DANCE FOR RICH MAN

DANCE FOR RICH MAN
Sebuah rekaman


__ADS_3

Ting ... Ting ... Ting ...


Bunyi notifikasi dari ponsel Mike dan Carlos membuat para jajaran direksi menoleh kepada mereka berdua. Karena saat ini mereka sedang meeting. Dua pria tampan yang paling di segani di perusaahaan tersebut dengan kompak mengintip ponsel mereka secara bersamaan.


Mike dan Carlos saling pandang lalu kembali memasukkan ponsel mereka ke jas masing-masing setelah melihat isi  notifikasi di posel mereka.


Meeting telah selesai.


Carlos dan Mike berjalan keluar dari ruangan meeting terlebih dahulu. Dua pria tampan itu berjalan bersisian tapi masih dengan jarak yang cukup jauh, karena Mike mual mencium aroma parfum Carlos.


"Sepertinya istri kita saat ini sedang bersenang-senang," ucap Carlos pada Mike.


"Hemmm ... biarkan saja  mereka menikmati waktu dengan memanjakan diri," jawab Mike menatap lurus ke depan.


Carlos menoleh menatap Mike sambil terkekeh pelan.


"Why?" Mike menatap Carlos yang menertawakannya. "Ada yang lucu?"


"Ya, kau yang lucu. Hem ... sepertinya ada yang mulai bucin." Carlos menggoda Mike yang kini  melotot kepadanya.


"Cih! Aku bukan tipe pria yang seperti itu!" Mike masih saja tidak mau mengaku kalau dia sudah ter-Quen-Quen.

__ADS_1


Carlos mengeluarkan ponselnya sembari berkata, "semua ucapanmu sudah aku rekam, bagaimana kalau pulang nanti aku serahkan rekaman ini kepada Quen." Carlos menggoda Mike sambil menaik turunkan alisnya.


Mike menatap tajam pada Carlos, ia pun segera merebut ponsel tersebut. Bisa mati dirinya jika Istri bar-barnya mendengar rekaman tersebut.


"Berikan kepadaku!" Mike masih berusaha mengambil ponsel tersebut.


"Tidak mau!" Carlos segera berlari melarikan diri dari amukan Mike sambil berkata, "ketahuan bucin 'kan, ha ha ha." Carlos memberikan ponselnya kepada Mike.


Mike menyambarnya lalu memeriksa rekaman suaranya yang ada di ponsel Carlos, akan tetapi dia tidak menemukannya. "Di mana rekamannya?" tanya Mike.


"Tidak ada rekaman," jawab Carlos sambil tergelak, seraya merebut kembali ponselnya secara paksa. Lalu ia segera memasuki ruangannya dan mengunci pintunya. Puas rasanya mengerjai asistennya itu.


Sedangkan di dalam ruangan, Carlos tertawa terpingkal-pingkal sampai perutnya terasa kaku.


*


*


"Ahh ... rasanya hari ini puas sekali!" Arra berjalan sambil menggandeng tangan Quen, sambil menoleh pada empat bodyguard yang terlihat kuwalahan membawa belanjaan mereka.


"Tapi, aku belum!" jawaban Quen membuat para bodyguard yang mengikutinya meringis sambil geleng-geleng kepala.

__ADS_1


"Hah? Kamu ingin berbelanja lagi?" tanya Arra sedikit terkejut.


"Tentu saja iya!" Quen menjawab penuh semangat, sambil berjalan memasuki toko tas branded.


 Ketika sudah sampai di dalam toko. Quen menunjuk semua tas branded yang ada di lihatnya.


"Ini ... ini ... ini dan ini ... bungkus!" Quen menunjuk 10 tas branded lalu menyerahkan kartu ajaibnya kepada pelayan toko di sana. Bahkan ia tidak memedulikan harga tas tersebut. Semua ia lakukan sebagai bentuk rasa kecewanya kepada suaminya yang seolah menutupi jati diri darinya.


"Woahhh!!" Arra sampai merinding dan melongo saat melihat total semua tas tersebut.


"Total semuanya $70.000." Salah satu pelayan toko memberikan nota dan kartu ajaib yang sudah di gesek kepada pemiliknya.


"Quen, kau sudah gila belanja segitu banyaknya? Kau tahu 70 ribu dolar kalau di rupiahkan senilai 1 Miliyar lebih." Arra membekap mulutnya karena masih sangat terkejut.


"Mike berkata kalau kartu ini tanpa batas, lalu di mana salahnya?" jawab Quen lalu segera keluar dari toko tersebut diikuti oleh Arra dan beberapa bodyguard.


"Sepertinya ada yang salah dengannya," gumam Arra menatap punggung Quen.


***


 1 M buat belanja tas doang. Jiwa misquen ku meronta-ronta, ha ha ha ha.

__ADS_1


__ADS_2