
Dua bulan kemudian.
"Huek ..." Quen memuntahkan semua isi perutnya pada pagi hari itu. Dia tidak mengerti pada badannya beberapa hari ini yang selalu mual di pagi hari.
"Sayang, kamu baik-baik saja?" Mike menghampiri istrinya yang berada di dalam kamar mandi kamar. Pria tersebut memijat tengkuk istrinya dengan lembut dan penuh perhatian.
Quen menegakkan badannya setelah selesai membahasuh bibirnya dengan air mengalir dari wastafel, kemudian kedua tangannya bertumpu pada wastafel tersebut sembari menghembuskan nafasnya, dan berusaha menetralkan rasa pusing di kepalanya yang selalu mendera saat dia mual dan muntah.
"Aku rasa ada sesuatu di dalam perutku," jawab Quen setelah mengingat kalau dia tidak haid selama 2 bulan.
"Sesuatu di dalam perutmu? Apa?" Mike menatap istrinya dengan lekat, lalu beralih menatap perut rata istrinya.
"Mungkin ada adiknya King." Quen menjawab sambil tersenyum lalu mengusap perutnya yang masih rata.
"Mommy, jangan bercanda!" Mike tidak menyangka kalau dia sebentar lagi akan mempunyai bayi lagi. Kemudian ia memeluk erat istrinya dan mengecup pucuk kepala Quen dengan penuh kasih sayang.
"Kita harus segera ke rumah sakit untuk mengeceknya." Mike menggendong istrinya menuju tempat tidur, dan mendudukkan di tepiannya.
Pria tersebut terlihat sangat bahagia dan sangat bersemangat saat mengambil pakaian ganti istrinya. Dia menggantikan pakaian Quen dengan telaten dan penuh kesabaran. Bahkan dia tidak mengizinkan istrinya bergerak sama sekali.
__ADS_1
"Kamu tidak boleh bergerak nanti kelelahan," larang Mike saat istrinya akan berdiri.
"Honey, jangan berlebihan!" Quen menjadi sebal dengan sikap Mike yang selalu overprotektif kepadanya.
"Apanya yang berlebihan? Sepatutnya kamu bersyukur mempunyai tampan, gagah, kaya raya dan perhatian seperti aku!" Mike memuji dirinya sendiri dengan penuh bangga, kemudian menggendong istrinya lagi keluar dari kamar setelah selesai mengganti pakaian Quen.
*
*
"Daddy ... Mommy kenapa?" tanya King dengan suara cedalnya, menatap ibunya yang digendong sama ayahnya.
"Mommy sakit apa? King ikut!" rengek King meletakkan gadget di atas sofa lalu menghampiri kedua orang tuanya yang berdiri tidak jauh dari sana.
"Di rumah sakit banyak kuman, Sayang. Lebih baik kamu di rumah saja bersama Nany," jawab Mike pada putranya.
"Mike, apakah kamu tidak bisa menurunkan aku?!" kesal Quen karena suaminya sangat berlebihan.
"Tidak ... tidak!" tegas Mike.
__ADS_1
"Tapi, lihat putramu sudah menangis, apakah kamu tidak kasihan kepadanya." Protes Quen pada suaminya,
Akhirnya Mike mengalah dan menurunkan istrinya setelah dia melihat wajah putranya memerah karena menangis tanpa suara.
"Jangan menangis lagi, King. Seorang pria tidak boleh cengeng dan tidak boleh lemah!" Quen berkata sambil memeluk putranya dengan erat.
"Solly, Mommy. King tidak menangis tapi ini adalah air mata," jawab King dengan lucu dan polos sembari mengusap pipi gembulnya yang basah.
"Ah, iya, itu air mata menangis ya?" goda Quen lalu menuntun putranya ke sofa, dan duduk di sana, diikuti oleh Mike.
"Bukan ini air mata biasa bukan air mata menangis," jawab King berusaha untuk mengelak karena tidak ingin dikatai cengeng.
Mike terkekeh ketika melihat kepolosan putranya, kemudian ia mengambil ponselnya untuk menghubungi ibunya agar datang ke rumahnya untuk menjaga King. Walau pun dia sana ada babysitter khusus, tapi Mike tidak mempercayakan putranya sepenuhnya kepada babysitter tersebut.
***
Guys, kalau kisah King di gabung sama lapak orang tuanya gimana? Setuju nggak?
Komentar ya kalau setuju atau tidaknya😁🙏
__ADS_1