah terlelap.
"Bagaimana hasil penyelidikannya Uncle?" tanya King pada Carlos.
"Al, bukan tipe wanita yang suka ngebut, pasti ada sesuatu yang tidak beres," ucap King sangat yakin.
"Apakah semua ini ada hubungannya dengan Dexter? Soalnya aku sudah berusaha menghubunginya dan keluarganya sejak tadi tapi tidak ada yang menjawab panggilanku," sahut Lio sembari memperlihatkan layar ponselnya yang menghubungi tunangan adiknya.
__ADS_1
"Jika benar begitu, aku tidak akan memaafkan Dexter!" geram Carlos.
Obrolan mereka terhenti saat melihat ruang operasi terbuka, bertanda kalau operasi sudah selesai, dan pasien sudah selesai menjalani observasi, karena tak berselang lama beberapa perawat mendorong brangkar di mana Alessia tergeletak lemah di sana dengan kondisi kepala di balut perban dan kedua kakinya di pasang gips.
Semua orang yang berada di sana mendekat, kecuali Alpha yang masih terlelap di kursi.
"Putri Mommy, kenapa jadi begini?" Tangis Arra kembali pecah saat melihat kondisi putrinya yang memprihatinkan.
"Al." King menggenggam tangan gadis itu dengan sangat erat. Dingin ... itu yang di rasakan King saat menyentuh tangan lembut dan pucat itu.
"Mommy, jangan terlihat sedih, nanti putri kita juga ikut sedih." Carlos memeluk istrinya dengan erat.
"Maaf, semuanya, bisa menepi? Karena kami harus membawa pasien ke ruang rawat," ucap salah satu perawat dengan nada sedikit kesal, karena keluarga pasien menghalangi tugasnya.
__ADS_1
"Baik, kami terlalu panik dan cemas." Lio yang menyahut lalu menyuruh King, dan kedua orang tuanya menjauh, memberikan akses pada beberapa perawat yang akan membawa Alessia ke ruang rawat.